Oleh : Sherly Agustina, M.Ag
(Member Revowriter dan WCWH)

Dalam sebuah hadis Baginda Nabi saw. bersabda :

"Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi”. (HR. Bukhari)

Tamu agung itu kini telah pergi, jauh meninggalkan umat Islam. Untuk bertemu dengannya kembali harus melewati 11 bulan dan hal tersebut jika manusia panjang umur serta harus bersabar. Apakah memuliakan dan menjamu dengan baik masing-masing umat Islam yang tahu. Bagi yang menjamunya dengan baik, maka mendapat keberkahan dan keutamaan yang luar biasa. Bagi yang tidak, alangkah meruginya.

Hari nan fitri pun telah dilewati, walau nuansa dan perayaan tidak seperti biasanya tapi tidak mengurangi sukacita umat Islam dalam merayakan hari kemenangan. Biasanya umat Islam melakukan tradisi mudik ke kampung halaman masing-masing bertemu sanak famili dan keluarga besar untuk bersilaturahmi. Namun, lebaran kali ini umat Islam tak bisa melakukan hal tersebut seperti biasanya.

Salah satu alasannya ialah kondisi pandemi saat ini, karena umat Islam harus kooperatif dalam upaya mitigasi Covid-19. Apapun harus dilakukan jika hal tersebut bisa memutus rantai pencegahan virus. Spiritnya ialah hadis Baginda Nabi, bahwa jika ada wabah di suatu tempat, maka di tempat wabah jangan keluar. Dan yang tidak terkena wabah jangan masuk ke daerah wabah. Umat Islam pun memahami, bahwa hal ini adalah ujian yang harus dijalani dengan sabar dan ikhlas jika ingin mendapat pahala.

Satu hal yang menakjubkan bagi para pejuang Islam yang Allah anugerahi akal. Biasanya berdakwah di dunia nyata saat bukan pandemi, dan saat pandemi otomatis dakwah di dunia nyata terhenti. Namun, dakwah tetap berjalan bagi orang-orang yang menggunakan alat teknologi untuk kemajuan dakwah. Karena dakwah adalah kewajiban yang harus ditunaikan.

Bisa dengan membuat tulisan, membuat konten video di youtube, kajian online dengan berbagai aplikasi mulai dari kalangan remaja, umum, ibu-ibu, tokoh, ulama dan mubalighah. Antusias dan respon pun alhamdulillah dari hasil kajian tersebut. Walau terkendala jaringan, kuota, sinyal dan tidak memiliki alat yang mendukung serta masih gaptek. Namun, dakwah tetap berjalan dan tidak mati atas izin-Nya.

Begitupun perayaan lebaran kemarin adalah lebaran virtual akbar pertama dengan bantuan teknologi. Dirayakan oleh berbagai provinsi yang ada di Indonesia dari Sabang-Merauke, dan dihadiri hampir 7000 peserta. Masing-masing perwakilan dari daerah testimoni dan mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri dengan sangat sukacita, new spirit  dalam berdakwah dan ukhuwah setelah melepas Ramadan.

Spirit Ramadan begitu membekas, umat Islam berlomba ingin mendapat predikat takwa. Layak atau tidak layak di hadapan-Nya berusaha melayakkan diri. Agar dakwah tetap melaju dalam kereta ini dan sampai ke garis finish. New spirit ini yang akan memompa semangat mengisi 11 bulan berikutnya melanjutkan estafet perjuangan Baginda Nabi saw. dan para sahabat dalam menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru negeri.

Seperti baterai yang telah mengisi atau mengecas dengan full, umat Islam terlahir kembali dengan bahagia menyambut kemenangan dan semangat dalam dakwah. Insyaallah siap menyambut kemenangan Islam dengan syariah dan khilafah. Melihat saat ini demokrasi gagal dalam menangani wabah dan menyelesaikan krisis serta semua masalah yang terjadi, tak ada yang bisa menggantikan dan menyelesaikan seluruh permasalahan selain Islam.

Saatnya Islam kembali memimpin dunia sebagaimana janji-Nya dalam Al-Qur'an surat an-Nuur : 55 dan bisyarah Baginda Nabi saw : "... Akan ada kekhilafahan di atas manhaj kenabian". (HR. Ahmad)

Bunga Mawar bunga Melati
Islam penawar, obat dan solusi bagi dunia ini

Allahu A'lam Bi Ash-Shawab.
 
Top