Oleh : Yeni Marlina, A.Ma
Pemerhati Kebijakan Sosial dan Aktivis Muslimah

Tak terasa, satu bulan kita manjalani hari-hari di bulan berkah, bulan Ramadan yang Allah menurunkan berbagai keutamaan di dalamnya.  Seluruh umat Islam menanti kehadirannya karna ingin mendulang pahala yang telah dijanjikan Allah.

Spesial ramadan tahun ini, menjadi momentum banyak pelajaran yang bisa dipetik, di saat berbagai masalah kehidupan bukan hanya tataran individu, masyarakat bahkan negara pun tengah dirundung masalah yg tak henti-hentinya. Berbagai krisis, kebijakan yang memberatkan rakyat, proyek-proyek yang sarat menambah hutang luar negeri, dan banyak lagi.  Belum selesai tertangani, Allah datangkan masalah pandami covid-19. Inilah yang saat ini sedang dijalani kaum muslimin di tengah suasana Ramadan. Sebagai tambahan ujian kesabaran dan keimanan tentunya. Siapa yang lulus dalam mensikapinya dan siapa yang tetap merugi tidak membawa pengaruh apa-apa.

Pada Ramadan kali ini kesabaran kita diuji bukan sekadar oleh lapar dan dahaga.  Namun harus terpanggil peduli dengan nasib sesasa, yang tengah berjuang menghadapi beragam cobaan.  Karena negara yang diharap bisa melindungi sangat jauh dari kata peduli terhadap nasib rakyat ini.

Sesaat lagi bulan mulia ini akan pamit. Lama lagi bisa kembali harus menunggu sebelas bulan kemudian. Kita akan bertemu dengan Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Semoga Idul Fitri ini membawa keberkahan bagi kita semua. Pada hari ini sejatinya lahir pribadi-pribadi yang bertakwa. Hasil dari pelaksanaan puasa Ramadan sebulan penuh. Sesuai esensi puasa Ramadan: "la'allakum tattaquun". Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa." (QS al-Baqarah [2]: 183)

Takwa yang diharapkan tentu takwa yang sebenarnya. Demikian sebagaimana yang juga Allah Swt tuntut atas diri kita:

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya, dan janganlah
sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Muslim (QS. Ali Imran [3]: 102)

Idul Fitri identik dengan Hari Kemenangan. Pada hari ini kita merayakan kemenangan (kemenangan hakiki).
Kemenangan hakiki bukanlah semata mampu menahan makan dan minum serta segala hal yang membatalkan puasa selama Ramadan. Namun adalah saat ketakwaan bisa kita raih, yaitu menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. Dengan penuh kesungguhan penyerahan total dalam pengaturan Allah, semata-mata ingin mendapatkan ridhoNya.  Bahagia di dunia selamat di akhirat.

Dengan demikian takwa haruslah total. Harus mewujud dalam segala aspek kehidupan. Takwa juga bukan hanya harus ada pada tataran individual saja. Takwa pun harus ada dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Satu dengan yang lain tidak bisa terpisahkan.

Iman dan takwa merupakan kunci keunggulan masyarakat Islam. Lihatlah, dengan iman dan takwa, Rasulullah saw. dan para sahabat ra. mampu mengubah masyarakat Arab Jahiliah menjadi masyarakat Islam yang unggul.

Setelah Rasulullah saw. berhasil mendirikan Negara Islam di Madinah, ketakwaan hakiki benar-benar terwujud. Lahirlah masyarakat Islam yang unggul, meluas hingga menaungi seluruh Jazirah Arab. Negara yang diwariskan beliau ini kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar ra. dan para khalifah sesudahnya. Saat itu kaum Muslim, di bawah naungan Khilafah Islam, menguasai dua pertiga dunia. Khilafah saat itu sekaligus menjadi negara adidaya yang unggul di berbagai bidang selama berabad-abad lamanya.

Inilah yang berbeda dengan kondisi saat ini. Negeri-negeri kaum muslimin disekat oleh batas teritorial. Hidup dan mengatur kehidupan masing-masing. Sejak keruntuhan Khilafah Islam pada 1924. Ironisnya yang tersisa hanya umat Islam secara pribadi-pribadi yang berkumpul namun mereka diatur oleh tatanan hukum-hukum kufur. Bahkan dikuasai sebagai negeri-negeri yang terjajah.

Kondisi inilah yang menjadi bahan muhasabah kita bersama, bagaimana menyelamatkan negeri-negeri kaum muslimin dan masyarakat muslim bisa hidup islami dan sejahtera dalam pengaturan syariat. Semoga momentum ini menjadi pendorong bagi kaum muslimin untuk segera berbenah agar perjuangan ibadah Ramadan tahun ini benar-benar berbuah takwa.  Dan mendapat kemenangan, serta memulai perjuangan untuk lebih dekat dengan Allah Swt.  Banyak pelajaran dari takdir corona yang telah Allah kirim ke seluruh penjuru dunia,,sebagai pertanda dan bukti bahwa manusia sangat lemah. Tidak mampu menghilangkan masalah dengan cara kehebatan manusia.

Sementara Allah telah menurunkan syariat sejak ratusan tahun yang lalu ke pada teladan kita Nabi Muhammad saw., seperangkat aturan sempurna untuk diikuti termasuk dalam menangani wabah pun sudah dicontohkan di masa Islam.

Apakah manusia khususnya umat Islam akan tetap menggunakan hukum kapitalis-sekuler buatan manusia atau kembali kepada Islam? Semua dikembalikan kepada kita apakah segera menjadi umat yang menang dengan bersegera melakukan perubahan?

Perubahan hanya akan terjadi ketika ada keinginan untuk berubah. Allah Swt. tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali mereka mereka mau mengubah keadaan diri mereka sendiri:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya: "Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri mengubah keadaan yang ada pada diri mereka." (QS. al-Ra’d [13]: 11)

Semoga ibadah kita menyisakan takwa dan kita mampu meraih kemenangan. Jika Allah masih ingin memberikan ujian dan pelajaran bagi manusia, pertanda masih diberi kesempatan atas lalainya manusia. Maka jangan sia-siakan pastikan fitrah kita  kembali pada Islam dan berjuang mewujudkannya.  Mewujudkan kembali tegaknya Institusi Khilafah Islamiyah dalam kepemimpinan seorang kholifah yang akan hadir  sebagai perisai dan junnah bagi umat.  Sehingga kemenangan sejati bagi umat Islam bisa terwujud menjadi Rahmatan lil 'alamiin.

Inilah kemenangan yang nyata. Pada saat itulah kaum Muslim bergembira atas pertolongan Allah Swt. Demikian sebagaimana firman-Nya:

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ . بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Artinya: "Pada saat itu bergembiralah kaum Mukmin karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang Dia kehendaki. Dia
Maha kuat lagi Maha Penyayang." (QS. ar-Rum [30]: 4)

Selamat meraih hari kemenangan, mohon maaf lahir dan batin.  Semoga Allah memudahkan segala perjuangan menyongsong terbitnya fajar Khilafah, Aamiin.
 
Top