COVID-19: Antara Berdamai atau Melawan 

Oleh: Siti Inayah 


Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Cabang, Bekasi, mengaku khawatir dengan pernyataan Presiden Jokowi yang meminta masyarakat untuk hidup berdamai dengan COVID-19. Ketua ARSSI, Dokter Eko S. Nugroho mengatakan, pesan perdamaian tersebut harus diiringi dengan usaha. Beliau juga menegaskan, saat ini Indonesia tidak bisa berdamai dengan COVID-19 lantaran tenaga medis yang menjadi korban dan terinfeksi virus tersebut semakin banyak. (KedaiPena.com  11/05/2020)

Manusia bisa hidup damai dengan sesuatu yang baik, selaras, mendukung dan aman, sehingga kemungkinan besar manusia tidak bisa hidup damai dengan sesuatu yang membahayakan atau merugikan.
Kita semua tahu bahwa virus adalah sejenis parasit yang memiliki sifat yaitu ia membutuhkan makhluk hidup atau individu untuk berkembang. Ini jelas akan merugikan individu yang menjadi tempat berkembangnya virus tersebut bila daya tahan tubuhnya kurang baik. Sifat virus lainnya adalah cepat dalam penyebaran.

Penanganan dari pemerintah mulai dari mengimpor obat dan alat kesehatan dari luar negeri ternyata itu dijadikan sebagai alat meraup keuntungan oleh para korporasi yang berlindung dibalik kebijakan penguasa, Alat Pelindung Diri yang kekurangan dan tidak sesuai standar,  alat rapid test yang kurang akurat, sarana dan prasarana rumah sakit yang kurang memadai. Disamping itu jalur masuknya virus asal Wuhan ini tidak ditutup rapat-rapat, ditambah adanya ketidakjelasan instruksi dari pemerintah sehingga membuat rakyat bingung, bantuan yang sulit didapatkan karena adanya persyaratan bahkan tidak tepat sasaran. 
Upaya itu semua belum mampu memberhentikan laju perkembangan COVID-19 di negeri ini.
Tidak memberikan solusi tuntas bagi rakyat, terutama bagi tenaga medis yang secara langsung bertempur menghadapi dan melawan virus tersebut.

Ada satu sistem atau aturan kehidupan yang mampu memberikan keamanan dan menjamin kehidupan rakyatnya bahkan memberi solusi tuntas dalam menghadapi musibah atau suatu permasalahan yaitu sistem yang yang diatur sepenuhnya oleh Islam.
Ini bisa dibuktikan dengan meneladani salah satu pemimpin yaitu Khalifah Umar Bin Khattab ra.
Dalam menghadapi wabah, yang pertama kali ia lakukan adalah dengan tidak memasuki wilayah yang terkena wabah dan melarang rakyat yang ada di dalam wilayah tersebut untuk tidak keluar (upaya tegas dalam menghentikan penyebaran virus).

Lembaga-lembaga pemerintahan yang berhubungan langsung dengan pemenuhan kebutuhan rakyat yang bergerak dibidang finansial atau yang lainnya langsung diminta bergerak cepat. Khalifah sendiri yang bekerja didalam posko-posko tersebut, memastikan semua berjalan optimal.

Abu Hurairah ra. menceritakan dengan gamblang bagaimana Khalifah Umar ra. melakukan itu semua. Saya pernah melihat beliau pada tahun kelabu memanggul dua karung di atas punggungnya dan sewadah minyak berada di tangannya, ia meronda bersama Aslam. Tiba-tiba ada sekelompok orang yang berasal dari 20 kepala keluarga datang karena kelaparan, kemudian Khalifah Umar memasak dan memberi mereka makan  hingga kenyang. Khalifah Umar selalu shalat dipenghujung malam lalu keluar rumah dan meronda.

Khalifah Umar sendiri yang bekerja dalam posko-posko untuk memastikan semua berjalan optimal.
Beliau pun memerintahkan untuk bergerak cepat dalam menangani wabah ini, segala upaya dilakukan, perhatian dan pengorbanan dicurahkan sepenuhnya, serta dibarengi dengan doa-doa yang terus diulang dan penuh kesungguhan.

Al Faruq merasakan beban derita rakyatnya. Rasa tanggung jawabnya atas pemerintahan dihadapan Allah yang mampu mengatasi kesulitan-kesulitan diri. Ia selalu mendirikan salat, selalu beristighfar, selalu memenuhi kebutuhan kaum muslim. Subhanallah 


Wallahu'alam bishshawab
 
Top