Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M. Pd
Praktisi Pendidikan

Sebuah pondok pesantren di Kota Bumi terbilang unik. Santrinya terdiri dari orang dalam gangguan jiwa (ODGJ). Kegiatan para santri adalah shalat berjama'ah dan berzikir. Para ustadz juga membacakan ayat-ayat Al-Qur'an sambil melakukan pijatan pada kepala santri.

Sebagaimana yang kita ketahui, tak ada satupun negara yang tak ada ODGJ. Dilansir oleh Kompas.com (13/10/2019). setiap 10 detik ada satu orang yang bunuh diri. Bunuh diri merupakan ujung dari depresi. Depresi adalah salah satu gangguan jiwa.


Bagaimana dengan Indonesia? Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI, dr Fidiansyah, Sp.Kj, menyebut, setiap hari setidaknya ada lima orang yang bunuh diri. Dan usia yang paling banyak melakukan bunuh diri adalah 15 sampai 29 tahun, generasi milenial.
Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Artinya, 1 dari 10 orang di negeri ini mengalami gangguan jiwa. Angka tersebut mendudukan Indonesia di peringkat pertama se-Asia Tenggara.

Siapakah yang dimaksud dengan orang gila? Berdasarkan KBBI, gila adalah kata sifat untuk menunjukkan adanya gangguan jiwa, sakit ingatan (kurang beres ingatannya), sakit jiwa (syarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal). Dan para psikolog menyepakati definisi tersebut.
Gangguan jiwa level rendah adalah kecemasan, kemudian depresi dan lanjut skizofrenia. Menurut WHO, tingginya angka penyakit jiwa ada pada negara yang berpendapatan menengah dan rendah. Tekanan serta tuntutan hidup tinggi membuat banyak orang yang depresi.


Lalu, bagaimana menyembuhkannya? Mengingat ODGJ tak hanya membahayakan dirinya sendiri, namun juga orang lain. Ternyata sistem kesehatan dunia, juga Indonesia belum mampu mengcover semua ODGJ. Ini terlihat dari banyaknya ODGJ berkeliaran. Alasannya, keterbatasan kapasitas rumah sakit juga dana operasional RSJ masih belum memadai. Hingga akhirnya, banyak keluarga yang memasang anggota keluarganya yang ODGJ.


Pondok Pesantren di Kota Bumi ini mungkin bisa menjadi jalan keluar dari masalah ODGJ. Metode shalat, zikir, dan pembacaan Al-Qur'an akan mengembalikan kembali jiwa yang kosong. Bukankah Islam tak hanya agama ritual, namun juga diin yang mampu menyelesaikan setiap persoalan kehidupan manusia, termasuk gangguan jiwa.

Rasulullah saw. suatu ketika melewati kerumunan orang. Rasul pun bertanya kepada mereka: "Apa yang kalian lihat?" Para sahabat menjawab: "Ya Rasulullah, ini ada orang gila yang mengamuk". Rasul kemudian berkata: "Sesungguhnya Ia bukan orang gila, dia sedang mendapat musibah"


Mengambil pelajaran dari cerita di atas, maka kita menjadi paham bahwa ketika mendapat musibah, seseorang terganggu jiwanya. Musibah ada dua macam, ada yang berasal dari Allah, adapula yang disebabkan oleh sistem.
Contoh musibah yang berasal dari Allah adalah gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus. Seketika bisa membuat seseorang kehilangan orang yang dicintai serta harta benda yang dimiliki. Hal ini bisa mengganggu jiwa seseorang.


Apabila kuat keimanannya, memahami konsep qadha dan qadar dengan jernih. Maka sehebat apapun guncangan gempa dan dahsyatnya gelombang tsunami, takkan mengganggu jiwanya. Ia sadar bahwa Allah takkan memberi cobaan yang melebihi kemampuannya. Dan ia akan menjadikan sholat dan sabar sebagai obat penyembuh batinnya.


Adapun bencana yang disebabkan oleh sistem yaitu kemiskinan. Sistem kapitalisme telah membuat jurang yang lebar antara si kaya dan si miskin. Ada orang yang benar-benar berlimpah kekayaannya hingga bergelar milyader atau crazy rich. Sebaliknya, ada yang sangat miskin hingga harus tidur beralas aspal dan beratap langit.
Ini karena sistem kapitalisme tak mengenal distribusi kekayaan. Yang kuat dan memiliki modal banyak, menguasai semua sektor kehidupan, hingga semakin bertambah pundi-pundi kekayaannya. Sebaliknya, kehidupan si miskin selalu mentok, tak bisa mengembangkan diri dan memperbaiki keterunan. Jika di ayah seorang pemulung, maka keturunannya ikut jadi pemulung.


Terhadap musibah yang disebabkan oleh sistem ini, maka kita harus bersama-sama berjuang agar sistem kapitalisme ini segera runtuh. Sistem ini telah melahirkan banyak ODGJ dan tak mampu menyembuhkan mereka. Hanya sistem Islam yang mampu menjaga jiwa dan akal manusia. Wallahu a'lam
 
Top