Oleh : Sri Gita Wahyuti A.Md
Aktivis Pergerakan Muslimah dan Member AMK

Sepuluh hari pertama Ramadan tahun 1441 H telah terlewati. Walaupun masih dalam keadaan stay at home akibat wabah Virus Corona yang masih melanda negeri ini. Namun kita tidak boleh kehilangan harapan agar Ramadan kali ini bisa benar-benar dapat mewujudkan ketakwaan hakiki.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Adapun makna takwa menurut para sahabat adalah al-khawf min-al-Jalil wa al- 'amalu bi at-tanzil isti'dadan li yawmi rahil atau rasa takut terhadap Allah dan mengamalkan Al-Qur'an sebagai persiapan menghadapi hari akhir.

Takwa harus dibuktikan dengan cara melaksanakan syariah Islam secara keseluruhan tidak hanya pada sebagian aspek saja. Sebagaimana yang terjadi saat ini, dimana hukum Islam hanya terlaksana pada level pribadi saja seperti hukum Islam berkaitan dengan makanan, pakaian, akhlak, keluarga dan sebagian muamalah. Masih banyak hukum syariah lainnya belum bisa dilaksanakan terutama terkait politik dan pemerintahan, ekonomi, tata pergaulan, pidana, dan hukum syariah tentang pengaturan masalah publik.

Selama ini syariah Islam hanya bisa terlaksana pada sebagian aspek saja, padahal semua hukum tersebut merupakan hukum syariah yang bersumber dari wahyu yang tidak boleh dibedakan. Semua harus dilaksanakan sebagai wujud ketakwaan. Hal ini terjadi karena prasyarat pelaksanaannya belum terwujud. Prasyarat tersebut adalah adanya lembaga kekuasaan atau sistem pemerintahan yang menerapkan syariah Islam secara keseluruhan. Itu adalah sistem khilafah. Khilafahlah satu-satunya metode penerapan syariah yang diterapkan oleh para sahabat dan generasi muslim selanjutnya.

Adapun dalam sistem Demokrasi yang diterapkan saat ini, kedaulatan berada di tangan rakyat. Prinsip ini menjadikan manusia sebagai pembuat hukum dan menafikan otoritas Allah Swt. sebagai pembuat hukum yang sebenarnya.

Ketika sistem Demokrasi diterapkan oleh negara, rakyat dipaksa berpaling dari syariah-Nya. Hal ini akan menjerumuskan manusia ke jurang kesengsaraan. Allah Swt. berfirman dalam surat Thaha ayat 124 yang berbunyi,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Artinya: "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."

Menurut Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya, "Berpaling dari peringatan-Ku" memiliki makna, menyelisihi perintah Allah dan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, berpaling, melupakan dan mengambil selainnya sebagai petunjuk.

Sedangkan "fa Inna lagu ma'isyatan dzanka" bermakna tiada ketentraman, tiada kelapangan, dadanya terasa sempit karena kesesatannya. Walau terlihat nikmat namun hatinya diliputi kegelisahan dan kegundahan.

Penolakan terhadap syariah tidak hanya menyebabkan penderitaan di dunia melainkan juga menjerumuskan manusia ke dalam jurang neraka.

Oleh karena itu, untuk menyempurnakan ketakwaan, hendaklah setiap Muslim terlibat secara aktif dalam perjuangan mewujudkan penerapan syariah secara kaffah di bawah sistem Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Itu semua merupakan tuntutan keimanan, penyempurna perwujudan ketakwaan dan merupakan kewajiban dari Allah Swt. Sehingga maksud dan tujuan Allah memerintahkan kaum Muslim untuk berpuasa agar menjadi orang yang bertakwa bisa diwujudkan secara sempurna.

Wallahua'lam bishshawwab.
 
Top