Oleh : Yeni Marlina, A.Ma
Pemerhati Kebijakan Sosial dan Akitivis Muslimah

Ramadan telah berakhir, kembali meninggalkan hari-hari penuh berkah dan lipat ganda pahala amal kebaikan.  Rasa canggung menggelayuti setiap jiwa beriman memuhasabah sepanjang Ramadan ini adakah menyisakan investasi berharga untuk bekal kelak?

Bekal yang akan membersamai untuk hari-hari pada sebelas bulan berikutnya hingga Allah mentakdirkan kembali bertemu dengan Ramadan yang akan datang. Apa bekal penting pertanda Ramadan yang baru saja berlalu? Tentu bekal yang bisa membawa perubahan untuk lebih baik. Lebih baik dihadapan Rabb Allah Swt. yang akan menilai kebaikan dengan tuntunan risalah-Nya. 

Ramadan sebagai momentum menempa pribadi-pribadi muslim agar menjadi sosok yang bertakwa.  Sosok yang senantiasa tunduk-patuh pada perintah Allah Swt. yang telah dirinci di dalam berbagai syariat.  Kepatuhan untuk mengerjakan segala perintah-Nya dan kepatuhan untuk meninggalkan segala larangan-Nya.  Inilah esensi takwa yang di tuntut dari seorang hamba yang shaleh serta shalehah. Apapun posisi sosialnya baik rakyat biasa hingga penguasa. Cerminannya pada perilaku dan sikap baik terkait dengan hubungannya dengan Rabbnya sebagai (hablu minallah), hubungannya dengan sesama yang lain (hablu miannaas) bahkan hubungan dengan diri sendiri (hablu minannafs). Seluruh hubungan ini dikaitkan dengan hukum-hukum syariat.

Suasana berbeda Ramadhan tahun ini, Ramadan istimewa dijalani di tengah-tengah pandemi wabah Corona Virus Disease yang ditemukan pada tahun 2019 "Covid-19", disamping berjuang untuk bisa memaksimalkan berbagai aktifitas  "from at home" dengan menjalankan berbagai protokoler kesehatan, dan memaksimalkan ibadah sebagai tanda taqarrub kepada Allah pun juga tetap di rumah, masjid-masjid belum lagi difungsikan maksimal, majlis ilmu sementara waktu di vakumkan.  Semua aktifitas dilakukan via On Line "OL".

Sampai dipenghujung Ramadan, menuju pintu kemenangan tanda masuknya pergantian bulan.  1 syawal sebagai hari besar umat Islam di seluruh dunia, merayakan hari kemenangan lebaran di tengah wabah.  Sayup-sayup takbir terdengar menggema dari segala penjuru. Tidak ada kumpul-kumpul takbiran, lantunan meninggikan asma Allah terdengar dari speaker menara masjid dan sudut-sudut rumah.  Menjadikan kondisi ini istimewa semoga tanpa mengurangi makna ibadah yang tengah dijalankan.

Uniknya di masjid-masjid, lapangan terkhusus wilayah dengan status zona merah Covid-19 tidak terlihat lautan umat yang tengah bersuka cita mengambut lebaran untuk shalat ied bersama. Shalat di rumah menjadi alternatif ditengah  keringanan penunaian ibadah kali ini.  Masing-masing anggota keluarga sedang diajarkan makna mengambil peranan penting, ada yang berfungsi sebagai imam, khatib dan sebagai jamaah yang tetap khidmat menjalani seluruh rangkaian pelaksanaan ibadah shalat ied.

Berbeda dengan lebaran di tahun-tahun sebelumnya, sebelum pandemi Covid-19. Lautan umat Islam begitu luar biasa besarnya. Seruan kalimat Takbir, Tahmid dan Tahlil menggema di seluruh penjuru bumi dan diberbagai wilayah belahan negeri lainnya.  Gemuruh takbir dari langit menghujam hingga ke bumi. Silaturahmi menjadi tradisi sesama muslim, saling berkunjung dengan keluarga, kerabat sampai tetangga terdekat.  Inilah gambaran kebesaran Islam dan umatnya.  Hari ini semua kondisi ini berubah situasi, semua rencana tertunda. Hanya pesan-pesan yang dihantarkan sinyal media seluler yang dapat dibaca, pertemuan pun menatap wajah di antara dua layar telepon genggam ini. Allah mendatangkan banyak pesan melalui Covid-19. 

Tentu bukan hanya pesan kepada pribadi hamba-Nya saja namun pesan ini berlaku kolektif untuk seluruh dunia.  Bagaimana tidak, pembahasan wabah menjadi perbincangan publik para elit politik dan para penguasa dunia.  Ternyata terbukti dan kenyataan membenarkan tak satupun sistem penataan negara didunia ini baik kapitalis ataupun komunis-sosialis mampu menghentikan laju penyebaran wabah.  Bahkan dunia lumpuh bukan hanya secara ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, bahkan lumpuh secara kepercayaan umat kepada para penguasa mereka.

Inilah pesan istimewa dalam hikmah lebaran kali ini yang menjadi motivasi besar bagi umat Islam, harusnya jika Ramadan dijadikan bermakna dan menggapai tujuan taqwa yang sesungguhnya.

Tidak ada satupun ketetapan Allah yang sia-sia, menimpakan  ujian dan cobaan jika bukan sebagai peringatan tentulah untuk menambah kedekatan denganNya.  Karena setiap urusan kaum muslimin itu baik.
Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Wabah bukan untuk ditakuti, kesulitan bukan untuk diratapi bahkan pengorbanan bukan untuk disesali. Namun semua itu Allah kirim untuk mengingatkan manusia agar mawas diri dan segeralah kepada ampunan Allah.  Karena keengganan dalam menjalankan syariat-Nya dan lebih memilih mengikuti hawa nafsu dengan menerapkan hukum jahiliyah buatan tangan manusia yang serba lemah, sekularisme dengan mengakui agama hanya disebagian ibadah semata. Ketidak adilan manusia ini yang ingin menjadi penguasa bumi, inilah yang menjadi perkara masalah dunia hingga kini. Layak Allah memberikan teguran, sebagai tanda rahmat-Nya.

Kepada para penguasa di negeri-negeri muslim saatnya berbenah.  Kehancuran para pemuja sistem kuffur ini sudah semakin dekat, saatnya umat Islam tampil untuk merubah dunia dengan tatanan hukum-hukum yang adil, hukum dari Sang Maha Adil Allah Swt. Tidak ada satupun hukum yang menandinginya.  Rasulullah dan para sahabat telah merintis sejak awal pertama kali dakwah Islam menjadi perintah.  Keberhasilan cahaya Islam menerangi bumi lebih dari 13 abad tak terbantahkan.   Para khalifah kaum muslimin menjalankan hukum-hukum Islam, maka keadilan Islam bisa dirasakan oleh seluruh rakyat yang hidup dalam naungan negara Khilafah Islamiyyah baik umat Islam ataupun non muslim yang ikut menjadi warga negara. Hingga Allah pergilirkan sistem kapitalis memimpin dunia agar menjadi pelajaran bagi umat.

Pesan istimewa lebaran ini, tampilnya umat Islam menjadi pemain dalam episode perubahan besar dunia. Perubahan dunia menuju babak baru tegaknya Peradaban Islam Kafah.  Kesadaran dan kesungguhan umat Islam akan menjadi peluang Allah menyegerakan kemenangan dan menurunkan pertolongan-Nya.  Pertolongan tegaknya kembali Alkhilafah Islamiyyah 'ala Minhajin Nubuwwah.  Di saat kezaliman belum berakhir, terpecah belahnya umat belum menyatu kembali.  Maka menjadi tugas seluruh umat Islam dalam tugas mulia mengemban risalah Islam agar sampai kepada umat. Menjadi tekad istimewa dihari kemenagan ini, bagi setiap muslim yang ingin dan mampu melipatkangadakan kebaikan turut melibatkan diri dalam kancah perjuangan.  Ikut terlibat dalam sejarah tinta emas kemenagan Islam dalam waktu yang singkat tidak lama lagi.

Kita berharap 'Ied Mubarok 1441 H ini, melalui lantunan doa, shalawat mengetuk arsy Allah Swt. agar tegaknya Alkhilafah disegerakan.  Khalifah yang menjadi junnah dan perisai bagi umat, menjaga akidah, melaksanakan syariah, menyatukan ummat serta menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Janji Allah Maha Benar, dan berharap dengan kelayakan takwa umat Islam dan para pejuang kebenaran menjadi garansi untuk kemenangan.  Sebagaimana yang digambarkan dalam ayat berikut:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Artinya: "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. an-Nur: 55)

Menyambut kemenangan dengan rasa syukur dan berharap ampunan. Tiada yang bisa memberikan ampunan kecuali hanya Allah semata, dan menjanjikan surga bagi hamba-hambanya yang bertakwa.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS Ali Imran: 133)
 
Top