Oleh: Anisa Rahmi Tania

Belum lama masyarakat dibingungkan dengan kata mudik dan pulang kampung, kini masyarakat kembali dibuat bingung dengan pernyataan yang dilontarkan Pak Presiden.

Sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Presiden RI, Joko Widodo, mengeluarkan statement mengejutkan melalui akun media sosialnya. Jokowi meminta agar masyarakat berdamai dengan covid-19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan.

Menurutnya perang melawan pandemi ini harus diikuti dengan roda perekonomian yang berjalan. Oleh sebab itu, dengan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini, masyarakat diharapkan bisa melakukan aktivitas walaupun dengan penyekatan pada beberapa hal.

Sontak pernyataannya menuai kritikan dari berbagai pihak, salah satunya dari pengamat komunikasi politik, Kunto Adi Wibowo, menurutnya istilah damai yang dilontarkan Pak Presiden seakan melegitimasi perilaku masyarakat yang tidak patuh terhadap penerapan PSBB.

Selain itu diksi ini memang bertentangan dengan yang sebelumnya ia sampaikan di acara KTT G20. Pernyataannya kala itu mengajak para pemimpin negara G20 untuk bersama-sama memenangkan dua peperangan yaitu melawan covid-19 dan melawan pelemahan ekonomi dunia.

Pemerintah memang kerap kali menggunakan diksi yang membingungkan. Tengok saja beberapa kebijakannya. Satu sisi dianjurkan untuk tidak mudik, tapi armada angkutan umum diperbolehkan kembali beroperasi.

Sehingga tak heran jika masyarakat memandang remeh penerapan PSBB ini. Saat pelonggaran PSBB diberlakukan banyak yang keliling mall untuk berburu baju lebaran atau mencari kudapan takjil puasa dengan berdesakan.

Sementara, pemerintah bersama BPIP, di saat pandemi masih menyelimuti negeri ini malah menggelar konser dengan mengangkat tema 'bersama melawan corona'. Tak hanya itu, saat pembagian bantuan sosial pun terjadi antrean panjang yang berdesakan.

Dari semua itu, pantaslah jika banyak pihak yang menyayangkan dan mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam membendung penyebaran virus wuhan. Juga keseriusan pemerintah menangani permasalahan lain sebagai dampak dari pandemi ini. Seperti pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat, penyediaan alat kesehatan dengan maksimal, dan perlindungan pada tenaga medis yang berjuang di garda depan.

Nyatanya, dengan keluarnya statement berdamai dengan Corona dibarengi dengan pelonggaran PSBB saat pasien terinfeksi virus ini terus meningkat, memperjelas berlepastangannya pemerintah atas penanganan virus ini.

Seakan pemerintah sudah angkat tangan dan menyerahkan semuanya pada alam. Inilah gambaran nyata dari wajah buruk kapitalisme.

Dalam sistem ini sulit mengeluarkan anggaran untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Termasuk untuk memenuhi alat kesehatan para tenaga medis, seperti APD. Walaupun kebutuhan tersebut terbilang vital.

Dalam sistem ini tetaplah untung rugi yang menjadi perhitungan utama. Bukan keselamatan para tenaga medis atau nyawa masyarakat. Sehingga gugurnya puluhan tenaga medis karena minimnya APD. Atau meninggalnya seorang ibu karena kelaparan selepas suaminya terkena PHK, tak cukup membuat mata, telinga, dan hati penguasa bangsa ini terbuka.

Hingga muncul kritikan tajam dari dunia Maya dengan memasang tagar #Indonesia, terserah. Saking muaknya masyarakat yang sadar akan keberbahayaan virus ini dan berempati terhadap kerja keras para nakes.

Namun, pemerintah tak bergeming. Selama dalam benaknya masih bercokol ide dasar kapitalisme sekuler, maka pola pikirnya tak akan pernah berubah. Penerapan sistem inilah yang semakin membuat akar-akar pemikiran kapitalisme sekuler semakin dalam masuk ke benak seluruh masyarakat termasuk pemerintah.

Hanya dengan mengganti sistem rusak ini dengan Islamlah kebaikan hidup akan direngkuh. Karena Islam adalah sistem paripurna. Aturannya sempurna dan menjadi satu-satunya penyelesai atas setiap permasalahan hidup manusia.

Termasuk dalam penanganan wabah pandemi. Jauh berabad-abad silam Rasulullah Saw telah mencontohkan cara efektif dalam menangani terjadinya wabah. Yakni dengan melakukan karantina.

Wilayah yang terkena wabah ditutup total. Orang yang telah berada di wilayah tersebut dilarang keluar, sementara yang berada di luar dilarang pula untuk masuk. Segala kebutuhan hidup masyarakat yang ada di wilayah penyebaran wabah tersebut disuplai dari daerah yang aman dari wabah.

Mereka yang sakit diobati dengan maksimal. Ekonomi di luar wilayah wabah tetap berjalan dengan normal. Sehingga bisa membantu wilayah terkena wabah sampai wabah tersebut hilang.

Demikianlah Islam mengajarkan ketegasan dalam mengambil kebijakan dengan menempatkan keselamatan nyawa masyarakat sebagai yang utama. Begitu juga kebutuhan hidup masyarakat yang berada di wilayah wabah, pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara seratus persen.

Hal ini hanya bisa terlaksana jika sistem Islam diterapkan. Penguasa dan para pemimpin dalam Islam memegang amanah dengan kuat di atas landasan takwa kepada Allah. Masyarakat pun mengikuti arahan pemerintah/negara karena ketaatannya pada Allah, Rasulullah, dan Ulil Amri yang menerapkan syariahNya.

Sehingga penyebaran wabah virus atau penyakit berbahaya lainnya bisa teratasi dengan cepat dan tepat.

Wallahu'alam
 
Top