Oleh: Misliani
Praktisi Pendidikan


Alhamdulillah, kita sudah berada di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Sebentar lagi Ramadan akan meninggalkan kita. Ramadan kita istimewa. Meskipun Ramadan tahun ini, kita laksanakan di tengah wabah yang masih melanda. Ada rasa gembira masih bisa  menemuinya dan menjalankan ibadah di dalamnya. Namun, juga ada rasa sedih yang bergelayut akan ditinggalkanya. Sementara kita belum tahu apakah masih bisa bertemu Ramadan di tahun berikutnya. Dan masihkah Allah berkenan mengizinkan kita untuk bertemu Ramadan selanjutnya?


Sementara seiring berakhirnya Ramadan, dan memasuki Lebaran Idul Fitri, sepertinya sudah menjadi kebiasaan dan ajang bagi para pengusaha mempromosikan produknya. Hingga berbagai produk iklan pun berseliweran di media sosial. Mulai dari produk makanan, pakaian, gadget, hingga asesoris dan lainnya. Bagi mereka yang haus akan trend dan gaya hidup, serta orientasi kesenangan dunia mungkin akan mudah tergiur dengan hal itu. Yang menjadi pertanyaaan, bagaimana dengan seorang muslim? Apakah juga ikut tergiur dengan yang demikian? Tidakkah merasa prihatin di tengah wabah yang masih melanda, di mana masih banyak saudara yang membutuhkan uluran tangan kita. Meskipun pada dasarnya, keinginan manusia itu tidak terbatas dan senantiasa menuntut pemuasan. Namun tanpa adanya aturan yang membatasi, maka manusia akan hanyut dengan ketidakpuasan belaka.


Di dalam Islam, sebagai seorang muslim senantiasa berusaha menstandarkan perbuatan yang dilakukannya pada apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi apa saja yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian kita akan bijak menggunakan harta atau rizki kita untuk hal-hal yang bermanfaat, terutama memenuhi kebutuhan pokok kita. Sekiranya kebutuhan pokok pun telah terpenuhi, maka jika ada kelebihannya diberikan kepada orang yang membutuhkan. Sebagai bentuk kepedulian terhadap saudaranya dan memberikan hak saudaranya.

Dengan demikian, tidak mudah bagi seorang muslim untuk mengeluarkan hartanya, hanya sekedar untuk memenuhi berbagai keinginannya saja, meskipun boleh-boleh saja. Namun, di masa wabah yang masih melanda ini, hendaknya kita lebih peduli dan berempati kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan dan turut prihatin dengan kondisi mereka, dengan berbagi rizki kepada mereka. Sehingga meskipun berpuasa di tengah wabah, mereka masih bisa merasakan keberkahan Ramadan dengan terpenuhinya kebutuhan pokok mereka dan dapat menjalankan ibadah.

Terkait kebutuhan pokok rakyat ini, seharusnya negaralah  yang paling bertanggung jawab dan memastikan rakyatnya terpenuhi kebutuhan pokoknya, apalagi di tengah wabah seperti saat ini. Namun sayang, kenyataannya negara belum sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan pokok per individu rakyatnya. Sehingga masih banyak rakyat yang menderita dan masih memerlukan bantuan negara, bahkan uluran tangan dari para dermawan dan orang yang mempunyai kelebihan hartanya.

Seperti inilah negeri kapitalis, di mana rakyat tidak menjadi prioritas utama. Negara lebih memberikan perhatian bahkan bantuannya terhadap para pengusaha dan pemilik modal dengan kepentingan-kepentingan lainnya yang lebih menguntungkan. Sehingga rakyat kekurangan dan tidak terjamin kebutuhan pokoknya. Sungguh ironis!

Namun demikian, semakin ironis bagi seorang muslim yang hanya memprioritaskan keinginannya semata tanpa mempedulikan orang yang ada di sekitarnya yang membutuhkan. Dan hal ini juga sebagai akibat diterapkannya sistem kapitalis di negeri ini. Di mana tidak sedikit kaum muslim, mereka menpunyai kelebihan harta namun kurang peduli dengan saudaranya, bahkan mungkin tidak mau tahu terhadap kekurangan saudaranya. Padahal di dalam Islam, kaum muslim itu bersaudara. Muslim satu dengan yang lain saling membantu dan membutuhkan, bagaikan satu bangunan. Tidak membiarkan saudaranya berada dalam kesulitan atau tidak terpenuhi kebutuhan pokoknya.

Sehingga, jika pun kita berkeinginan tentu akan bijak. Bukan sekedar untuk pemuasan semata, tetapi akan lebih bagus dalam hal yang mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat. Apalagi kita sudah berada di penghujung Ramadan, tentu keinginan yang harusnya kita munculkan adalah Allah berkenan mengizinkan kita berjumpa dengan Lailatul Qodar, malam yang lebih baik dari seribu bulan dan diturunkannya al-Qur'an. Serta keinginan dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun berikutnya.

Keinginan terbesar seorang mu'min adalah semoga Allah mengizinkan umat segera diatur dengan Syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.  Aamiin.

Wallahu'alam.
 
Top