Oleh: Mulyaningsih
(Pemerhati masalah anak, remaja, dan keluarga; Member Amk)


Kembali lagi, kejadian yang mungkin terus akan berulang di dunia ini. Kelayakan dan sebuah penghormatan tak tampak pada segelintir orang yang mencoba keberuntungan untuk menjemput rezeki di negara lain. Seraya menyibak luka lama yang mungkin tak akan pernah sembuh dengan torehan begitu nyata. Sedih, perih, dan miris melihatnya. Sebagaimana berita yang dilansir dari tempo.co bahwa Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan kronologi tiga jenazah anak buah kapal atau ABK Indonesia, yang bekerja di kapal ikan China, dilarung di laut. Peristiwa ini viral di media sosial.

Retno menjelaskan, tiga ABK tersebut merupakan awak kapal pencari ikan Long Xin 629. Pertama, ABK berinisial AR sakit pada 26 Maret 2020. Lantas, yang bersangkutan dipindahkan ke kapal Tian Yu 8 untuk dibawa berobat ke pelabuhan. Belum sampai di pelabuhan, kondisi AR kritis dan meninggal. Jenazah AR dilarung di laut pada 31 Maret 2020.

“Dari informasi yang diperoleh KBRI, pihak kapal telah memberitahu keluarga dan mendapat surat persetujuan pelarungan di laut. Keluarga sepakat menerima kompensasi kematian dari kapal Tian Yu 8,” ujar Retno dalam konferensi pers via online, Kamis, 7 Mei 2020.

ILO Seafarer’s Service Regulation mengatur prosedur pelarungan jenazah (burial at sea). Dalam ketentuan ILO disebutkan bahwa kapten kapal dapat memutuskan melarung jenazah dalam kondisi antara lain jenazah meninggal karena penyakit menular atau kapal tidak memiliki fasilitas menyimpan jenazah sehingga dapat berdampak pada kesehatan di atas kapal. (tempo.co, 07/05/2020)


Gaya Perbudakan Masih Nyata

Peristiwa pada ABK yang jenazahnya dilarung ke laut menjadi viral dan diperbincangkan oleh publik. Perlakuan yang tak adilk dan wajar kerapkali selalu diterima oleh mereka. Layaknya bak budak di zaman dahulu kala. Mereka dipaksa untuk bekerja sepanjang hari, tidur hanya sebentar (3 jam saja) serta minum dan makan yang tak layak. Seperti minum yang berasal dari sulingan air laut. Setiap hari mereka diperlakukan layaknya budak, lain halnya dengan ABK China.

Ternyata, gaya perbudakan tersenut telah lama terjadi. Mereka menganggap bahwa ABK Indonesia tidak memiliki keterampilan yang ahli atau memadai. Hal tersebut yang akhirnya memunculkan tindakan berbeda sebagai contoh adalah kekerasan dan penundaan gaji menjadi hal yang biasa dialami oleh para ABK.

Kemudian kejadian baru yaitu pelarungan jenazah ABK yang telah meninggal mengindikasikan menihilkan kata manusiawi. Mengingatkan pada kita bahwa tenaga kerja Indonesia yang bekerja ke luar negeri kerap kali mengalami nasib yang tragis. Selalu saja menjadi bulan-bulanan para majikan mereka. Dari sini kita melihat bahwa tidak adanya perlindungan dari negara kepada mereka (TKI).

Hal ini membuka mata kita bahwa harga tenaga kerja Indonesia bagi asing amatlah murah. Kemudian ditambah lagi bahwa peran negara untuk memberikan lapangan kerja kepada pribumi amatlah sedikit. Sehingga dengan terpaksa akhirnya mereka mencoba peruntungan bekerja ke negara lain.

Amat berbeda jika melihat dari sisi negeri ini. Para tenaga kerja asing sangat dihormati dan diperlakukan khusus bak anak emas. Hal tersebut tampak dari perlakuan terhadap TKA China. Bak anak emas, mereka disanjung, diizinkan, dan diberi pekerjaan dengan gaji yang fantastis. Yang pasti di atas gaji para pekerja pribumi. Akibatnya, para pekerja pribumi melakukan tindakan yang sungguh beresiko, yaitu mencari pekerjaan ke luar negeĊ•i secara ilegal. Hasilnya bisa kita lihat sekarang, banyak kasus yang akhirnya mencuat ke permukaan.

Amatlah wajar jika perbudakan masih saja kita temui. Dalam sistem kapitalisme ini, tentunya akan menjadi pemantik munculnya kasus tersebut. Karena persoalan dari sisi ekonomi seperti tuntutan untuk mencari nafkah untuk keluarga dan angka kemiskinan menjadi alasan bagi para pekerja untuk tetap bertahan, yaitu bekerja tanpa henti. Namun, perlindungan itu sangat minim bahkan semu baik, pada pekerja formal maupun informal. Hukum yang berlaku masih jauh panggang dari api, sehingga benar-benar tak ada penampakannya. Inilah gambaran nyata kapitalisme, ia tak mampu menjawab persoalan hidup manusia selama di dunia. Dari segala lini kehidupan manusia, salah satunya terkait dengan fakta di atas tadi. Jaminan dan kesejahteraan tak akan pernah muncul adanya.

Peran Nyata Negara

Lantas, masihkah berharap pada sistem yang sudah terlihat sisi kebobrokannya. Yang telah tampak cacatnya sejak lama. Islam mempunyai solusi dan jawaban atas segala masalah ketenagakerjaan dan masalah pengupahan. Sehingga tenaga kerja tidak merasa diperbudak, sejalan dengan Islam yang tak mengenal kata tersebut. Sebagaimana sabda Nabi saw.

“Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Dalam hal ini negara yang bertanggung jawab penuh atas segala yang terjadi pada orang-orang yang dipimpinnya. Terkait pula dengan masalah tenaga kerja ini. Negara dalam hal ini penguasa, haruslah serius dalam hal pengawasan dan penjagaan kepada mereka. Negara harus membuat aturan sehingga kejadian ini tidak terulang lagi. Begitupula dengan para perusahaan atau agen-agen nakal, maka mereka tak berulah lagi dengan melakukan praktik penyelundupan tenaga kerja. Dari sisi tenaga kerja, negara semestinya juga berperan dalam memberi pelatihan dan pembekalan dasar bagi pekerja. Tujuannya, agar mereka memiliki kompetensi mumpuni dalam mengarungi pekerjaan yang akan mereka lakukan. Bukan bermodal nekat dan minim akan kemampuan serta pengalaman.

Dalam Islam, pekerja harus mengerti dan paham terkait dengan kontrak kerja (ijarah). Ijarah adalah memanfaatkan jasa sesuatu yang dikontrak. Seorang pekerja, tentulah yang dimanfaatkan adalah tenaganya. Dalam hal ini perlu kejelasan terkait dengan jenis pekerjaan yang akan dilakukan, batasan waktu, besaran upah, serta tenaganya. 

Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda, “Berikanlah pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

Tergambar betul bagaimana Islam memperlakukan para pekerja. Kejelasan dari sisi berapa lamanya bekerja, melakukan apa, serta besaran upahnya. Sebagaimana hadist di atas menerangkan pada kita bahwa tidak boleh menunda-nunda gaji para pekerja. Amatlah berbeda dengan sistem kapitalisme yang selalu saja menekan para pekerja termasuk di dalamnya adalah menahan gaji mereka. Sungguh zalim dan tega.

Dalam hal ini telah jelas nyata keunggulan sistem Islam dibanding dengan kapitalisme. Islam akan membuat atmosfer sejahtera dan rasa tenang pada pengusaha dan pekerja. Semua sama-sama saling diuntungkan. Semoga masa itu akan segera kita temui bersama. Keseriusan dari seluruh kaum muslimin diperlukan agar kita mampu menerapkannya. Selain itu, memenuhi seruan akidah kita sebagai seorang muslim yang akan menerapkan syariat secara kafah. Wallahu a’lam bishshawwab.
 
Top