Oleh : Ari Wiwin
Ibu Rumah Tangga

Negeri yang dikenal dengan zamrud katulistiwa yang begitu kaya akan bahan tambang dan begitu subur makmur ini sekarang sungguh terpuruk. Banyak rakyatnya ternyata hidup miskin dan tidak bisa makan. Apalagi di masa pandemi yang melanda timbul banyak permasalahan kehidupan hingga dampak sosial ekonomi. Rakyat sangat terpuruk untuk memenuhi kebutuhan makan.

Dikutip dari laman Pikiranrakyat. com, salah satu warga Cibiru Hilir Kabupaten Bandung, sebut saja namanya Budiawan (34), yang sebelumnya bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik garmen di Solokanjeruk. Tidak pernah menyangka  adanya Covid-19 membuat dirinya harus kehilangan pekerjaan, dan sekarang menjadi orang miskin baru (misbar).

Sebelumnya Budiawan bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan gajinya, namun semua itu berubah drastis ketika Maret 2020 lalu perusahaan tempatnya bekerja melakukan PHK. Kini Budiawan hanya bisa menyambung hidup dengan sedikit tabungan dan usaha kecil-kecilan.

Tak berbeda yang dialami Ujang Soleh (36), seorang pemulung yang tinggal di Desa Citeureup Kecamatan Dayeuhkolot, nasibnya lebih miris dikarenakan dampak Covid-19. Pendapatannya di hari biasa mencapai 30 ribu sampai 40 ribu perhari berubah drastis. Bahkan sampai tidak mendapatkan uang sama sekali selama berhari-hari, akibatnya ia tidak sanggup lagi membeli beras. Bantuan pemerintah yang sangat diharapkan tak kunjung datang. Sehingga membuatnya terpaksa makan nasi aron atau nasi aking untuk buka puasa dan sahur. Beruntung sejak pemberitaan tentang dirinya, sejumlah bantuan baik dari wakil rakyat dan jajaran Polrestabes Bandung pun datang memberi bantuan.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah rakyat kecil seperti Budiawan dan Ujang Soleh itu akan akan terus bertambah, dan nasibnya tidak akan pernah berubah ataukah masih terus bertambah rakyat kecil yang kelaparan akibat pandemi Covid-19 ini?

Itu hanyalah salah satu contoh kecil saja. Sistem kapitalis yang sekarang dianut negeri ini di mana ketersediaan pangan hanya dilihat secara makro atau secara garis besar. Bila terlihat hanya segelintir orang yang tidak bisa makan, itu tidak jadi masalah asalkan roda perekonomian tetap terus berjalan. Para korporat dan para investor masih bisa berinvestasi dengan nyaman dan aman, meskipun nyawa rakyat taruhannya. Padahal urusan perut itu menjadi masalah dasar bagi manusia. Kebutuhan pokok yang seharusnya dipenuhi oleh negara tetapi negara abai bahkan cuek tidak mau mengurusi rakyatnya. Rakyat dibiarkan menjerit kelaparan. Banyak masyarakat yang terkena dampak Covid-19 ini, kehilangan pekerjaan. Bantuan yang selalu digembar-gemborkan untuk yang terdampak tak pernah kunjung tiba bahkan sering salah sasaran. Bantuan itu hanya menjadi alat pencitraan belaka itu yang selalu dipikirkan pemerintah di sistem kapitalis sekarang ini.

Sungguh bahwa terjadinya pandemi dan kelaparan ini tidak lepas dari qada Allah Swt. Karena semua ini adalah kehendak-Nya semata. Semua ini terjadi juga bukan karena sebab manusia sudah banyak yang zalim, terlebih penguasa  kepada rakyatnya.

Penanganan wabah pandemi yang lambat dan kebijakan yang berubah-ubah yang hanya setengah hati kian memburuk. Bukan lagi nyawa rakyat yang menjadi prioritas namun kepentingan asing dan pengusaha yang lebih diutamakan.

Berbeda sekali dengan sistem dan aturan Islam. Islam adalah sistem aturan yang komplek. Masalah pangan dapat diselesaikan dengan mudah oleh sistem Islam, ini telah dijalankan pada masa Kekhilafahan Islam. Di dalam Islam kebutuhan pangan, sandang dan papan di jamin oleh negara. Islam sangat memperhatikan kebutuhan pokok masyarakat di saat wabah melanda. Karena kebutuhan pokok adalah kebutuhan yang paling utama. Semua pembiayaan negara diambil dari Baitul Mal yang bersumber dari beberapa pos. Contohnya dari pengelolaan kekayaan alam, minyak bumi, gas, zakat, fa'i, kharaj, ghanimah, juga dharibah. Semua diperuntukkan demi kemaslahatan umat, jangan sampai ada rakyat yang kelaparan. Ketika keuangan negara kosong, pemerintah meminta bantuan ke wilayah lain yang melimpah dan tidak terkena wabah. Masyarakat didorong untuk bersedekah dan saling membantu. Sehingga kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi karena perhatian dari sisi individu, kelompok serta negara.

Diceritakan pada masa Khalifah Umar, ketika terjadi wabah pada masa itu Khalifah Umar membagikan 4000 makanan dan juga unta untuk disembelih dan diambil lemaknya untuk diawetkan. Pembagian bantuan itu dilakukan sendiri oleh beliau agar bantuan tepat sasaran dan aman. Sebagaimana disebutkan dalam Hadis:

"Anak Adam tidak memiliki hak pada seluruh jenis ini: rumah yang ia tinggal, pakaian yang menutupi auratnya dan roti tawar dan air." (HR at-Tirmidzi)

Hadis di atas menjelaskan bahwa kebutuhan pokok, sandang, pangan dan papan serta kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan dan keamanan seluruh rakyat individu per individu dipenuhi oleh negara. Itu semua hanya terjadi pada masa Kekhalifahan.

Sebaliknya sistem kapitalis neoliberal yang dibanggakan negeri ini telah nyata gagal mensejahterakan manusia. Apalagi pada saat ini ketika ditimpa wabah. Kekhawatiran dan kelaparan terjadi di mana-mana dan hanya dengan berhukum Islam secara totalitas In syaa Allah negeri ini akan kembali sejahtera, sesuai dengan  firman Allah Swt.:

"Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu." (TQS Al-Anfaal :24)

Wallahu a'lam bi shawwab.
 
Top