Oleh : Yuli Mariyam
Pendidik Generasi Tangguh, Member Akademi Menulis Kreatif

Ramadan adalah bulan kemuliaan, begitu juga dengan Ramadan kali ini ada keistimewaan yang ditambahkan oleh Allah dengan adanya pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Corona terus menyasar manusia tidak peduli ras, agama, suku, golongan, tempat tinggal maupun status sosial. Data-data statistik tidak hanya melaporkan tentang adanya kelelahan, kepiluan dan tangisan. Sebabnya adalah negara tidak hadir dalam menangani ususan rakyatnya, saat ini tim medis mulai mengalami kelelahan, pasalnya pasien lebih banyak dari kapasitas rumah sakit, ditambah lagi keterbatasan APD atau alat pengaman diri, obat-obatan bahkan tidak semua rumah sakit menyediakan pelayanan korban Covid-19, kabarnya tidak sedikit dari dokter dan perawat yang menjadi garda terdepan pun menjadi korban keganasan Covid-19. Yang mengakibatkan rumah sakit harus mengambil prioritas dalam merawat pasien. Yang paling rentan adalah orang yang sudah tua, anak-anak, orang yang sudah mempunyai riwayat sakit yang parah serta mengalami lemah imunitas.

Wabah Covid-19 ini juga mengancam sektor perekonomian, banyak keluarga yang kehilangan pendapatan karena PHK besar-besaran dan juga PSBB yang diberlakukan, kondisi seperti ini tidak dapat terdata secara statistik karena terlalu banyak kepiluan, kelelahan dan kesedihan. Lalu bagaimana sikap seorang muslim ketika terdampak wabah Covid-19?

Bagi seorang muslim ada 2 perspektif, yaitu yang pertama, berupa perspektif Akidah atau i’tiqodi yaitu aktivitas  qolbu dan yang kedua adalah perspektif syariat atau ‘amali.

Perspektif Akidah

Secara akidah, pertama kita harus mengimani virus corona adalah ciptaan Allah, segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa ijin dari Allah Swt. dan Allah menciptakan tanpa kesia-siaan.

Yang kedua, musibah pandemi ini adalah ujian bagi kaum mukmin, sekaligus peringatan agar segera sadar dan bertaubat kepada Allah, kemunculan corona seharusnya menjadikan kaum muslimin semakin mendekat kepada Allah dan bersungguh-sungguh memohon ampunan dan perlindungan dari makhluk yang sangat kecil ini, yang bahkan untuk melihatnya saja membutuhkan alat. 

Setiap diri mendapatkan ujiannya masing-masing, tentu saja sesuai dengan kemampuannya, karena itu ujian akan terasa berbeda pada diri setiap individu.

Yang ketiga, adalah hikmah, dimana Allah menunjukkan betapa dekatnya kita dengan kematian, meski kematian sendiri bukanlah karena corona melainkan sudah datangnya ajal.

Kematian bisa terjadi pada siapa saja baik karena corona ataupun tidak, ini disiratkan dalam Al-Qur'an dengan firman-Nya yaitu kullu nafsin dzaa iqotul maut, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

Sesungguhnya kematian akan datang kepada kita meskipun kita ada di dalam benteng yang paling kokoh sekalipun, dari sini manusia harusnya menyiapkan diri untuk dijemput oleh kematian.

Perspektif Syariat

Syariat adalah seruan pembuat hukum yaitu Allah kepada manusia untuk beramal, antara melakukan (wajib atau sunah), meninggalkann (haram atau makruh) atau bisa memilih (mubah). Objek yang diminta melakukan adalah individu, sekumpulan orang atau masyarakat dan negara.

-Skala individu, kaum muslimin harus rida dengan qodho Allah, sabar dengan banyak berzikir dan taqorrub ilallah, berobat jika terkena penyakit sebagi ladang ikhtiyar kepada Allah memohon kesembuhan.

-Skala masyarakat, kita harus memisahkan antara yang sakit dengan yang sehat yaitu dengan sosial distancing, phisical distancing dan waspada terhadap faktor penularan dengan menuruti nasihat para ahli medis dengan memakai masker dan rajin-rajin membersihkan diri.

-Skala negara, Rasulullah memberikan tuntunan dengan lokcdown, beliau bersabda,

“Apabila terjadi wabah di sebuah wilayah, maka janganlah engkau memasuki wilayah tersebut, dan apabila engkau berada di dalamnya janganlah meninggalkan tempat tersebut.” 

Perbanyak berzikir kepada Allah, karena siapa yang berdiam diri di rumahnya saat terjadi wabah dan dia mati karenanya maka baginya pahala syahid.

Kita ketahui sistem saat ini jauh dari kata syariat dan tegak di atas azas manfaat yaitu sistem kapitalisme dimana tak jarang abai terhadap rakyat dan mengambil keuntungan di berbagai keadaan tak terkecuali saat pandemi melanda. Wabah ini tidak hanya menimpa mereka yang zalim tetapi juga kaum yang terzalimi. Oleh karena itu, kita harus menyadari pentingnya memilih pemimpin yang menjalankan syariat Allah secara keseluruhan atau kafah, agar  kita terhindar dari fitnah yang dikalamkan Allah di dalam Al-Qur'an yaitu,

“Takutlah kalian kepada bencana atau fitrah yang tak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian, sungguh Allah Mahakeras siksa-Nya.” (QS. al-Anfal : 25)

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top