Oleh : Tutty Amalia
(Founder Kajian Muslimah WAG MQ Lovers Bekasi)

Penyebaran virus SARS-Cov-2 atau COVID-19 menjadi tren teori konspirasi paling anyar. Teori ini mencuat setelah tiga orang yang belakangan mendengungkannya di Indonesia. Mereka adalah Young Lex, Deddy Corbuzier, dan Jerinx, penabuh drum Superman is Dead (SID).

Pada tanggal 20 April 2020, Deddy mengunggah satu video perbincangan dengan Young Lex dalam video berjudul Corona Hanya Sebuah Kebohongan Konspirasi!? Senada dengan perbincangan itu, muncullah Jerinx yang mengumbar analisa wabah Corona sebagai buatan elite. Jerinx mengatakan bahwa kenaikan angka korban adalah permainan guna memuluskan agenda elit global. Ini sudah terjadi sejak wabah diumumkan kacung Bill Gates bernama WHO, katanya (tirto.id). Sikap kritis Jerinx makin menjadi sorotan. Buah pemikiran musisi berusia 43 tahun inipun menuai berbagai reaksi netizen. Banyak dari mereka memberikan kritik hingga cibiran pada Jerinx.

Tuduhan-tuduhan Jerinx terhadap media yang menyembunyikan dan memanipulasi data berita mengenai Covid-19 justru berangkat dari cerita anekdotal yakni tidak didukung oleh bukti objektif dan independen. Ia membangun argumennya dengan kalimat subyektif, “Saya punya teman di beberapa negara tersebut, dan mereka bilang pada saya bahwa rumah sakit kosong”. Parahnya, Jerinx mengeluarkan klaim bahwa di Italia tidak terjadi pandemi.

Tentu keterangan semacam ini tidak bisa ditopang oleh pernyataan satu dua orang teman yang tinggal di sana. Argumen ini ibarat melihat Monas dari lubang sedotan. Klaim yang besar seharusnya ditopang oleh bukti yang besar pula. Jika Jerinx menilai data mengenai jumlah penderita covid-19 yang disodorkan media, baik di dalam dan luar negeri, telah dimanipulasi maka mestinya ia menyuguhkan data tandingan yang valid. Hanya dengan begitu kita baru bisa menganggapnya serius.

Tidak puas dengan argumen di atas, Jerinxpun mengutip pernyataan dua orang yang pernah dan sedang menduduki jabatan Menteri Kesehatan untuk membuktikan bahwa teorinya adalah benar. Jerinx menyitir pernyataan Menkes Terawan bahwa virus ini akan sembuh sendiri. Selain Menkes Terawan, Jerinx juga mengutip pernyataan Menkes era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Siti Fadhillah Supari bahwa WHO & BG (Bill Gates) itu penjahat kemanusiaan.

Tak hanya geger kecurigaannya soal Covid-19 adalah konspirasi, dalam sebuah wawancara di Kompas TV, Jerinx dengan tegas menyinggung bahwa agama adalah salah satu teori konspirasi. "Saya berani bilang agama itu salah satu teori konspirasi juga. Karena tidak ada bukti sains," ucap Jerinx tak tanggung-tanggung.

Mendengar isu yang tengah menjadi buah bibir di kalangan netizen ini, akhirnya Ahmad Dhani angkat suara. Dhani mempertanyakan bagaimana Jerinx bisa berbicara seperti itu melalui video di channel YouTube Video Legend. Ia berharap musisi asal Bali itu memakai otak saat berargumen karena tidak ada yang mengambil keuntungan dari beragama. Dhani meminta penjelasan lebih lanjut ke Jerinx terkait agama sebuah konspirasi dan menyarankan Jerinx banyak belajar lagi dan memperbanyak literasi.

Menurut Dhani, agama itu nggak boleh dibuat main-main. Agama itu sesuatu yang sangat serius dan sakral, maka dari itu para pendiri bangsa menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama bukan nomor lima. Terlebih lagi, pendiri republik ini hampir sebagian muslim dan sebagian besar ulama.  “Jadi jangan coba sekali-kali bermain dengan agama," kata Dhani. (detik.com)

Tak ketinggalan, Ustadz Felix Siauw turut menyikapi ucapan Jerinx bahwa agama itu konspirasi. Menurut Ustadz Felix Siauw, ucapan Jerinx soal agama itu konspirasi adalah omong kosong. Jerinx dinilai tak bisa juga membuktikan bahwa Tuhan tak ada. Logikanya, kalau ada orang mengatakan Tuhan dan agama adalah sebuah konspirasi hanya karena mereka tidak bisa membuktikan adanya Tuhan, maka dengan cara yang sama kita juga bisa menuntutnya membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Menurut Ustadz Felix, tidak semua hal bisa dibuktikan secara sains. Agama contohnya (detik.com).

Cacat berpikir yang ditunjukkan Jerinx berasal dari ketidakmampuannya dalam memilah informasi dan menarik kesimpulan informasi tersebut. Di tengah pandemi seperti sekarang, kemampuan untuk memilah opini dari fakta, informasi dari fiksi sangatlah penting agar tidak tersesat dalam pemikiran maupun perbuatan. Kesesatan berfikir yang ditunjukkan orang-orang semacam ini tidak lain adalah kesempurnaan dari cacatnya sistem sekuler yang enggan menggunakan akalnya untuk berfikir dalam mendalami ilmu agama dan menjadikan agama sebagai tolok ukur setiap perbuatan.

Rasulullah SAW pernah bersabda:
"Berfikirlah kalian tentang makhluk Allah, tetapi jangan kalian berfikir tentang Zat Allah. Sebab, kalian tidak akan sanggup mengira-ngira hakikat-Nya yang sebenarnya." (HR Abu Nu'aim)

Hadits ini menjelaskan bahwa, akal manusia yang terbatas tidak akan mampu membuat khayalan tentang zat Allah yang sebenarnya, bagaimana Allah melihat, mendengar, berbicara, bersemayam di atas Arsy-Nya dan seterusnya. Sebab Zat Allah tidak bisa dianalisa seperti halnya manusia. Akan tetapi akal manusia mampu membuktikan keberadaan sesuatu yang berada di luar jangkauannya jika ada petunjuk atas keberadaan hal tersebut. Semisal kotoran unta menunjukkan adanya unta dan jejak kaki menunjukkan pernah ada manusia yang berjalan.

Sebagaimana Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang beriman. Pada penciptaan kalian dan binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang yakin." (QS Al-Jatsiyat: 3-4)

Kita juga bisa mengikuti perjalanan panjang Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan. Beliau lahir di tengah keluarga dan masyarakat musyrikin. Nabi Ibrahim yang berakal cerdas, berpikiran jernih, dan berhati bening tidak pernah menjadi penyembah berhala. Nabi Ibrahim pun mencari Tuhan yang sesungguhnya. Ia tak percaya Tuhan adalah batu yang diukir ayahnya. Pun begitu dengan matahari, bulan dan bintang yang Ia lihat karena mereka bisa lenyap pada masa yang ditentukan. Dalam pemikiran Nabi Ibrahim, alam ini berubah. Setiap yang berubah itu mempunyai sifat baru. Setiap yang baru pasti membutuhkan yang menciptakan. Yang menciptakan tidak boleh berubah. Dari situlah, Nabi Ibrahim as baru menemukan Tuhan sesungguhnya yang menciptakan langit bumi, bintang, bulan, dan matahari tidak lain adalah Allah SWT Dzat yang Maha Agung.

Dari sini kita bisa lihat betapa pentingnya peranan akal dalam proses menjemput keimanan dengan aqidah yang benar. Dalam agama, aqidah sangatlah penting. Perumpamaan bangunan, aqidah merupakan pondasi yang akan mempengaruhi seluruh bangunan. Karena itu, saat Rasulullah diutus untuk menyampaikan aqidah, rentang waktunya lebih lama dibandingkan menyampaikan ibadah, yakni 13 tahun. Sedangkan menyampaikan ibadah, waktunya hanya sepuluh tahun. Karena aqidah sejatinya yang kelak akan menyelamatkan kita dunia dan akhirat.

Seharusnya negara mampu menghadirkan ruh (kesadaran keterikatan kepada Allah berarti terikat dengan hukum Allah bukan hukum buatan manusia) dalam aktivitas pendidikan, ekonomi, politik, sosial. Hal ini merupakan faktor penting dalam pemenuhan aqidah dalam jiwa seseorang. Saat Syariat Islam mengkristal di setiap sendi kehidupan maka seseorang senantiasa menghadirkan Allah di setiap keadaan baik berucap dan bertingkah laku. Bagaimana mungkin negara dengan segala aturan dan kebijakannya yang tidak mau menerapkan hukum Allah mampu melahirkan generasi-generasi yang memiliki pemikiran mustanir (cemerlang) dalam hal aqidah. Negara dengan sistem liberal-sekuler membebaskan warganya untuk menganut dan memiliki keyakinan tanpa batasan.

Terbukti bahwa sistem ini hanya menjadi alat pemenuh hawa nafsu segelintir orang saja. Bukan hadir untuk menebar rahmat bagi seluruh alam. Wajar jika banyak manusia terhanyut oleh ide-ide yang seolah membawa pencerahan bagi mereka. Karena negara abai dan tidak mampu melindungi aqidah dan iman setiap orang. Hal ini memberikan peluang besar munculnya orang-orang dengan pemikiran teori konspirasi seperti Jerinx yang bisa menyesatkan bagi umat beragama.
 
Top