Oleh : Aufa Lidinillah 
(Siswi MTs NDM)

Rida guru terhadap murid sangat berpengaruh bagi keberkahan ilmu yang didapat. Maka adab-adab pun harus kita jaga untuk mendapatkan rida dari guru-guru kita.      

Tapi miris sekali jika kita melihat kenyataan saat ini. Tidak sedikit murid yang tidak memiliki adab kepada gurunya. Bahkan berani menantang gurunya sendiri. Seperti kasus AA, salah satu siswa di PGRI Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, Minggu (10/02/19), menjadi perbincangan usai aksi tak terpujinya merokok di kelas dan menantang gurunya (Kompas.com). 

Inilah salah satu bukti akan hilangnya adab murid terhadap gurunya. Seakan-akan yang mereka butuhkan hanya datang ke sekolah dan mendengarkan penjelasan, tanpa tahu betapa pentingnya adab bagi keberkahan ilmu. 

Hilangnya adab murid kepada guru ini bisa terjadi karena beberapa faktor. Pertama, ketidaktahuan bahwa adab kepada guru itu sangat diperlukan. Kedua, tidak merasa butuh ilmu.

Kawan, sayang sekali jika kita menuntut ilmu selama 12 tahun, namun tak ada satupun yang berbekas di benak kita. Itu semua bisa terjadi karena ketidakridaan guru terhadap kita. Naudzubillah.

Imam al-Syafi’e rahimahullah mengatakan dalam syairnya;

اصبر على مر من الجفا معلم، فإن رسوب العلم في نفراته

“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu kerana memusuhinya.”

Di sini dapat kita simpulkan pentingnya adab kepada guru. Sampai disebutkan bahwa kita gagal mempelajari ilmu jika kita memusuhinya.

Sebenci-bencinya kita terhadap guru, bersabarlah. Bagaimanapun metode guru mengajar kita, pasti semua diniatkan demi kebaikan kita. Guru adalah orangtua kedua kita. Beliau sangat berjasa dengan bersedia mengajari kita. 

Guru, beliau tidak pernah lelah mengajari kita membaca. Dari yang terbata-bata, menjadi lancar. Dari yang tidak pandai menghitung, menjadi ahli matematika. Banyak sekali jasa-jasa beliau untuk kita. 

Islam agama yang sempurna. Tak ada sesuatu pun yang luput dari peraturan Islam. Termasuk adab kepada guru ini. Sangat disayangkan sekali jika remaja kini tidak mengerti akan adab terhadap guru. 

Manakala Imam al-Syafi’e rahimahullah berkata;

كنت أصفح الورقة بين يدي مالك صفحًا رفيقًا هيبة له لئلا يسمع وقعها

“Dulu aku membolak-balikkan kertas di depan gurunya (Imam Malik) dengan sangat lembut kerana segan kepadanya dan supaya dia tidak mendengarnya.”

Sungguh mulia akhlak mereka para suri tauladan kaum muslimin, tidaklah hairan mengapa mereka menjadi ulama besar, ia merupakan hasil dari keberkatan ilmu mereka serta hasil dari akhlak mulia terhadap para gurunya.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top