Oleh: Dyka Pitaloka
Penulis dan Media Enthusiast

Semenjak Maret 2020, Indonesia terdeteksi sebagai negara yang juga terinvasi Covid-19. Sampai artikel ini dibuat, Indonesia terancam dengan 10.843 pasien yang dikonfirmasi positif corona dan mencatat 831 pasien meregang nyawa. Bulan suci yang berlangsung di tengah pandemi seperti ini memang tidaklah mudah terlewati. Apalagi negeri yang punya julukan “Gemah Ripah Loh Jinawi” ini juga berada di ambang kelaparan yang siap mengintai pribumi.

Pasalnya, pada 21 April lalu, Food and Agriculture Organization sebuah lembaga khusus pangan besutan PBB yang akrab disapa FAO ini menggelar pertemuan tak terjadwal bersama para menteri pertanian dari negara-negara G20. Pertemuan ini juga dihadiri oleh World Food Programme (WFP), Bank Dunia, dan International Fund for Agricultural Development (IFAD).
Di akhir pertemuan tersebut, Direktur Jenderal FAO, QU Dongyu menyebutkan bahwa pandemi virus corona memberikan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dampak sosial-ekonominya mendalam dan global. Kita membutuhkan tindakan bersama dan tegas, termasuk oleh G20, yang menteri pertaniannya saya temui hari ini. Kita harus menjaga rantai pasokan pangan dan memastikan produksi serta ketersediaan pangan untuk semua (Kumparan, 27/04).

Selain itu, beliau juga menekankan bahwa dampak dari pandemi ini bisa sangat merusak. Terutama bagi negara-negara miskin yang mengandalkan impor untuk bahan pangan mereka. Mendengar hal itu, Presiden RI Joko Widodo pun mulai merasa khawatir dan meminta seluruh kepala daerah memerhatikan krisis pangan yang bisa jadi mengancam tatanan pertahanan pangan negara kita.

Hal ini digambarkan oleh Dongyu, menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan negeri-negeri kaya yang melakukan panic buying pada pandemi corona ini. Sehingga negara tersebut sudah memiliki kecukupan pangan yang mampu menopang kebutuhan para penduduknya. Terlebih dalam kondisi pandemi corona ini.

Aktivitas panic buying yang dilakukan oleh negara kaya ini ternyata mampu membuat negara miskin menjerit. Pasalnya, negara-negara berkantong tebal itu bisa menghabiskan stok pangan yang dibutuhkan warga negara lain yang cenderung miskin. Lembaga-lembaga yang punya keinginan menyumbang negara kurang modal ini pun mati kutu karena kehabisan stok pangan di pasaran.
Ironis, namun memang beginilah iklim kapitalis. Pemilik modal terbanyaklah yang pasti punya kesempatan lebih besar dalam “bertahan hidup”. Terdengar tidak adil memang, namun keadilan di iklim serba uang memang harus merogoh kocek cukup dalam.

Lalu bagaimana nasib negara-negara yang kurang mampu tersebut? Mereka diberi pilihan investasi alias hutang. Bentuk “bantuan” sejenis pinjaman ini memang laris manis untuk kepentingan bisnis para negara bermodal besar.

Begitulah, negara nir-daya memang tak dapat tempat di era ini. Saat krisis pangan melanda, bukannya membuka kran swasembada pangan. Impor bahan pangan yang malah menjadi pilihan.

Melihat fakta nestapa di atas, maka timbulah keinginan untuk akhirnya menuntaskan semua problematika pangan negeri ini. Lalu apa yang bisa negeri ini jadikan sebagai alternatif yang hakiki?
Sebagai sebuah negara dengan penduduk yang mayoritas adalah umat muslim, mengapa kita tidak mencoba kembali ke era dimana agama dan kepercayaan Islam pernah berjaya? Islam, yang pertama kali tersebar di Mekah oleh tangan dingin Rasulullah saw, pernah berdiri tegak sebagai sebuah negara dan sistem pemerintahan di Madinah. Pada masa Kekhilafahan Umar bin Al Khatthab, seperti yang dikutip dari buku The Great Leader of Umar bin Khaththab karya Muhammad As-Salabi, dinyatakan bahwa negara Islam kala itu pernah terkena krisis pangan. Uang yang ada di kas Baitul maal tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan warga di Madinah kala itu.

Kemudian sebagai kepala negara, Umar mengirim surat kepada para gubernur di wilayah kekuasaan Islam. Pada saat itu, Gubernur Mesir, Amru bin al Ash langsung mengirim bantuan sebanyak 1000 unta yang memikul tepung serta 20 kapal laut yang berisi tepung dan minyak.

Digambarkan bahwa bantuan yang datang dari Mesir menuju Madinah adalah bantuan yang mengular panjang. Di mana kepala bantuan ada di Madinah sedangkan ekornya masih terlihat di Mesir. Selain itu, bantuan juga datang dari Persia dan Iraq. Semua bagian negara Islam saat itu bersatu padu dan memiliki spirit ukhuwah Islam dengan perasaan ingin menolong dan menopang satu sama lain.

Terlebih saat wabah, Khalifah Umar bin Al Khaththab sampai mengharamkan dirinya dari memakanan makanan yang enak. Sang Amirul Mukminin sampai-sampai bersumpah hanya akan memakan roti dan minyak sampai seluruh warga tercukupi makanan di saat wabah. Itu semua karena beliau ingin sama-sama merasakan penderitaan warganya saat itu. Apalagi saat tahun kelabu di masa Umar bin al Khaththab, ia rutin pergi memantau warga yang terdampak serta turun langsung ke dapur-dapur warga seraya memasak untuk mereka.

Teladan dari salah satu sahabat Rasulullah saw ini memang tidak akan ditemukan pada zaman sekarang. Di mana para kepala negara sibuk memikirkan perut mereka sendiri atau lebih memilih berhutang dan menggadaikan negeri. Untuk itu, sebagai negeri dengan mayoritas kaum muslimin terbesar di dunia, Indonesia sebetulnya layak memilih kembali Islam sebagai teladan dan solusi alternatif yang hakiki bagi krisis pangan yang saat ini menggentayangi negeri.
Wallahu’alam bish shawab.
 
Top