Oleh : DR. Hj. Septimar P. Subandi, MPd. 
Pemerhati masalah Akhlak Sosial dan Pendidikan

Istilah “influencer” (dari bahasa Inggris “influence” artinya pengaruh) menjadi viral belakangan ini. Hal ini sering digunakan bagi seseorang pegiat media sosial yang dianggap mempunyai pengaruh tertentu terhadap “follower”nya.
Istilah influencer” menjadi semakin menarik untuk dikulik. Untuk disebut “influencer” biasanya ditentukan dari berapa banyak follower di IG, subscriber di You Tube, yang me-re tweet twitter, atau yang me’like’ status di Facebook batasan minimal follower di sosial media. Beberapa artis mempuyai follower hingga 38 juta, luar biasa. Bukan hanya kalangan artis yang berlomba mempunyai follower banyak. Para ustaz juga banyak menggunakan medis sosial untuk menjaring follower. Memang zaman teknologi saat ini, bisa digunakan sebagai sarana untuk memenuhi berbagai keperluan. Media sosial sebagai teknologi digitalpun diakses hampir seluruh kalangan.

Jumlah follower menentukan berapa penghasilan yang diterima oleh para “youtuber”. Satuan unit terkecil nampaknya 1000 views (penikmat atau orang yang menonton content youtube). Berapa nilai setiap 1000 views sangat tergantung daerah/negara mana youtober berada, jumlah subscriber (pelanggan) dan jumlah iklan yang tayang di kanal youtube nya, Di Indonesia setiap 100 views dinilai antara 0.3 sampai 0.8 USD. Kalau di Amerika 1000 views dibayar antara 1-7 USD. Mudahnya kita anggap 1 USD per 1000 views,  maka jika ada 1 juta views akan mendapat semacam fee sebesar 1000 USD atau sekitar 16-17 juta rupiah. Jika lebih banyak lagi bisa dikalkulasi sendiri berapa penghasilan yang bisa didulang. Tak heran jika ada youtuber yang penghasilannya mencapai 6 Milyar perbulan . Maasya Allah. Tentu ini menjadi sebuah profesi incaran terutama kalangan milenial untuk berlomba mengambil porsi sebagai youtuber juga.

Di aspek marketing peran influencer baik sebagai youtuber, selebgram, atau medsos lainnya sangat penting. Para influencer sangat potensial digunakan untuk diberdayakan dalam memperkenalkan produk sebuah perusahaan. Apalagi untuk produk baru yang harus diperkenalkan ke masyarakat. Sebagai model iklan, menghasilkan pundi pundi tersendiri yang juga menggiurkan. Memang sosok seorang influencer amat menentukan jumlah para followernya. Selain itu juga isi atau content dari youtube-nya yang akan dihampiri oleh para calon followernya. Jelas di era serba daring (online) media sosial menjadi sarana sangat potensial untuk bertransaksi maketing serta transfer pengaruh yang sangat efektif bagi seseorang.

Istilah yang juga ramai digunakan saat pilpres bahkan sekarang pasca pilpes juga masih dipakai adalah “buzzer”. Buzzer adalah kata Bahasa Inggris yang berarti lonceng atau alarm, yang berfungsi untuk memanggil, memberitahu dan mengumpulkan orang untuk berkumpul atau melakukan sesuatu. Seiring perkembangan internet dan media sosial kata buzzer diterapkan kepada orang atau akun media sosial tertentu yang mempromosikan kandidat, tokoh, isu, atau produk tertentu untuk diminati, dipilih dan dimiliki masyarakat. Terkadang mereka selalu konsisten mengulas topik/tokoh/produk yang sama, meskipun dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Tujuannya adalah meyakinkan publik terhadap topik, produk dan tokoh yang dikampanyekan. Karena aktivitasnya, para buzzer kemudian dibidik oleh tokoh, perusahaan atau lembaga untuk mengampanyekan diri, produk, atau topik tertentu yang ingin di-endors melalui akun media sosial. Tidak heran, para buzzer ini dibayar atau diberi reward tertentu oleh pemesannya.

Jelaslah memang fungsi “buzzer” untuk membuat berisik di berbagai kesempatan di berbagai media, karena mereka sudah dibayar untuk “berisik” menggiring opini. Jadi istilah “buzzerRp” atau buzzer rupiah hanya mempertegas, bahwa para buzzer hanya mengejar rupiah, meski konten yang “diberisiki” kadang mengandung fitnah yang kejam, berita kadang “hoax” yang sengaja didesain untuk memberi citra negatif kepada serang tokoh yang berlawanan dengan aspirasi tokoh atau pemodal yang membayarnya.

Apakah influencer dan buzzer dapat dikatakan sebuah profesi? Halalkah profesi sebagai influencer dan atau buzzer? Kita simak pendapat beberapa ahli tentang profesi berikut ini, Daniel Bell (1973) mengatakan bahwa profesi adalah sebuah aktivitas intelektual, sedangkan Paul F. Comenisch (1983) menyatakan profesi sebagai komunitas moral. Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) mendeskripsikan istilah profesi sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu. Profesi sebuah keilmuan bertanggung jawab pada keilmuan tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi. Jadi jika diperhatikan, hampir semua ahli mengaitkan istilah profesi dengan etika, moral dan tanggung jawab. Sehingga biasanya sebuah profesi punya kode etik. Misalnya profesi guru, ada kode etik guru, profesi dokter mempunyai kode etik profesi dokter.

Jadi Influencer bukanlah profesi, karena tidak memerlukan sebuah pelatihan dan pendidikan formal untuk dapat menjadi seorang yang mampu mempengaruhi orang lain. Ilmu mempengaruhi diperoleh secara otodidak dan hasil pengalaman olah diri, pikiran dan faktor lainnya. Masalah etika, moral dan tanggung jawab melekat pada profesi yang diembannya. Seorang ustaz dengan materi kajian yang dibawakannya, serta pendekatan yang digunakannya mampu mempengaruhi jutaan orang untuk menjadi lebih baik kehidupan moralnya. Ustaz atau guru memerankan profesinya masing-masing. Tidak sembarang orang mampu menjadi seorang ustadz. Perlu belajar, perlu ijazah dan ada etika serta moral yang harus ditaati. Dengan cara-cara yang sopan dan bertanggung jawab.

Agar influencer mempunyai nilai tambah positif, maka orang tersebut harus mendayagunakan kemampuan mempengaruhinya ke arah yang positif. Menyeru kepada kebaikan dan ketakwaan. Bukan kepada kebathilan dan kehidupan yang glamour sebagaimana telah dilakukan para youtuber berpenghasilan milyaran. Para dai dan ustaz/ustazah yang berhasil dakwah melalui berbagai media sosial dan penghasilannya milyaran diharapkan menggunakannya juga untuk dakwah. Tidak untuk hidup bermewah mewah karena akan kehilangan “zuhud” dan marwahnya sebagai ulama. Alhamdulillah, beberapa ustaz menggunakan dana untuk berbagai stimulan agar semakin banyak orang yang hijrah kea rah lebih baik. Seperti memberi hadiah umroh gratis bagi jamaah yang dapat menghafal beberapa juz Al-Qur’an, menggunakannya untuk mengembangkan usaha dan pengembangan pesantren serta apresiasi positif lainnya.

Berbicara mengenai pengaruh seseorang terhadap orang lain, atau jika istilah influencer digunakan, siapakah infulencer yang paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah? Michael H. Hart dalam bukunya The 100 menetapkan Muhammad saw. seorang nabi dan rasul Allah, sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Hal ini diperkuat oleh ahli hubungan internasional John L. Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, Muhammad saw. adalah seorang yang telah membangkitkan salah satu peradaban besar di dunia. Sebagai seorang pembawa pesan (risalah) Islam, nabi Muhammad telah membawa pengaruh perubahan milyaran manusia sejak beliau masih hidup sampai sekarang, dari kegelapan/kebodohan kepada cahaya Islam. Al-Qur’an adalah panduan nabi Muhammad saw. dalam menyebarkan ajaran Islam. Sebagaimana salah satu ayat Al-Qur’an yaitu QS.an Nahl [16]: 125.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

Nabi Muhammad saw menjadi influencer tidak sendiri, dibantu oleh para sahabat dan keluarganya. Mulai dari istri-istri beliau, Bunda Siti Khadijah, Bunda Aisyah serta saudara sepupu Ali ibnu Thalib. Dan sahabat-sahabat besar lainnya, turut menyebarkan dakwah Islam setelah menerima Islam sebagai agama yang diimani. Abu bakar telah berhasil meng-Islamkan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan.  Begitupun ke-Islaman Umar bin Khattab tokoh besar Quraisy pasti dipengaruhi oleh para influencer dakwah Islam saat itu. Mush'ab bin Umair pemuda tampan dari keluarga terpandang iman kepada Islam, berkat dakwah yang diterima.  Hingga Mush'ab kuat secara kemampuan retorika dan strategi dakwah layak menjadi duta pertama  dakwah nabi ke kalangan pembesar suku di Madinah. Inilah titik awal dakwah Islam ke Madinah dibawa oleh seorang influencer handal sosok tangguh Mush'ab bin Umair.

Dakwah Islam terus berlanjut pengaruhnya tetap besar hingga nabi wafat dan diteruskan oleh para sahabat Abu Bakar, Umar bin Khatab,  Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib sebagai khulafaur rasyidin. Lanjut terus ke era sesudah sahabat (thabiut dan thabiin).  Dan para khalifah Islam dimasanya semua bermisi mengemban dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Pengaruh ajaran Islam terus bergaung dan tersebar ke dua pertiga dunia selama era kejayaan Islam. Hal ini berkaitan dengan karakteristik Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamiin.

Sehingga siapapun hamba Allah yang mengaku muslim wajib mengemban dakwah Islam agar menjadi umat yang terbaik. Sebagaimana seruan Allah dalam QS. Ali Imran [3]: 110.

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."

Jadi untuk seorang muslim, menjadi influencer adalah sebuah keharusan dan kebolehjadian yang harus diemban. Pesan dakwah langsung dari Allah Swt., tanpa batasan follower, setiap dakwah yang disampaikan akan berpengaruh pada jiwa-jiwa yang hanif. Menuntut kembali  dia untuk mendakwahkan dan seterusnya. Jika bakat mempengaruhi sudah terlatih dan qadarallah rezeki orang tersebut menjadi seorang influencer dakwah, maka sungguh tidak boleh disia-siakan. Harus terus digali potensi ini agar menjadi nilai tambah bagi dirinya dan orang lain. Supaya karirnya sebagai influencer berkah, maka tetaplah istiqamah menyeru dan mempengaruhi orang lain untuk senantiasa berbuat lebih baik dan lebih bertakwa kepada Allah. Misi utama influencer fii sabilillah (influencer di jalan Allah) adalah mengajak sebanyak-banyaknya manusia hijrah dari kesesatan ke arah kebenaran hakiki (Islam). Dakwah mewujudkan syariat Islam secara kafah. InsyaAllah bayaran mahal sebagai garansi gantinya dari Allah adalah surga.

Inilah saatnya seluruh umat Islam yang menyadari berbagai problem hidup saat ini, bukan hanya problem individu, masyarakat bahkan negara sebagai problem global. Di saat hukum-hukum Allah diabaikan.  Maka kebutuhan meneladani Rasulullah sebagai influencer dakwah sangatlah penting, manfaatkan teknologi dalam menyebar kebaikan dan dakwah Islam.  Kerena sifat asal teknologi adalah mubah selama tidak bertentangan dengan syariah.  Saat yang menentukan bagi umat Islam mengambil peranan dan peluang tampil mempersembahkan amal terbaik, yaitu amal Rasul dan sahabat serta orang-orang sholeh terdahulu.  Hingga Allah kembali memenangkan Islam yang telah dijanjikan, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an an-Nur ayat 55. 
 
Bagaimana dengan buzzer? Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial. Dalam fatwa tersebut, dijelaskan bahwa setiap Muslim yang bermuamalah di media sosial dilarang melakukan sejumlah perbuatan, di antaranya bergibah, fitnah, adu domba, ujaran kebencian, dan menebarkan permusuhan yang bernuansa SARA. Selain itu MUI juga mengharamkan perbuatan menyebarkan informasi yang salah demi kepentingan tertentu di medsos. Jadi menjadi buzzer di medsos itu haram, baik untuk kepentingan ekonomi maupun untuk kepentingan lainnya. Juga, tidak hanya kegiatan sebagai buzzer, orang yang memfasilitasi kegiatan buzzer dan penyandang dana buzzer juga diharamkan MUI. Apalagi jika buzzer dijadikan “profesi”, nauzubillahi min zalik.

Wallahu a'lam bi shawab.
 
Top