Oleh : Sherly Agustina, M.Ag
(Member Revowriter dan WCWH)

Allah Swt. berfirman : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka, Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (TQS. al-Ankabut : 2-3)

Sejak diumumkan awal Maret hingga hari ini sudah 2 bulan lebih wabah melanda  negeri ini. Namun, belum terlihat tanda-tanda wabah ini akan segera berakhir. Rakyat resah dan gelisah di saat wabah, tak tahu apa yang harus dilakukan. Rakyat berusaha 'manut' sejak kebijakan Social Distancing hingga PSBB. Masalahnya, ketika rakyat manut di rumah, apakah pemerintah siap menjamin kebutuhan pokok rakyat? Sementara rakyat pun manusia butuh makan untuk isi perut, apalagi kondisi puasa sudah menahan lapar seharian penuh.

Sebagai hamba-Nya yang mengaku beriman, maka corona ini bisa jadi ujian. Ujian keimanan, apakah akan semakin meningkat keimanan dan kepasrahan kepada Allah atau tidak. Karena keimanan butuh bukti bukan janji. Jika benar beriman, maka hanya akan tunduk dan pasrah pada yang menciptakan wabah ini. Semua yang terjadi tidak lepas dari kehendak Allah (qodho), maka tugas seorang hamba rida terhadap qodho dan sabar pada ujian Allah Swt.

Allah Swt. berfirman : "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka." (TQS. al-Haj : 34-35)

Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (TQS. al-Baqarah : 153)

Luar biasa kondisi seorang mukmin di dalam Islam seperti yang Rasul saw. gambarkan dalam sebuah hadis : "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati, kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, Nomor 2999)

"Tidaklah suatu musibah menimpa seseorang melainkan Allah menghapuskan dosanya dengan sebab itu, sampai pun duri yang menusuknya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pilihan saat diuji adalah rida pada ketentuan-Nya dan sabar. Jika bersabar, Allah akan beri kabar gembira dan dihapuskan dosa-dosanya. Betapa Allah Maha Baik, walaupun Allah memberi musibah atau ujian di balik semua itu tetap diberi pahala dan dihapus dosa bagi yang bersabar.

Semua yang terjadi pasti yang terbaik untuk hamba-Nya. Corona ini mengingatkan hamba-Nya, bahwa sebagai hamba lemah dan terbatas. Mudah bagi Allah melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Corona bisa jadi juga teguran untuk hamba-Nya yang selama ini lalai pada-Nya. Merasa sombong dengan aturan yang dibuat oleh manusia, Allah tunjukkan ketika diberi wabah berupa makhluk mungil ternyata manusia tak berdaya. Aktivitas terhenti, sekolah, pekerjaan sebagian WFH, ekonomi, sosial dan sebagainya. Bahkan krisis melanda di depan mata, lalu apa solusi dari manusia yang lemah dan terbatas?

Diberi ujian bahkan ditegur, negeri ini bukan tersungkur dan tafakur mendekat kepada Allah malah semakin menjauh. Melakukan kebijakan dengan perhitungan untung dan rugi, padahal amanah mengurus rakyat akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya kelak. Memberi bansos berbelit dan pelit, dengan dalih kelengkapan data dan administrasi. 

Rakyat PHK dan dirumahkan tak diberi jaminan atau lapangan pekerjaan, sementara WNA bebas keluar masuk ke negeri ini dan mudah mendapat pekerjaan. Kartu PraKerja yang digadang-gadang nyatanya belum memberi solusi tuntas. Di beberapa tempat, rakyat mati kelaparan karena belum terpenuhinya kebutuhan pokok sementara mereka dilarang untuk keluar rumah. Rakyat seakan menjadi tumbal keserakahan segelintir elit politik dalam sistem kapitalisme.

Dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 109, Allah berfirman: “Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Kemudian dalam Surat al-Qashash ayat 59: “… dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman."

Ayat-ayat di atas patut direnungkan, bahwa Allah tidak akan zalim jika ada yang berbuat kebaikan. Sebaliknya, Allah akan binasakan suatu tempat jika penduduknya zalim. Masuk kategori yang manakah negeri ini? 

Makhluk mungil ini ciptaan Allah, maka kembalikanlah pada aturan Allah bagaimana cara menyelesaikannya. Tak ada pilihan lain jika ingin selamat dan tuntas, pilihan ada pada pemegang kebijakan negeri ini. Di bulan Ramadan ini, mari banyak berdoa mengetuk pintu langit agar negeri ini segera keluar dari wabah dan semua masalah. Para pemegang kebijakan semoga diberi hidayah dan dibukakan hatinya agar mau menerapkan aturan Allah yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

"Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. al-Baqarah [2] : 269)

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.
 
Top