Oleh: Ida Wahyuni, SE
(Komunitas Ibu Peduli Generasi)

lenteranyahati.com--Pandemi covid 19 sukses memukul sendi perekonomian negara. Alhasil, para Pejabat sibuk berburu hutang pada IMF dengan dalih APBN negara colep  . Sebagaimana dilansir oleh Republika.co.id menyatakan bahwa, kenaikan utang pemerintah pascapandemi semakin mengkhawatirkan. 

Dalam tiga bulan pertama 2020, stok utang pemerintah rata-rata bertambah Rp 138,2 triliun per bulan, melonjak 4 kali lipat dari rata-rata periode Juli 2013-Desember 2019.
Imbasnya, beban bunga utang melonjak hampir empat kali lipat dalam satu dekade terakhir, dari Rp 88,4 triliun pada 2010, menjadi Rp 335,2 triliun pada 2020. Pada saat yang sama, pembayaran cicilan pokok utang berlipat lebih dari empat kali, dari Rp 127 triliun menjadi Rp 539 triliun.

Alokasi belanja modal, subsidi, dan bantuan sosial selalu merupakan residual belaka, bahkan dengan proporsi yang terus menurun. Secara ironis, hal ini justru semakin memuncak di kala pandemi menghampiri. 

Ironi Beban Hutang

Inilah fakta negeri ini, beban hutang sangat mengkhawatirkan dan mencekik. Lebih dari cukup untuk membuat seseorang tidak bisa tidur. Karena entah kapan dan bagaimana bisa terlunasi beban hutang tersebut. lebih-lebih dana yang digunakan untuk membayar hutang berasal dari hutang baru lagi, gali lubang tutup lubang.
Sementara, beban bunga lambat laun semakin meroket. Ibarat sudah jatuh ketiban gunung berapi pula, hancur dan hangus.

Ironisnya, rakyat yang harus memikul beban hutang tersebut.
Faktanya, rakyat tidak ikut menikmati. Tidak juga dilibatkan atau dimintai restunya untuk menambah hutang negara. Malah lebih banyak lari ke kantong pribadi sang Pejabat. Wajarlah jika korupsi sudah menjadi budaya dan merajalela. Begitupun sang koruptor masih mendapat perlakukan dan fasilitas istimewa di penjara. Sedangkan si Miskin harus menangis penuh luka.

Di sisi lain, SDA dan SDM yang melimpah, tidak digarap dan dikelola dengan maksimal. Justru, diserahkan kepada Pengusaha Kapital dan Koorporasi. Demi sebuah obsesi dan keuntungan pribadi atau kelompok mereka.

Kemiskinan dan kesenjangan semakin mengangah. Namun Pejabat tak ada sedikitpun rasa iba hanya sebuah pencitraan semata.
Alhasil, kini rakyat menjadi buruh di negeri sendiri. Sumber Daya Alam dikangkangi Asing dan Aseng. Kekayaan bumi inipun diangkut dan dijarah oleh rezim Kapitalis demi memuaskan nafsu mereka.

Padahal jika Pemerintah amanah dalam setiap kebijakannya, swasembada pangan dan bebas hutang bukanlah sebuah hal yang mustahil.
Beginilah topeng Kapitalisme yang berjalan di atas sistem kemanfaatan. Tak ada standart baku kecuali keuntungan. Jalan terjal keharamanpun tak masalah diterjang demi sebuah kepentingan. Walaupun rakyat menjadi tumbal keserakahan si pemilik modal, tak masalah asal bisa menghantarkan pada tujuan.

Kedudukan Hutang Dalam Pandangan Islam

Hutang piutang dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah Al-Qardh. Makna Al-Qardh secara etimologi (bahasa) ialah Al-Qath’u berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang.
Sedangkan secara terminologis (istilah syar’i), makna Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan pinjamannya. (Lihat Fiqh Muamalat (2/11), karya Wahbah Zuhaili).
Sejatinya, Islam membolehkan hutang piutang. Namun dalam pengembalianya tidak boleh kurang ataupun lebih, karena keduanya adalah riba. Sementara Allah mengharamkan riba.

Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS: Ali 'Imran, Ayat : 130)
Di sisi lain, Rasulullah saw menganjurkan untuk meninggalkan hutang karena banyak kemudharatannya. Hutang menyebabkan kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari.

Hutang juga dapat membahayakan akhlaq, beliau bersabda:
“Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari).
Bahkan hutang bisa menjerumuskan orang ke jurang api neraka, Rasulullah bersabda:
“Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya”. (HR. Muslim).

Itulah mengapa Rasulullah pernah menolak untuk mensholatkan jenazah, seseorang yang mempunyai hutang karena ia tidak meninggalkan warisan apa pun untuk membayar hutangnya.
Begitulah kedudukan hutang dalam pandangan Islam. Maka, sejatinya seorang pemimpin tidak boleh menghidupi rakyatnya dengan hutang yang menggunung. Apalagi membebaninya dengan bunga (riba) yang terus meroket, yang jelas itu diharamkan dalam Islam.

Ironisnya, eksistensi hutang bagi sebuah negara adalah penjajahan. Tak hanya di sektor ekonomi, tapi dalam setiap kebijakan politikpun akan terpaksa tunduk pada negara pendonor. Kedaulatan negara akan dikebiri. Hingga jabatan kepemimpinan hanya menjadi sebuah jargon semu belaka.

Di sinilah dibutuhkan sebuah sistem dan pemimpin yang tangguh. Yang mampu mensejahterahkan rakyatnya tanpa hutang dan intervensi negara lain. Terbukti hanya sistem Islamlah yang mampu. Dan pernah diterapkan secara kaffah selama 1400 tahun. Yang  mampu menjadi negara adidaya hingga menguasai sepertiga dunia. Bahkan, negeri-negeri Eropa dan Baratlah yang tunduk di bawah eksistensinya.

Namun, kini ketika sistem Islam ditinggalkan. Hancurlah negeri-negeri Muslim dan tercerai berai dalam tirani Barat. Di sekat-sekat dalam bilik-bilik kebangsaan. Di jajah, di jarah dan menjadi boneka Kapitalisme. 

Maka, sudah saatnya kaum Muslimin bangkit dan bersatu kembali dalam sistem Islam. Yang nyata mampu memberi kemaslahatan bagi dunia.
Lebih-lebih sistem ini berasal dari Tuhan Semesta Alam yang pasti kebenarannya. 

Allah berfirman:
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (QS Al-Ma’idah, ayat 50).
Wallahu a’lam bisshowwab.

 
Top