Oleh: Ayu Unzia Anggraini
Perekam Medis, Pegiat Dakwah

Bulan Ramadan 1441 Hijriyah atau 2020 Masehi bertepatan dengan wabah dan pandemi COVID-19 yang hingga saat ini masih terjadi. Dampak sosial-ekonomi semakin terasa pada beberapa kelompok rentan, di antaranya bagi anak yatim, dhuafa, janda, dan kelompok lanjut usia, serta semua lapisan masyarakat khususnya masyarakat menengah kebawah. Ditambah lagi ketidakpedulian pemerintah terhadap kebutuhan dan kesulitan yang dialami rakyat. Membuat banyak beberapa komunitas sosial hingga perorangan tergerak untuk mengadakan donasi, pembagian sembako, dan lain lain.

Gerakan berbagi nasi misalnya, ditujukan untuk para petugas dan warga yang terdampak oleh pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Parsial yang mencakup wilayah  Kecamatan Cileunyi, Cilengkrang, Cimenyan, Bojongsoang, Margahayu, Margaasih dan Kecamatan Dayeuhkolot. PSBB ini sendiri, diberlakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung sebagai salah satu upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di wilayah Kabupaten Bandung (www.inilahkoran.com)

Ketua TP PKK Kabupaten Bandung Kurnia Agustina Dadang Naser menilai untuk menghadapi wabah Covid-19 harus dilawan dengan kebersamaan. “Covid-19 adalah masalah kita bersama. Kami pun, ingin mengambil peran dalam menghadapi dampak dari wabah ini. Sabernas tidak saja kita tujukan pada petugas dan warga sekitar, kami pun menyasar para tunawisma dan anak-anak jalanan,” ucap Kurnia Dadang M. Naser saat menerima kunjungan Ketua TP PKK Jabar, Atalia Praratya Ridwan Kamil di Posko Dapur Umum Sabernas, di Kecamatan Cimenyan, Rabu (28/03/2020).

Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mengajarkan umatnya untuk saling berbagi dan mengasihi sebagaimana dalam firman Allah Swt:  “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat."
(Q.S Al-Maidah:2)

Gerakan berbagi adalah salah satu contoh perbuatan mulia yang tentu Allah ridhai. Sebagaimana telah Rasul dan para sahabat ajarkan kepada umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Namun, adanya komunitas berbagi di kala pandemi bukanlah sebuah solusi yang hakiki. Karena tugas kepala negaralah yang memenuhi kebutuhan rakyat terutama ketika pandemi. Sebaliknya, sikap yang ditunjukkan pemerintah terkesan abai dan malah menggerakkan setiap rakyat untuk berdonasi. Padahal Penanganan wabah virus Corona oleh pemerintah mendapat perhatian khusus dari banyak pihak. Salah satunya terkait pengalokasian dana yang akan digunakan untuk menanggulangi wabah tersebut. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Didik J. Rachbini dan Peneliti LP3ES Fachru Nofrian, bahwa sejauh ini pemerintah terlihat ragu dan maju mundur dalam mengalokasikan dana APBN untuk menangani virus Corona..

Dana Rp 19 triliun pada awalnya, beberapa hari kemudian naik Rp 27 triliun, dan kemudian naik lagi Rp 60 triliun adalah kebijakan yang lemah, mencla-mencle, pertanda pemerintah tidak memiliki kepemimpinan yang kuat kalau berkaca pada luasnya masalah yang dihadapi rakyat Indonesia. (detikFinance, 29/3/2020)

Alokasi dana yang terus berubah tersebut mengesankan kebijakan yang penuh keraguan. Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah tidak sigap dan tidak siap menjadi perisai bagi rakyat dalam menghadapi wabah.

Padahal salah satu tugas pemimpin adalah untuk melindungi rakyat dari segala bahaya. Baik bahaya yang menyerang keimanan (akidah) maupun bahaya secara fisik yang mengancam jiwa. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat terhadap apa yang dipimpinnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam (waliyul amri) yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya." (HR. Al-Bukhâri no.893 dan Muslim no.4828)

Oleh karena itu, bagi seorang pemimpin Muslim hendaknya mengikuti aturan Islam dalam berbagai pengambilan kebijakan. Hendaknya juga menjadikan Rasulullah dan para sahabatnya sebagai teladan. Karena Rasululullah dan para sahabatnya telah membuktikan keberhasilan yang gemilang dalam menyejahterakan rakyat.

Sebut saja Umar bin Khattab yang merupakan salah satu dari Khulafaur Rasyidin. Kepemimpinan Umar Radhiyallahu 'anhu layak dijadikan teladan, termasuk tentang bagaimana ketika Umar menghadapi wabah yang menyerang rakyatnya. Pada masa paceklik dan kelaparan, Umar Radhiyallahu 'anhu hanya makan cuka dan minyak sehingga kulitnya berubah menjadi hitam. Umar Radhiyallahu 'anhu berkata: "Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan."

Amirul Mukminin Umar juga segera membagi-bagikan makanan dan uang dari Baitul Mal hingga gudang makanan dan Baitul Mal (pos harta) kosong total. Kemudian dia mengirimkan surat kepada dua gubernur untuk memberikan bantuan kepada wilayah yang sedang mengalami paceklik dan kelaparan. Bantuan pun datang hingga terpenuhi kebutuhan rakyat dan terbebas dari kelaparan.
Begitulah gambaran ketika aturan Islam diterapkan di tengah umat. Tidak ada sekat wilayah bangsa, yang ada adalah ikatan akidah Islam. Sehingga setiap Muslim akan selalu membantu saudaranya yang terkena musibah. Bantuan yang ikhlas hanya mengharap balasan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bukan bantuan yang berasaskan manfaat apalagi utang riba. Sungguh, ketika seluruh penduduk negeri beriman, Allah akan melimpahkan berkah-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)

Dengan demikian, hendaklah para pemimpin Muslim menjadikan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin sebagai teladan. Salah satunya adalah dengan meneladani cara Umar bin Khattab dalam menangani musibah yang menyerang rakyatnya. Semua itu akan sempurna jika aturan Islam juga diterapkan secara menyeluruh oleh negara.

Wallahu a'lam bish shawwab.
 
Top