Oleh : S.W. Retnani, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Memasuki bulan Ramadan dan menjelang hari raya Idul Fitri, umat Islam pasti disibukkan dengan persiapan menu makanan yang istimewa. Mulai dari rendang, opor, tongseng, kari, sate, rawon, dan lain-lain, siap untuk disajikan. Seperti sudah menjadi tradisi di Nusantara. Sebab itulah, menjelang hari-hari besar keagamaan harga daging melonjak tinggi. Akibatnya, banyak para pedagang yang bermain curang. Misalnya: menimbun barang, mengurangi kualitas barang, bahkan ada yang menipu pelanggan.

Apalagi di musim pandemi wabah Covid-19 seperti saat ini. Perekonomian terguncang, masyarakatnya banyak yang mengeluhkan kebutuhan hidup yang semakin sulit, ditambah pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) oleh pemerintah yang tidak diiringi pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Dilema pun menyerang umat. Kemiskinan, kebingungan, kesulitan dan kurangnya keimanan menggiring segelintir orang melakukan kejahatan dan penipuan. Sebagaimana dilansir oleh www.pikiran-rakyat.com (05/05/2020), bahwa BBPOM (Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan) di Bandung menemukan sedikitnya 30% sampel produk yang diperiksa di pasar Baleendah mengandung bahan berbahaya. Bahkan beberapa hari yang lalu ditemukan daging babi yang dioplos atau diolah agar mirip seperti daging sapi. Tak tanggung-tanggung mereka mengedarkan dan menjual daging babi ini sekitar 63 ton. Sungguh kejahatan yang sangat memalukan dan memilukan di negeri Zamrud Khatulistiwa, dimana negeri ini mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Semua orang pasti tahu daging babi haram dimakan bagi para pemeluk agama Islam.

Allah Swt. berfirman :
"Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." 
(QS. al-Baqarah : 173)

Masalah peredaran daging babi yang berulang setiap tahun, merupakan buah dari sistem sekuler kapitalisme yang diemban oleh rezim saat ini. Sistem yang menjauhkan umat dengan agamanya, sistem yang hanya mengutamakan kepentingan para pemilik modal, sistem yang menjadikan negara ini dijajah asing dan aseng, sistem yang menjadikan rakyatnya sebagai sapi perahan, sistem kufur yang menjadikan Nusantara negeri pengekor, tak memiliki kedaulatan seutuhnya. Zalimnya rezim sekuler penganut demokrasi ini, bagai musang berbulu domba. Semua kebijakannya mencekik rakyat, bahkan untuk pemberantasan peredaran daging babi pun tidak mampu diselesaikan. Hal ini terus berulang tiap tahun.

Kelalaian penguasa dalam melindungi umat tak hanya di sektor pangan saja. Keamanan, kesehatan, lapangan kerja, pendidikan, perekonomian dan aspek-aspek lainnya. Semua ini menggambarkan rapuhnya sistem sekuler kapitalisme.

Berbeda dengan sistem Islam yang telah terbukti menjaga, menyejahterakan dan melindungi umat hingga belasan abad. Sistem Islam yang menerapkan syariat Islam secara kafah akan memberikan keamanan yang hakiki. Para pengedar daging babi akan dihukum dengan hukuman yang membuat jera dirinya dan orang lain yang berniat melakukan kemaksiatan yang sama. Tak hanya itu, dengan penerapan hukum Islam umat akan lebih bertakwa kepada Sang Khalik sehingga tidak akan muncul niatan untuk berbuat tipu daya dan dosa. 

Sistem Islam mewajibkan para penguasa untuk dapat melayani umat sebaik mungkin. Pemerintah dengan sigap menyediakan seluruh kebutuhan umat, baik pangan, sandang dan papan. Maka kesejahteraan, kedamaian dan keadilan akan dirasakan serta dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, baik yang beragama Islam maupun non Islam.

Inilah yang menjadikan Islam mampu menguasai dua pertiga dunia selama 13 abad. Sungguh kemuliaan, keberkahan dan rahmat dari Allah Swt. hanya dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. 

Saudaraku, dilema daging haram pun takkan pernah terjadi di negeri kita, negeri indah yang dijuluki Zamrud Khatulistiwa. Saatnya kita wujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan penerapan syariat Islam kafah di seluruh penjuru bumi.
Wallahu A'lam Bishshawab.
 
Top