Oleh : Nur Hasanah, SKom 
Aktivis Dakwah Islam



Kecerdasan tinggi, namun minim adab seolah sudah melekat pada generasi saat ini. Generasi yang maunya serba instan, termasuk dalam mencapai kesuksesan. Proses yang panjang dalam pembelajaran, seolah menjadi beban. Jalan pintas sering dilakukan dengan cara-cara yang tidak masuk akal dan di luar dari kebiasaan orang. Inilah protret hitam generasi yang seharusnya menjadi kebanggaan. Kecerdasan yang mereka miliki bila tanpa pembekalan adab dan agama ternyata menyesatkan. 

Seorang youtuber  prank sembako sampah akhirnya tertangkap setelah empat hari bersembunyi dari kejaran polisi. (www.liputan6.com, 9/5/2020)

Dengan alasan ingin menghibur orang, ia melakukan aksi membuat konten youtube yang merugikan, tidak berkualitas dan tidak mencerdaskan. Sangat mengkhawatikan bila orang-orang semacam ini menjadi teladan dan diidolakan. Kerusakan generasi akibat tontonan yang tidak berfaedah akan menularkan kerusakan.

Di masa pandemi Corona masih melanda, banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan sembako. Dia malah melakukan candaan prank sembako sampah. Entah dimana hati nuraninya. Di saat yang lain sibuk memberi bantuan sembako, dia malah sibuk memberi bingkisan sembako sampah.

Perempuan Dalam Jeratan Kapitalis

Kenakalan generasi tidak bisa dilepaskan dari pengasuhan ibu kepada anaknya, mulai dari buaian. Peran ibu sebagai sekolah pertama, menjadi bekal anak-anaknya dalam kehidupan selanjutnya. 

Pengetahuan dan pemahaman ibu tentang standar pendidikan menentukan hasil pembelajaran. Ketika standar pendidikan seorang ibu menggunakan pemikiran kapitalis yang memisahkan agama dengan kehidupan, akan menghasilkan pribadi yang hanya mengejar kepuasan materi, berkepribadian lemah, kurang mampu bersaing karena keterbatasan kemampuan etika dan adab. Hal ini terjadi karena pengajaran agama tidak menjadi standar baik dan buruknya perbuatan.

Kualitas pengasuhan ibu juga menentukan. Di era Kapitalis saat ini, peran strategis perempuan di dalam rumah, banyak dirampas untuk mencapai tujuan pencapaian materi, gaya hidup dan meraih penghargaan. Kesetaraan gender yang selalu dipropagandakan, menciptakan pemikiran bahwa perempuan berkarir memiliki derajat lebih tinggi dibanding perempuan yang hanya beraktivitas di dalam rumah. Hal ini menimbulkan pemikiran bahwa menjadi perempuan karir adalah suatu pilihan yang boleh dilakukan, bahkan bisa menjadi tujuan.

Tuntutan hidup yang semakin tinggi, kesempatan kerja untuk para suami semakin sedikit, mendorong perempuan untuk turut menanggung beban keluarga, menjadi perempuan pekerja. Konsekuensinya, harus meninggalkan tugas utamanya yaitu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya dan pengatur rumah suaminya. 

Kesibukkannya berkarir,  melewatkan kesempatan mendidik anak-anaknya di usia balita. Padahal usia balita adalah usia keemasan. Dimana anak-anak banyak belajar tentang kehidupan, menilai mana yang benar dan mana yang salah, memilih mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Pengasuhan seorang ibu tidak bisa tergantikan. Ibu yang mengasuh dan mendidik dengan kasih sayang kepada anak-anaknya akan berbeda hasilnya dengan pengasuhan dari orang lain, meskipun pengasuhan dari neneknya.
Jeratan kapitalis kepada perempuan menjadi penyebab keterpurukan generasi. Ibu yang seharusnya mengasuh dan mendidik anak-anaknya di rumah telah berganti peran menjadi tulang punggung keluarganya. 

Dalam Islam Perempuan Dimuliakan 

Sungguh, Islam telah memuliakan perempuan. Perempuan sebagai sebaik-baik perhiasan, Allah tempatkan di dalam rumah untuk tempatnya bersosialisasi dan beribadah. Untuk melindungi perempuan ketika berada di tempat umum, Allah jaga mereka dengan aturan penutup aurat, tidak bertabaruj dan menjaga pandangan. Tidak boleh sembarang orang memandangnya. Hanya laki-laki khusus saja yang diberi hak untuk bisa melakukan interaksi langsung dengan perempuan. Perempuan terjaga layaknya mutiara. Tidak boleh sembarang orang bisa melihat dan memegang untuk menikmati keindahannya.
Sebagai aktivitasnya di dalam rumah, Allah beri tugas perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah suaminya. Tugasnya menjalankan visi yang besar yaitu surga. 

“Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka.” (Qs. At-Tahrim: 6)

Butuh ilmu tinggi untuk menjalankan peran ini. Dalam perannya sebagai ibu, Allah beri tugas sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu yang dicontoh dan dipatuhi anak-anaknya mulai dari buaian. 

Ibu menjadi penentu kualitas generasi negara dan agama, sehingga menjadi perempuan pintar adalah suatu keharusan. Tujuannya agar perempuan bisa sukses memerankan perannya. Menghasilkan generasi tangguh dan cemerlang menjadi tujuan utama perempuan di dalam menjalankan mahligai rumah tangga. 

Sebagai imbalan, Allah beri seorang ibu kemuliaan yaitu, menjadi pintu surga bagi anak-anaknya, ridha ibu adalah ridha Allah juga. Anak diperintahkan untuk berlaku baik kepada ibunya. Seorang anak diperintahkan untuk berbakti kepada ibunya sebelum kepada bapaknya. Dalam hadist, Rasulullah menyebutkan 3 kali, ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu, saat ditanya kepada siapa seorang anak harus berbakti.
Dalam tugasnya sebagai pengatur rumah suami, perempuan harus mampu menciptakan suasana rumah yang nyaman bagi seluruh anggota keluarga. Rumah menjadi tempat beristirahat setelah lelah beraktivitas, tempat bercengkama untuk saling menjalin rasa cinta, menjadi tempat pulang yang selalu diingat dan dirindukan oleh anggota keluarga layaknya surga.
Perempuan memiliki peran penting dalam berjalannya keharmonisan keluarga. Menjalankan beberapa peran dalam waktu yang sama, harus mampu dijalaninya. Sebagai Ibu dan teman bagi anak-anaknya serta sebagai istri dan sahabat bagi suaminya. 

Aturan Islam membimbing bagaimana meraih keluarga  harmonis (sakinah, mawwadah warahmah). Keluarga harmonis akan menghasilkan generasi terbaik yang mengerti ilmu dunia tanpa meninggalkan ilmu agama.


Pendidikan Islam Menghasilkan Generasi Cemerlang

Pengaturan standar pendidikan membutuhkan perhatian khusus karena kualitas pendidikan akan menentukan kualitas peradaban. Terbukti Islam pernah mencapai masa kejayaan dengan menggunakan standar pendidikan Islam. Dari pendidikan Islam, telah lahir para ulama yang ahli dalam bidang agama dan ilmu lainnya seperti Ibnu Kaldun, Abbas Ibn Firnas, Ibnu Sina dan lain-lain. Karya mereka masih banyak digunakan sampai sekarang. Sehingga hasil pendidikan Islam masih mempengaruhi peradaban modern ini.
Proses belajar dan mengajar dalam Islam bisa serius dijalankan oleh guru dan murid karena mereka tidak memikirkan pembiayaan. Biaya sekolah menjadi beban negara sehingga semua muslim wajib belajar, tidak dibatasi oleh status penghasilan.

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Bukankankah Islam menjadi harapan dalam memperbaiki kerusakan sekarang? Tidak ada alasan bagi seorang muslim, menolak penerapan Islam kaffah karena ini menjadi kewajiban.
Wallahu a'lam bishshawwab.
 
Top