Oleh : Nur Ilmi Hidayah
Guru Bimbingan dan Konseling, Member AMK

Remaja adalah tonggak perubahan bangsa, di pundaknyalah masa depan bangsa digantungkan. Remaja sejatinya punya peran mulia, salah satunya adalah sebagai agen perubahan. Tuntutan peran inilah yang mengharuskan para remaja peka terhadap kondisi masyarakat dan lingungan di sekitarnya. Peran ini juga yang menjadikan remaja-remaja di masa kemerdekaan dulu, bergerak untuk memikirkan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.

Namun, ternyata gelombang sistem kapitalisme liberal yang diterapkan di negeri ini rupanya telah mengerus idealisme remaja hari ini. Remaja seakan lupa jati dirinya hingga perubahan bangsa. Ia secara tidak langsung justru menjadi benih-benih perusak bangsa. Sering kita saksikan berita tentang kerusakan moral remaja. Berbuat mesum, mencuri, membunuh, mengonsumsi narkoba, mabuk-mabukan dan lain sebagainya.

Inilah realita remaja dalam sistem kapitalisme liberal. Sistem inilah yang melahirkan orang-orang individualis dan berperilaku serba bebas. Kapitalisme berorientasi mencari keuntungan semata. Liberalisme, berorientasi pada kebebasan, sehingga menjadikan individu-individu yang ada di dalamnya bertingkah laku serba bebas. Dampak dari sistem kapitalisme liberal ini pun akhirnya menghambakan segala cara untuk bisa mendapatkan banyak materi. Tak jarang mereka yang akhirnya terjebak pada gaya hidup serba bebas, bahkan sampai menghantarkan pada seks bebas.

Ideologi kapitalisme ini tercipta untuk : 

Pertama, dengan asas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang jelas telah menuntun manusia agar menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan agama justru dianggap sebagai racun yang menghambat manusia. Walhasil, generasi yang tumbuh dalam sisten kapitalisme menjadi generasi yang rusak.

Kedua, paham liberalisme (kebebasan) dan permisifme (serba boleh) yang dipuja dalam sistem kepitalisme otomatis mendorong manusia untuk berbuat sekehendaknya. Tidak mengherankan jika generasi yang hidup dalam kubangan sistem ini banyak yang terperosok ke dalam berbagai jurang kemaksiatan.

Ketiga, perilaku hedonisme (berhura-hura) yang ditumbuhsuburkan oleh kapitalisme telah menghipnotis manusia, termasuk remaja untuk berlomba-lomba menikmati kemewahan dan kesenangan duniawi semata. Terlena dan lupa dengan negeri akhirat.

Keempat, kepitalisme menyuguhkan materi sebagai sumber kebahagiaan dan kesuksesan. Generasi yang dibesarkan dalam sistem kapitalisme juga ikut berlomba mengejar materi. Standar terpuji, tercela, halal, haram, seolah mereka tidak memperdulikannya lagi.

Jika kita kembali pada aturan Islam, maka tingkah laku remaja sangatlah jauh dari nilai-nilai keislaman. Bobroknya moral generasi bangsa ini menjadi sebuah bencana di masa depan. Bagaimana tidak? Remaja yang seharusnya menjadi tonggak estafet kepemimpinan di masa depan, akan tetapi jauh dari harapan. Remaja seharusnya menjadi pewaris budaya luhur, justru menjadi korban budaya kufur.

Sejatinya, remaja berprestasi adalah remaja yang mampu melejitkan segala potensi dirinya untuk kemaslahatan umat. Prestasi yang tidak diukur untuk materi atau ketenaran belaka layaknya pemahaman yang dilahirkan sistem kapitalis-sekularis, melainkan pahala dan keridaan Allah Swt. Remaja dapat dikatakan berprestasi bila berhasil mendidik dirinya dengan kecerdasan yang maksimal dan menghasilkan perilaku mulia dan beramal positif di tengah-tengah masyarakat.

Melihat pada sejarah Islam, begitu banyak remaja yang dapat mengukir prestasi yang gemilang dalam naungan Islam. Salam Al-Farisi misalnya, dia adalah seorang pencetus ide pembuatan parit untuk menghadang puluhan ribu musuh yang tidak sebanding jumlahnya dengan kaum muslimin pada waktu itu. Selain itu, ada Khalid bin Walid seorang panglima yang sangat cerdas dalam mengatur strategi peperangan sehingga ia terkenal sebagai sosok pemuda yang tidak pernah kalah dalam berperang walaupun umurnya masih sangat belia, namun semangat kepemudaannya selalu ia kobarkan.

Selain itu, Zaid bin Tsabit di usianya yang ke-13 tahun menjadi penulis wahyu dan dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasulullah saw. Sultan Muhammad Al-Fatih, di usia 22 tahun mampu menaklukkan Konstantinopel, ibu kota Byzantium di kala semua jenderal merasa putus asa.

Sejarah telah membuktikan bahwa, dunia Islam melahirkan banyak remaja yang hebat dalam banyak bidang. Semua itu karena remaja dididik dengan suasana keimanan sejak kecil. Suasana yang hanya akan terwujud jika kehidupan ini berada dalam naungan sistem Islam yang kafah, menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, suatu hal yang utopis dapat melahirkan generasi yang tangguh dan berprestasi gemilang dalam sistem sekuler-kapitalis yang secara nyata telah menghasilkan generasi rusak seperti saat ini.

Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa butuh peran serius negara, masyarakat, juga individu untuk menyelamatkan remaja dengan mengembalikan perannya masing-masing. Serta mengembalikan syariat Islam sebagai rujukan dan pondasi paripurna untuk mengatur bangsa dan peradaban.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top