Mempersiapkan Buah Hati Pra Sekolah di Tengah Pandemi Wabah


Siti Aisah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK)


Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Muhammad Hasbi, menyatakan bahwa pembelajaran online bukan untuk anak usia dini, melainkan untuk memberi informasi atau ruang bagi orang tua dan guru agar dapat memfasilitasi dalam melaksanakan pembelajaran kepada peserta didik walaupun berada di rumah. Jadi platform yang disampaikan adalah platform untuk guru dan orang tua agar memiliki sumber materi dalam proses pembelajaran. 
(voaindonesia.com, 14/04/2020).


Perlu diketahui, pendidikan anak usia dini dari usia 2 hingga 3 tahun biasa disebut Kelompok Bermain (Kober), dilanjutkan dengan kelompok usia 3 hingga 4 tahun, lalu kelompok usia 4 hingga 5  tahun dan tahap terakhir dari usia 5 hingga 6 tahun yaitu masa pra sekolah untuk memasuki tingkat Sekolah Dasar. Tahap terakhir ini adalah tahap dimana mental dan psikis anak mulai dipersiapkan. Persiapan dimulai dari bagaimana agar anak bisa membaca, menulis dan berhitung sederhana. Walaupun kebijakan pemerintah untuk tidak menekan anak belajar calistung (baca, tulis dan hitung) di sekolah setara Taman Kanak-kanak (TK) apalagi sejenis kelompok bermain (Kober) yang diprioritaskan bermain sambil belajar. Namun faktanya, mayoritas dari para orang tua menginginkan anaknya yang akan memasuki Sekolah Dasar (SD) harus bisa calistung. 

Plt. Direktur Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Abdoellah, mengatakan bahwa masa belajar di rumah bagi siswa PAUD adalah saat mereka bermain dan menghabiskan waktu dengan orang tuanya. Guru PAUD harus meningkatkan komunikasi dengan orang tua siswa selama masa belajar di rumah. (republika.com, 01/04/2020). 

Namun pada faktanya tidak semua orang tua siswa memiliki waktu untuk menemani anaknya belajar dan bermain dirumah. Tak sedikit dari para orang tua yang memiliki kesibukan walaupun dimasa pandemi ini. Hal ini membuat para ibu, khususnya, berfikir ekstra agar anak bisa tetap betah dirumah dan mencoba menarik perhatian buah hati untuk  belajar calistung. Orang tua pun banyak yang angkat tangan menangani hal ini. Konsultasi dengan pihak sekolah pun telah dilakukan. Namun perbaikan anak belum membuahkan hasil. Anak tetap belum bisa membaca. 

Konsultasi yang disarankan guru terhadap kasus ini sebatas menginstruksikan kepada orang tua agar membuat semisal kartu baca yang beraneka warna, sehingga bisa menarik buah hati untuk belajar. Penyampaian dengan bahasa yang baik pun menjadi prioritas utama. Hal ini dimaksudkan agar para orang tua yang mengajarkan calistung kepada anak senantiasa fokus sehingga tingkat emosional pun stabil.

Dilansir dari laman berita voaindonesia.com (13/04/2020), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan sejumlah platform pembelajaran anak usia dini, yang bertujuan mengakomodir terselenggaranya pembelajaran dalam jaringan (daring) yang dapat digunakan orang tua maupun guru. Beberapa yang telah disiapkan adalah konten Sahabat Keluarga, platform online interaktif serta media sosial yang dapat menjadi sumber belajar terbuka bagi orang tua dan guru untuk pembelajaran anak usia dini di rumah. Diharapkan platform tersebut dapat menjadi sumber informasi belajar dan memfasilitasi terselenggaranya pembelajaran anak didik di tengah penyebaran virus corona.

Bagaimana pun juga sistem saat ini menjadikan rumah hanya  seperti "stasiun penginapan”, yaitu sebatas tempat untuk beristirahat saja. Artinya rumah bukan sekolah, begitu pula sekolah bukanlah rumah. Sehingga membawa suasana belajar seperti sekolah bukan hal yang mudah. Membangun kedisiplinan ala sekolah di rumah memang tidak mustahil, namun rumah tetaplah tempat relaksasi untuk melepas kepenatan. Oleh karena itu, mengkondisikan belajar seperti sekolah membutuhkan banyak pertimbangan. Mulai dari berbagai sarana prasarana, motivasi membangkitkan semangat anak belajar, menyiapkan alat atau bahan pembelajaran dan yang terpenting menyiapkan mental para orang tua yang menjadi guru sementara selama pandemi. Hal ini terkadang membuat pembelajaran di rumah bersama orang tua dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Maka dari itu, pembelajaran bagi anak pra sekolah  yang utama adalah mengenai skill atau kemampuan di dalam kehidupan (Life Skill).

Life Skill yang dibutuhkan ini dirasa penting karena mencakup kegiatan keseharian. Life skill dimaksudkan agar anak bisa mandiri dan melatih sistem motoriknya. Kemampuan tersebut dapat dilatih dari kegiatan sehari-hari, seperti bangun tidur, mandi ataupun kesadaran menutup aurat yang dilakukan secara mandiri.

Dengan demikian, dalam Islam pembelajaran yang paling awal dilakukan adalah menanamkan akidah dan sifat-sifat terpuji sejak dini sesuai aturan Allah Swt. Tujuannya tiada lain agar anak tahu betul siapa Allah Swt. Jika anak mengerti bahwa dirinya, orangtua, keluarga, manusia dan seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah Swt, maka ia akan mengerti kenapa ia harus beribadah kepada Allah Swt. Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top