Oleh : Verawati, S.Pd
(Pegiat Opini Islam dan Praktisi pendidikan)

Alhamdulillah kita semua tengah berada dalam bulan suci yakni bulan Ramadan. Bulan yang penuh perkah dan ampunan dari Allah Swt. Ramadan kali ini datang bertepatan dengan datangnya  wabah corona. Sehingga aktivitas kita sangat terbatas. Ramadan pun terasa sepi dan sunyi. Tidak ada salat tarawih berjemaah dan juga buka puasa bersama serta aktivitas lainnya. Namun demikian, kita harus menyambutnya dengan gembira dan penuh dengan keimanan. Karena dengan itulah kita akan mampu mengisi Ramadan dengan penuh kesungguhan dan mengharap rida serta ampun-Nya. 

Puasa adalah amalan wajib yang diperintahkan di bulan suci Ramadan ini. Sebagiman firman Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 183) :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” 

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini : “Firman Allah Ta’ala ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia dan ini merupakan perintah untuk melaksanakan ibadah puasa”. Jadi hanya orang yang beriman saja yang diperintahkan untuk berpuasa.

Adapun, definisi puasa secara bahasa artinya menahan diri, tidak bicara, stagnan.  Sedangkan secara syara artinya menahan diri dari perkara yang membatalkan. Seperti makan, minum, jima’, mengisap bubuk halus sejenis tembakau melalui hidung sampai tertelan dan muntah dengan sengaja, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt., sejak terbit pajar hingga terbenam matahari. Sebuah perintah yang terasa berat, akan tetapi dengan landasan keimanan tadi akan mampu untuk dijalankan. Sebab, orang-orang dahulu pun telah diwajibkan berpuasa. Tidak ada kemadaratan yang dialami. Justru sebaliknya, puasa memiliki banyak manfaat bagi tubuh manusia.

Selain itu, puasa juga membentuk manusia yang bertakwa. Artinya orang-orang yang hanya takut, patuh dan tunduk kepada Allah Swt. Maka untuk bisa membentuk takwa tadi, salah satunya adalah dengan bertaubat. Memohon ampun kepada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya)."(QS. at-Tahrim : 8)

Jika kita hubungkan dengan bulan Ramadan ini, maka sungguh sangat tepat. Bahwa bulan Ramadan adalah moment yang sangat tepat untuk kita bertaubat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. :

‘Dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat (berikutnya) serta Ramadan ke Ramadan (berikutnya) pelebur dosa-dosa di antara mereka selama menjauhi dosa-dosa besar.” (H.R. Muslim) 

Hadits di atas memberikan kabar gembira kepada kita bahwa Allah Swt. akan menghapuskan atau mengampuni dosa hamba-hamba-Nya. Tentu ampunan ini akan diberikan jikalau kita bertaubat (kembali). Kembali kepada fitrah manusia yakni menjalani hidup sesuai dengan aturan Allah Swt. Dengan cara niat ikhlas, menyesali segala perbuatan dosa yang telah diperbuat, meninggalkan perbuatan dosa tersebut dan berazam untuk tidak kembali kapada kemaksiatan tersebut serta menjalani kehidupan ini sesuai dengan tuntunan syariat.

Cukupkah diri sendiri yang bertaubat? Sebagaimana dalam QS. at-Tahrim ayat 8 di atas, ternyata seruan untuk bertaubat bukan hanya ditujukan oleh orang per orang saja.  Namun, Allah Swt. menyeru kepada orang-orang yang beriman secara keseluruhan. Sebab, tidak cukup kuat bila hanya seorang diri yang bertaubat sementara lingkungan dan negaranya tidak bertaubat. Misa, kita bertaubat tidak melakukan transaksi ribawi,  akan tetapi masyarakat dan negara masih menerapkan sistem ribawi tersebut. Tentu kita tidak bisa menghindar seratus persen. Sebab, debu-debu ribawi akan tetap berada di sekitar kita dan akan menempel dalam tubuh kita.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita secara pribadi, masyarakat dan negara melakukan taubat. Kembali kepada Allah Swt. dengan cara menerapkan Islam kafah. Sebab, sudah sangat jelas di depan mata, kerusakan yang terjadi, kesempitan hidup yang dirasa yang diakibatkan lalainya kita dari ajaran Allah Swt. Salah satunya adalah adanya wabah corona ini. Berawal dari manusia yang rakus memakan makanan yang diharamkan Allah, maka Allah tunjukan balasannya. Di dunia saja begitu lemahnya kita menghadapi wabah ini, terlebih di akhirat nanti. Kita akan berhadapan dengan sang pemilik corona yakni Allah Swt.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top