Oleh : Siti Mariyam, S.Pd
Pendidik dan Anggota Komunitas Penulis Setajam Pena

Beberapa hari belakangan ini, istilah new normal sedang ramai dibicarakan publik. Istilah ini mulai ramai dibicarakan setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa Indonesia akan memasuki tatanan kehidupan baru atau new normal meskipun kasus Covid-19 di Indonesia belum berakhir.

Wacana new normal ini terus diopinikan oleh pemerintah sebagai jalan untuk menghidupkan kembali sektor ekonomi yang terpuruk akibat pandemi. Jokowi menginginkan masyarakat tetap produktif tapi aman dari virus Corona. Guna menyambut era new normal ini, maka perkantoran, industri maupun instansi pemerintahan diharapkan mulai mempersiapkan diri dengan protokol kesehatan yang akan diterapkan saat era new normal diberlakukan.

Pernyataan Presiden Jokowi mengenai era new normal ini langsung menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Banyak kalangan yang menolak kebijakan tersebut. Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari. (merdeka.com, 25/5/2020)

Anggota DPR dari fraksi PKS, Dr Sukatma lewat akun twitternya bahkan berkicau, pemerintah seharusnya menjelaskan secara jujur tentang situasi penangan Covid-19 di Indonesia. Dia menanyakan, benarkah situasi penanganan Covid-19  sudah terkendali, atau wacana new normal ini hanya sebagai kedok untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah tangani Covid-19. (viva.co.id, 29/5/2020)

Banyaknya pihak yang menolak penerapan era new normal di Indonesia adalah suatu hal yang lumrah, mengingat kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia sampai saat ini masih sangat tinggi. Sampai hari Jumat, 29 Mei 2020, Gugus tugas penanganan Covid-19 mencatat penambahan kasus positif Covid-19 sebanyak 678 orang sehingga total kasus menjadi 25.216. (cnbcindonesia.com, 29/5/2020)

Penerapan era new normal di saat kasus positif Covid-19 di negeri ini masih sangat tinggi adalah hal yang sangat berbahaya. Dengan jumlah kasus positif Corona yang masih belum menurun, maka penerapan era new normal ini bisa menjadikan Indonesia menghadapi gelombang kedua kasus Covid-19 yang lebih besar lagi yang akan menambah beban berat tenaga kesehatan dan masyarakat.

Dengan ancaman resiko bahaya yang lebih besar seperti sudah diungkapkan oleh banyak pihak, akan tetapi pemerintah tetap bersikeras untuk menjalankannya. Terbukti, pada hari Selasa, 26 Mei 2020 lalu, Jokowi mendatangi kawasan perniagaan di Summarecon Mall Bekasi untuk meninjau persiapan penerapan new normal saat mall dibuka setelah PSBB berakhir.

Untuk siapakah sebenarnya kebijakan ini dibuat? Jika alasannya adalah untuk menghidupkan kembali sektor ekonomi, apakah ini berarti nyawa dan keselamatan rakyat tidak lebih berharga daripada kepentingan ekonomi? Bukankah hidupnya sektor ekonomi muaranya juga untuk kelangsungan hidup rakyat?

Kebijakan pemerintah untuk tetap menerapkan era new normal di saat kondisi negeri ini belum kondusif dari wabah Corona, telah menunjukkan kepada kita semua betapa zalim dan jahatnya pemerintah saat ini. Bagi mereka, kematian dari para tenaga medis dan rakyat seakan tidak terlalu penting. Karena yang lebih penting adalah pasar, mall, kantor, industri, dan pusat keramaian kembali dibuka, sehingga sektor ekonomi bisa kembali hidup. Tentu hal ini bukan untuk rakyat yang melarat, tetapi untuk para pemilik usaha yaitu para kapitalis, pemilik modal dan kroni-kroni.

Dengan diterapkannya era new normal, akan semakin menambah kebingungan dan keresahan rakyat, serta menambah karut marutnya penanganan Covid-19 oleh penguasa. Kebijakan ini menunjukkan bahwa penguasa lebih mementingkan ekonomi dan korporasi, tapi abai terhadap keselamatan rakyat. Inilah rezim yang zalim dan jahat yang sangat dibenci oleh Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
“Manusia yang paling dibenci oleh Allah Swt. dan paling jauh kedudukannya dari-Nya adalah pemimpin yang jahat.” (HR. at-Tirmidzi)

Adanya wabah Covid-19, semakin memperlihatkan kepada kita semua, betapa zalimnya penguasa sekuler kapitalis. Kekuasaan mereka tidak tunduk pada aturan Allah Swt., tetapi lebih memilih menggunakan aturan buatan manusia. Penguasa seperti inilah yang justru melahirkan kerusakan dan kezaliman yang nyata untuk rakyat.

Hal ini berbeda dengan penguasa Islam, dimana kekuasaannya tunduk pada Allah Swt. Para penguasa Islam yaitu khalifah menjalankan kekuasaannya dengan menggunakan aturan dari Allah Swt. Kepentingan rakyat menjadi prioritas utama mereka. Harta, kehormatan dan nyawa rakyat akan dilindungi dengan maksimal oleh khalifah. Dan kekuasaan seperti ini telah dibuktikan dan dijalankan oleh para khalifah dalam sistem khilafah Islam.

Oleh karena itulah, sudah saatnya kita kembali kepada kekuasaan Islam, yang menjadikan akidah Islam sebagai asas kehidupan dan syariat Islam sebagai aturannya. Kekuasaan Islam inilah yang akan membawa negeri kita menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Insyaallah.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top