Oleh: Khaulah Ariska

Beberapa bulan terakhir, kita dihebohkan dengan berita terkait banyak sekali aktris yang beranjak hijrah. Tentunya kita tak asing lagi dengan kata ‘hijrah’ bukan? Hijrah dalam arti sederhananya adalah berpindah dari kondisi atau tempat yang buruk ke kondisi atau tempat yang Islami. Para aktris itu menghempas masa lalu, membuang jauh pakaian kurang bahan yang biasa mereka kenakan, menghapus list keduniaan lantas meluangkan waktu menghadiri list panjang kajian, pun beralih ke jalan halal untuk mencari rezeki. Mereka tak tanggung-tanggung bertindak sedemikian rupa, tatkala di luar sana masih banyak yang berpikir panjang bin berbelit-belit menempuh jalan hijrah. Semua ini tentang pilihan. Pilihan atas tiap keyakinan yang tertanam kuat. Memilih menyahut, menghampiri kesadaran yang  tebersit pulih. Memilih menempuh ikhtiar menjadi muslimah yang kata sejati senantiasa setia melekat.


Berbicara perihal pilihan, pada satu waktu, kita hanya bisa memilih satu dari dua pilihan yang tertera. Memilih putih maka hitam akan berpaling. Memilih baik maka dengan sendirinya jahat akan sirna. Begitu pula sebaliknya. Pun apabila memilih menjadi muslimah sejati maka hal-hal yang tak baik akan terhempas.
Muslimah sejati. Pilihan terbaik yang harusnya diambil oleh tiap muslimah. Saat telinga kita mendengar kalimat ini, tentunya akan terngiang terkait ciri-ciri muslimah sejati yang rasa-rasanya tak didapat dengan begitu mudah. Dan memang begitu adanya.  Hal ini karena muslimah sejati bak mutiara yang melalui proses yang begitu panjang. Ia dalam meraih tujuannya tak mudah goyah, kokoh walau diterpa ombak bertubi-tubi.

 Intinya muslimah sejati bukan hanya perihal pilihan mengubah sebutan atau semisalnya, tetapi langkah panjang pengorbanan, serentetan ikhtiar mendekat pada Rabbnya, dan keteguhan hati yang diperoleh dari Sang Maha Pembolak balik hati manusia.

Muslimah sejati adalah muslimah yang kokoh keimanannya pada Allah Subhanahu wata’ala.  Muslimah sejati memilih senantiasa menaati perintah Allah, meskipun ia binasa dalam ketaatan itu. Taat berarti tunduk dan patuh pada aturan-aturan syara’ yang telah Allah gariskan, yang termaktub dalam Al-Qur'an pun Al-hadis. Ia tunduk pada seruan sholat lima waktu yang Allah wajibkan. “Dan dirikanlah sholat, ....” (Q.S Al-Baqarah ayat 43). Ia juga berusaha untuk setia memelihara sholatnya. Karena seperti yang tercantum dalam Q.S Al-Mu’minum bahwa orang yang beriman adalah yang orang yang memelihara sholatnya, di mana pun dan kapan pun.  Muslimah sejati tunduk pada perintah Allah perihal puasa di bulan suci Ramadan. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S Al-Baqarah[2] ayat: 183). Ia tunduk pada perintah Allah perihal menutup aurat yang jelas sekali tertera dalam Al-Qur'an  pun Al-hadis Rasulullah Saw. “...Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka...” (Q.S Ahzab: 59) serta “...Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya...” (Q.S An-Nur: 31). 

 Muslimah sejati juga tunduk pada perintah berdakwah. Ia berusaha untuk menjadi salah seorang peraih keberuntungan sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surah Ali-Imran: 104. “Dan hendaklah di antara kamu ada sekelompok orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang  beruntung”.

 Demikian pula perihal akhlak karimah yang wajib menghiasi tiap tutur maupun tindaknya, ia tetap tunduk, senantiasa belajar untuk memperbaiki.  Muslimah sejati juga tak pikir panjang untuk menjauhi tiap-tiap larangan-Nya walau sebenarnya sangat diinginkan olehnya. Tetapi murka serta azab Allah menghalanginya berbuat demikian. Muslimah sejati juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap tunduk dan patuh menjalankan setiap ibadah lainnya.

Terlalu amat hebat wanita yang memilih menjadi muslimah sejati. They are the great women. Karena bagaimanapun, tiap jalan menghendaki kebaikan adalah jalan yang lebih banyak  dipenuhi onak. Lebih banyak kerikil dan terjalnya. Terlebih lagi, apabila sewaktu-waktu kebahagiaan semu yang tertinggal di belakang memenuhi kepala, memaksa untuk berbalik mengecap. Begitu pula yang terjadi tatkala kita ingin membuka lembar baru kehidupan untuk menjadi seorang muslimah sejati. Kita dituntut untuk mencari atau mengondisikan lingkungan agar tak menghambat meski sangat sulit dilakukan. Kita harus memaksa memperbanyak sahabat salihah meski masih banyak teman-teman masa lalu yang setia. Kita pun harus menambah list ke-akhiratan padahal list keduniaan yang mau tidak mau diraih juga masih menumpuk. Ditambah sewaktu-waktu rasa malas menghampiri. Sungguh banyak sekali ujian keimanan di sana. Maka dari itu, kita perlu mengupayakan semaksimal mungkin agar ikhtiar kita membuahkan hasil. Untuk itu, berikut akan disajikan beberapa upaya untuk menjadi muslimah sejati.

Pertama, berpikir tentang uqdatul kubra. Uqdatul kubra atau tiga pertanyaan mendasar yaitu dari mana kita berasal, untuk apa kita diciptakan, dan akan ke mana kita setelah kematian menjemput. Ketika manusia pada umumnya dan muslimah khususnya sudah senantiasa berpikir dan akhirnya paham  terkait uqdatul kubra, bisa dipastikan dalam tindak, ucap maupun hal lainnya akan sesuai arahan syara’. Muslimah dalam kesehariannya akan selalu merajut hal-hal baik karena ia sadar betul bahwa hidupnya hanyalah untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya ridho Rabbnya serta bahwa kematian akan menjemputnya kapan saja dan kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban atas tiap hal yang ia jalani pada arena pengembaraan ini. 

Kedua, semangat mengkaji Islam. Tiap wanita muslimah harus ditanamkan rasa semangat mengkaji Islam. Salah satunya adalah agar ia mengetahui kewajibannya sebagai seorang hamba dari Sang Khalik, sebagai seorang ibu dari generasi-generasi yang ia lahirkan, dan sebagai seorang istri dari suaminya. Dengan begitu, ia diharapkan bisa memanajemeni waktu agar sesibuk apapun ia di kehidupan rumah tangganya, dakwah tetap menjadi hal istimewa yang ia lakukan dengan penuh cinta, jauh dari rasa malas.  Dan tentunya, dengan tetap mengkaji Islam, ia akan semakin cinta dengan Islam pun Sang Pencipta. Orang-orang yang cinta terhadap sesuatu pasti akan menaati setiap hal yang ada pada yang dicinta tersebut. 
Ketiga, ketika wanita sudah pada tahap mengkaji Islam, ia harus mengupayakan untuk menyeimbangkan agar tiap pemikiran, tiap tutur dan tiap perbuatannya senantiasa berlandas pada aturan Islam. Wanita muslimah juga berusaha untuk tetap istiqomah. Dan salah satu cara untuk istiqomah adalah senantiasa berkumpul dengan sahabat-sahabat salihah. Sahabat yang salihah inilah yang akan memberi upaya preventif dan kuratif agar kita selalu searah tuntunan syara’ serta mengingatkan kita lagi dan lagi perihal pilihan yang telah kita ambil.

Dengan upaya-upaya tersebut ditambah senantiasa berdo’a meminta kepada Allah, insya Allah kita akan menjadi muslimah sejati yang semoga akan terjun berkontribusi dalam kebangkitan Islam. Ini adalah serentetan upaya menghendaki tercapainya kita sebagai muslimah sejati. Sebuah pilihan terbaik nan luar biasa untuk tiap-tiap muslimah. The best choice to be the best woman.
Wallahu alam [sp]

 
Top