Oleh : Mariana, S.Sos
(Guru SMPS Antam Pomalaa-Kolaka)

Istilah New Normal pertama kali digunakan oleh Roger McNamee, menurutnya New Normal atau Normal Baru adalah suatu waktu dimana kemungkinan besar anda bersedia bermain dengan aturan baru untuk jangka panjang. Menurut Wikipedia New Normal adalah istilah bisnis dan ekonomi yang mengacu pada kondisi keuangan setelah krisis keuangan 2007-2008 dan setelah resesi global 2008-2012. Istilah ini muncul dari konteks mengingatkan kepercayaan para ekonom dan pembuat kebijakan bahwa ekonomi industri akan kembali ke cara terbaru mereka setelah krisis keuangan 2007-2008. Istilah New Normal sejak saat itu telah digunakan dalam berbagai konteks lain untuk menyiratkan bahwa sesuatu yang sebelumnya tidak normal telah menjadi biasa. 

Istilah new normal life atau kehidupan normal baru, sejak awal sebenarnya ditujukan untuk normalisasi ekonomi rakyat yang saat itu mengalami krisis. Jika mekanisme ini ditujukan dalam situasi adanya wabah Covid-19, maka hal ini perlu menjadi pertimbangan sebab ada ratusan atau bahkan milyaran nyawa yang akan dipertaruhkan.

Dilansir oleh Merdeka.com, 25/5/2020, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari. Terlalu dini, maksud Hermawan adalah wacana new normal ini membuat persepsi masyarakat seolah-olah telah melewati puncak pandemi Covid-19, akan tetapi kenyataannya belum dan perlu persiapan-persiapan dalam new normal tersebut.

Karena itu, new normal life dalam situasi Covid-19,  perlu mempertimbangkan hal berikut ini: Pertama, Nyawa masyarakat yang terancam. Ungkapan new normal life dipahami oleh sebagian masyarakat adalah situasi normal seperti sediakala sebelum terjadinya Covid-19, sehingga yang terjadi adalah tempat-tempat keramaian kembali dibuka bahkan kerumunan pun tidak dapat dihindari, padahal penyebaran virus corona terus mengalami peningkatan. Jangan sampai wacana new normal life justru menjadi musibah terbesar peradaban manusia, dimana bumi akan kehilangan puluhan juta penduduknya akibat kematian yang disebabkan oleh penularan virus yang tidak terkendali. Flu Spanyol tahun 1918 menjadi pelajaran terpenting umat manusia dimana sekitar 500 juta orang atau sepertiga populasi dunia terinfeksi virus ini. Diperkirakan jumlah kematian mencapai 50 juta di seluruh dunia. Bukan tidak mungkin, jika wacana new normal life ini diberlakukan tanpa edukasi dan sosialisasi yang memadai dari pemerintah maka tragedi flu Spanyol akan kembali berulang bahkan dengan jumlah yang lebih meningkat. Karena itu, new normal life akan sangat berbahaya jika masyarakat tidak menyadari tentang situasi yang mereka hadapi bahwa ada Covid-19 yang berdampingan dengan mereka dan bisa jadi mereka adalah korban berikutnya dari situasi new normal life.

Kedua, Imunitas masyarakat. New normal life seolah memberikan kesan bahwa masyarakat harus berdamai dengan corona, karena itu masyarakat sendiri yang harus mempersiapkan diri dengan penguatan imunitas tubuh atau daya tahan tubuh untuk siap berdamai atau lebih tepatnya bertarung dengan corona. Di tengah situasi belum adanya vaksin tentu wacana new normal life akan sangat rentan bagi individu yang daya tahan tubuhnya lemah. Sebab dalam new normal life pergerakan masyarakat sudah tidak dapat dikendalikan sebagaimana pada waktu PSBB, meski ada anjuran untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan jaga jarak, menggunakan masker, cuci tangan, dan lain-lain. Tapi siapa yang menjamin di lapangan akan terjadi seperti yang diinginkan, apalagi tak ada pengawas dari pemerintah yang turun langsung untuk mengamankan situasi. Tidak ada jaminan juga bahwa seluruh masyarakat menyadari situasi yang terjadi, sebab kenyataannya ada masyarakat yang paham dengan kesehatan tapi tidak sedikit yang juga apatis dengan situasi yang ada. Maka tidak menutup kemungkinan masyarakat yang patuh pun akan terkena imbasnya, apalagi mereka yang sangat rentan apakah karena faktor usia, kesehatan yang menurun karena penyakit, dan lain-lain. Karena itu new normal life ibarat herd immunity, dimana masyarakat dipaksa bertaruh. Jika daya tahan tubuhnya bagus maka dia akan selamat, tapi jika daya tahan tubuh kurang baik maka risikonya adalah kematian. 

Ketiga, Optimalisasi peran negara. Pemerintah harus konsisten dalam mengambil kebijakan untuk melindungi rakyatnya, misalnya saja seruan bersatu melawan corona dengan PSBB, tapi setelah itu ada lagi kebijakan berdamai dengan corona, setelah itu muncul lagi new normal life padahal penularan virus masih terus meningkat. Begitupun pernyataan pencegahan agar masyarakat di rumah saja, kenyataannya masih banyak tempat keramaian yang dibiarkan buka seperti mal, pasar, penerbangan, dan tempat keramaian lainnya. Seolah banyak kebijakan dan penyataan pemerintah sendiri yang inkonsisten. Bagaimana mungkin penularan virus Covid-19 akan berhenti jika banyak kebijakan yang dikeluarkan justru membingungkan publik. Apalagi pelayanan pada rakyat juga sangat minim, di tengah pandemi justru rakyat makin dibebani dengan kenaikan BPJS kesehatan, belum lagi kurangnya perhatian terhadap para pekerja kesehatan yakni tenaga medis mulai dari penyediaan APD yang tidak memadai, gaji perawat yang tidak dibayar, hingga kematian mereka yang tidak ditangisi oleh negara. Yang terpenting apakah pemerintah sudah mempersiapkan infrastruktur pendukung untuk new normal life agar protokol kesehatan tetap dipatuhi oleh masyarakat. Jangan sampai new normal life hanya wacana ikut-ikutan tanpa dibarengi dengan kesiapan yang matang dari pemerintah padahal yang dipertaruhkan adalah jutaan nyawa rakyat. Jangan hanya karena pertumbuhan ekonomi rakyat kemudian dikorbankan sebab new normal life sebenarnya adalah program yang ditujukan untuk perbaikan ekonomi negara setelah krisis.

Karena itu, new normal life pada situasi wabah masih meningkat adalah bentuk kegagalan kapitalisme dalam melindungi rakyat dan gagal dalam mengatasi wabah. Bahkan ketidakpedulian pada nyawa rakyat sangat nampak apabila dihadapkan dengan dua pilihan apakah mementingkan situasi ekonomi atau berupaya keras menjaga keselamatan nyawa manusia. Maka, Jika kapitalisme gagal menyelesaikan masalah wabah dan gagal melindungi nyawa rakyat harusnya kapitalisme diganti dengan sistem yang lebih baik bukan menyuruh manusia untuk mempertaruhkan nyawanya agar selaras dengan keinginan sistem kapitalis. Padahal telah dipahami sistem ekonomi kapitalis selalu menghasilkan krisis dan ketika terjadi wabah, keterpukulannya sampai kesektor riil. 

Negara Pelindung Masyarakat

Pemimpin adalah raa’in yakni sebagai penjaga dan diberi amanah atas bawahannya, tentu pemimpin dalam hal ini adalah mereka yang punya tanggung jawab untuk mengurusi rakyat di bawah pengawasannya. Sebagai junnah yaitu perisai yang melindungi orang-orang yang di bawah kekuasaannya. Karena itu, pemimpin memiliki tanggung jawab melindungi harta, darah, agama, kehormatan dan nyawa rakyatnya. Pemimpin tidak boleh mengabaikan atau bahkan mengorbankan rakyatnya hanya demi kepentingan ekonomi. Sebab dalam Islam kepemimpinan itu adalah amanah yang kelak akan diminta pertanggungjawaban di akhirat, menyia-nyiakan amanah adalah dosa besar. Rasulullah saw. bersabda : "Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus." (HR al-Bukhari dan Ahmad)

Karena itu dalam situasi wabah, dukungan moril, ekonomi, dan motivasi serta doa dari pemimpin dalam mengahadapi Covid-19 tentu sangat diperlukan oleh rakyat. Selain itu pemberian informasi yang akurat dan jelas akan dapat meredam kapanikan yang berlebihan yang tejadi di masyarakat dan pastinya solusi yang ditawarkan oleh pemimpin tidak membuat masyarakat semakin resah.  

Pemimpin dalam Islam akan sigap dalam menangani wabah dan membantu rakyatnya dengan totalitas mulai dari sarana prasarana memadai, pemberian fasilitas kesehatan secara gratis, tenaga medis yang handal, obat-obatan yang dapat menunjang kesehatan pasien serta memberikan fasilitas dan gaji yang layak bagi tenaga medis, sehingga seluruh rakyat menjadi tenang karena terjamin hak hidupnya oleh negara.

Tentunya penanganan ini tidak lepas dari sistem kehidupan yang dijalankan oleh negara, dimana sistem ini menjadi aturan dalam menjalankan aktivitas kenegaraan serta mengatur masyarakat, sistem ekonomi Islam terbukti mampu menyejahterakan masyarakat dalam situasi apapun, dalam kondisi normal ataupun saat ada bencana, misalnya situasi wabah dan itu dapat dibuktikan. 

Bahkan sejarawan Barat pun banyak memuji sistem Islam yang dijalankan negara. “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.” (Will Durant dan Ariel Durant, dalam bukunya The Story of Civilization)

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top