Mengapa Hanya Surau yang Sepi?


Oleh: Neng Ranie SN Member Akademi Menulis Kreatif (AMK) 



Terdengar bisingnya kendaraan, terlihat padatnya antrean di bandara dan penuh sesaknya pembeli di pusat pembelanjaan. Diri ini bertanya, apakah wabah Corona 
kendali? Oh ternyata, mereka hanya sebagian orang ngenyel, apatis, arogan, tak mengindahkan protokol kesehatan. Tidakkah itu berbahaya? Bukankah pemberlakuan PSBB guna memutuskan rantai penyebaran virus Corona? Mengapa pemerintah membiarkan? Pasalnya, pelonggaran PSBB mulai diberlakukan, mulai dari pelonggaran transportasi, hingga bandara dibuka, angkutan umum beroperasi kembali. Mengapa hanya surau yang sepi?


Ulama pun protes, mengapa hanya tegas melarang orang untuk berkumpul di masjid? Namun, tidak keras menghadapi orang-orang yang berkumpul di pasar, mal, bandara, kantor, pabrik, dan tempat lainnya. (detiknews.com, 17/05/2020)


Sayangnya, Pemerintah diam seribu bahasa, hampir tak ada respons. Hal ini karena kepentingan ekonomi, bisnis dan investasi lebih menggiurkan, daripada kepentingan rakyat. Tentu, ada keuntungan yang didapat. Namun, bagaimana dengan ancaman bahaya virus? Tentu akan diupayakan untuk diminimalisasi dengan protokol kesehatan ketat. Mengapa tidak diberlakukan hal yang sama untuk ibadah? Susahkah? Atau ada maksud dan kepentingan lain?


Ulama hanya dibutuhkan, kala itu menguntungkan. Fatwa ulama diminta hanya untuk legalitas kebijakan negara, jika tidak sejalan hal ini akan diabaikan. Bahkan, ada ulama yang kritis, peduli, menasihati dalam rangka amar makruf nahi mungkar, dianggap menentang. Miris, kedudukan ulama di hadapan negara hanya sekedar formalitas. Padahal, sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, begitu jelas sabda Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلا دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. al-Imam at-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimah-nya)


Seperti inilah, hidup di negeri sekuler-kapitalis. Sistem rapuh, rusak, invalid, gagal dan tidak sesuai fitrah manusia. Sistem dimana agama dipisahkan dari kehidupan. Sistem yang hanya memikirkan untung rugi. Tak heran kerusakan di semua lini kehidupan. Menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat.


Beginilah, nasib rakyat yang dipimpin oleh pemimpin dengan kebijakan _mencla-mencle._ Tenaga medis, garda terdepan berjuang mengobati pasien, para guru dan murid yang melewati beratnya sekolah daring, banyak pekerja di PHK, terasa semua usaha itu sia-sia. Lantas, bagaimana kepentingan rakyat? Keselamatan rakyat? Demokrasi katanya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat! Mengapa lebih menomor satukan yang pro korporasi, asing dan aseng? Dan, rakyat di nomor duakan. Hal ini karena semua hanya seputar untung dan rugi, fasilitator dan regulator. Ironis.


Berbeda dengan Islam, ulama memiliki kedudukan dan derajat yang tinggi. Penerus estafet perjuangan Nabi, pemangku tugas Nabi. Dengan ilmunya dan dihiasi oleh hikmah, Allah Ta'ala meninggikan derajat para ulama. 

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat, dan Dialah yang Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11).


Ibnu Jarir ath-Thabari mengungkapkan dalam kitab tafsirnya, Jami’ul Bayan bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah seorang yang Allah jadikan sebagai pemimpin atas umat manusia dalam perkara fiqih, ilmu, agama, dan dunia. Sementara itu, Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in-nya membatasi bahwa ulama adalah orang yang pakar dalam hukum Islam, yang berhak berfatwa di tengah-tengah manusia, yang menyibukkan diri dengan mempelajari hukum-hukum Islam kemudian menyimpulkannya, dan yang merumuskan kaidah-kaidah halal dan haram.


Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, ulama memiliki kedudukan sangat penting, seperti halnya keberadaan para pemimpin (umara). Karena keberadaan ulama di barisan terdepan dalam membimbing dan membina umat sepeninggalan Rasul. Menuntun dan menyelamatkan umat dari kegelapan, kebodohan, kehancuran dan kenistaan. Penerang dan penunjuk arah meraih kebahagiaan dunia akhirat.   


Ulama menjadi bagian dari majelis umat, salah satu struktur negara khilafah. Guna turut mengawasi dan memastikan khalifah agar selalu berada di jalan kebenaran serta menjalankan pemerintahan sesuai aturan Allah Swt dan Rasul-Nya. Keberadaan Majelis Umat ini diambil dari aktivitas Rasulullah Saw. yang sering meminta pendapat sejumlah orang di antara kaum Muhajirin dan Anshar yang mewakili kaum masing-masing; diambil dari perbuatan (af’âl) khusus Rasulullah Saw. terhadap beberapa orang tertentu di kalangan Sahabat untuk meminta pendapatnya; serta diambil dari perbuatan para Khulafaur Rasyidin yang sering meminta pendapat para ulama dan ahli fatwa di kalangan mereka. (An-Nabhani, Muqaddi-mah ad-Dustûr, hlm. 121; Ajhizah Dawlah al-Khilâfah, hlm. 147)


Sungguh, hanya sistem Islamlah yang akan memuliakan para ulama. Dan wajib bagi orang-orang selain mereka untuk menjaga kehormatan dan mengetahui kedudukan dan derajat mereka. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Artinya: “bukanlah bagian dari ummatku, seseorang yang tidak menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan mengetahui hak-hak para ulama”. (HR. Ahmad dengan sanad jayyid.)


Peran ulama sangat dibutuhkan umat, terlebih saat ini. Bersuara dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Peduli jeritan umat atas ketidakadilan yang terjadi. Dan, ikut dalam muhâsabah (koreksi) terhadap kebijakan sekuler-kapitalis pemerintah, agar kembali pada solusi Islam. Karena, menyuarakan kebenaran dan berjuang mengempaskan peradaban sekuler-kapitalis adalah kewajiban. Kita tidak boleh menyerah mewujudkan kemenangan Islam, menerapkan Syariat-Nya, menegakkan Khilafah Islamiyyah, karena itu janji Allah yang pasti.



Wallâh alam bi ash-shawâb.
 
Top