Oleh : Aswarini Puspa Arnas, S.Pd.
Pegiat dakwah

Pandemi Virus Corona di Indonesia akan berakhir pada rentang Juli hingga September 2020 mendatang. Begitu hasil riset prediksi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dipublikasi pada akhir April lalu. Riset ini diklaim bukan survei opini publik, melainkan olahan data sekunder dari Worldmeter data dunia virus Corona, Singapore University of Technology and Designe, dan riset lainnya.

Menurut keterangan Denny JA kepada CNNIndonesia.com (29/4/2020) “Bulan Juli-September 2020 adalah rentang waktu dimana virus Corona tak lagi menjadi masalah bagi dunia.”

Namun, pernyataan ini sebenarnya cukup bermasalah. Pernyataan ini menafikan kemungkinan-kemungkinan yang menjadi prediksi para ahli tentang kemungkinan adanya wave atau gelombang wabah virus Corona selanjutnya. Apakah ketika virus Corona tidak lagi menjadi masalah bagi dunia yaitu ketika sejumlah negara telah beraktivitas normal kembali, maka wabah virus Corona di Indonesia juga otomatis menurun? Tentu tidak ada korelasinya. Dilihat dari sisi perbandingan penanganan wabah Covid-19 di negara-negara seperti Jerman, Korea Selatan, dan China, dengan penanganan wabah virus Corona di Indonesia.

Pandemi virus Corona mungkin melambat di banyak negara karena upaya social distancing, work from home, dan berbagai upaya lainnya yang disiplin. Namun, para ahli memperkirakan virus tidak akan berlalu begitu saja. Ada kekhawatiran adanya gelombang kedua wabah Covid-19. Dr Anthony Fauci, Dokter Penyakit Menular Nasional AS, dalam webinar Economic Club of Washington awal pekan ini mengatakan “Saya hampir yakin itu akan kembali, karena virus itu sangat menular dan menyebar secara global.”

Memang masih banyak aspek yang tidak diketahui oleh para ilmuwan tentang virus Covid-19 ini. Namun belajar dari siklus virus Corona umum sebelumnya, berdasarkan US Centers for Disease Control and Prevention, orang-orang biasanya terinfeksi oleh empat virus Corona umum  seperti yang diidentifikasi pada pertengahan tahun 1960-an. Dr Greg Poland, seorang profesor obat dan penyakit menular, mengatakan SARS CoV-2 kemungkinan akan mengikuti pola itu.

Walaupun sekarang pandemi ini telah melambat di berbagai negara, tetapi solusi yang berkelanjutan untuk menghadapi kemungkinan gelombang selanjutnya terus diupayakan.
Prediksi berakhirnya wabah ini harusnya ditanggapi dengan hati-hati. Bukan ber-euforia yang pada akhirnya melonggarkan disiplin kebijakan penanganan wabah dan justru memperpanjang masa penularan Corona.

Sebelumnya, kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letjen TNI Doni Munardo menyampaikan prediksi pandemik Corona di Indonesia akan berakhir Juni-Juli nanti. Ini mendapat respon dari epidemiolog dari Universitas Padjajaran, Bony Wien Lestari yang mempertanyakan atas dasar apa prediksi tersebut dikeluarkan padahal angka pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 masih terus melonjak.

Ada hal yang sangat kritis dari upaya penanganan wabah Covid-19 di RI ini. Yaitu ketika para penguasa, pemangku kebijakan, dan orang-orang yang diamanahi mengurus urusan masyarakat berbicara asbun “asal bunyi” dan tanpa data. Penguasa tidak menunjukkan keseriusannya menangani dan mencegah wabah virus ini. Masih teringat jelas di ingatan kita bagaimana penguasa bersikap abai dan menyepelekan ketika awal pandemi. Berbicara tanpa data soal karakter virus yang katanya tidak tahan iklim tropis dan cuaca panas, yang katanya orang Indonesia imunnya bagus karena makan nasi kucing, yang katanya begini dan begitu.

Masih teringat jelas di ingatan kita bagaimana penguasa sesumbar melakukan pencitraannya dengan membangga-banggakan persiapan penanganan wabah yang memenuhi standar internasional. Kita telah siap katanya. Faktanya petugas medis kekurangan APD dan masker. Masa-masa awal pandemi dimana APD harusnya disiapkan justru di impor keluar negeri. Akhirnya banyak dokter yang tumbang karena minimnya APD sehingga tertulari virus. Belum lagi bicara soal kebijakan-kebijakan nyeleneh yang tidak jelas tujuannya apa seperti larangan suami istri berboncengan tapi boleh naik ojol, dan sebagainya.

Apakah hari ini harus  mengulangi kebodohan yang sama? Menyepelekan dan tidak waspada.

Bukankah seharusnya yang menjadi perhatian adalah kekhawatiran Indonesia menjadi episentrum selanjutnya bagi penularan virus ini?

Ada potensi Indonesia menjadi Wuhan kedua jika penanganan Covid di Indonesia tidak berjalan dengan baik. Apalagi jika kebijakan-kebijakan yang diambil oleh penguasa tidak tepat misal dengan tidak menutup penerbangan internasional. Hal ini dapat berpotensi untuk penyebaran virus selanjutnya.

Dari sini tampak jelas bagaimana buruknya penguasa dan para pemangku kebijakan dalam menangani wabah Covid-19 ini. Sejak awal, kelambatan dalam penanganan wabah karena pejabat negeri sibuk berpikir  soal untung rugi semata. Padahal rakyat dilanda kekhawatiran atas wabah penyakit, tapi penguasa malah disibukkan soal perekonomian. Pada akhirnya yang terjadi bukannya kesigapan menyelesaikan masalah tapi justru menutup-nutupi fakta yang ada, berkonflik dengan pemerintah daerah, dan sebagainya. Hasilnya justru masalah semakin menjadi.

Pun saat ini, nafsu ingin segera iklim investasi berjalan kembali tak terelakkan. Penguasa kapitalis dalam memposisikan wabah ini sekedar memandang dari aspek hambatan investasi. Tapi bagi rakyat, ini adalah ancaman nyawa mereka. Bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal penghidupan mereka. Sebab negara tidak lagi berfungsi sebagai pelindung, malah berusaha kuat menghindar dari tanggung jawab.

Lockdown yang seharusnya jadi solusi, malah yang diterapkan adalah darurat sipil dan kemudian disulap jadi PSBB. Apapun, asalkan bukan lockdown, asalkan tidak menjamin kebutuhan hidup rakyat, asalkan tidak menghabiskan uang negara. Pada akhirnya negara angkat tangan dan rakyat disuruh berjuang sendiri. Miris

Sudah sejak lama, rakyat ini sebenarnya telah yatim. Padahal negara harusnya menjadi orang tua dan pelindung bagi rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Sesungguhnya seorang imam adalah perisai.” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai, dan Ahmad)

Keberadaan penguasa dan pemerintah harusnya menjadi perisai bagi rakyatnya, melindunginya dari bahaya, keburukan, dan kezaliman. Dalam hal terjadinya wabah, maka pemerintah wajib semaksimal mungkin melakukan upaya menghentikan sebaran virus ini. Melakukan penanganan terhadap para korban dengan baik.

Namun, di tengah sistem kapitalisme yang mencengkram, fungsi negara telah bergeser, tidak lagi sebagai perisai. Rakyat tidak lagi dipandang sebagai manusia yang negara wajib menjaganya dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Sang Khaliq. Tapi hanya dipandang sekedar penggerak roda perekonomian. Kekhawatiran negara tentang wabah, hanya berkisar soal perekonomian yang buntung bukan soal berdiri mempertanggungjawabkan amanah di hadapan Allah Swt. di yaumil hisab kelak.

Sedangkan dalam Islam, penguasa adalah penanggung jawab segala urusan rakyatnya. Rakyat merupakan amanah yang besar dari Pencipta. Imam Abu Yusuf ketika menulis muqaddimah Al-Kharaaj, yang ditujukan kepda Khalifah Harun ar-Rasyid berkata,

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah menitipkan kepadamu suatu perintah besar yang pahalanya sangat besar dan azabnya pun sangat besar. Allah telah menitipkan urusan umat ini kepadamu. Bangunan tidak akan kuat jika dibangun di atas pondasi selain takwa, karena Allah akan mendatangkan para penyangga yang akan menghancurkan bangunannya. Maka janganlah kamu menyia-nyiakan amanah yang telah dititipkan kepadamu tentang masalah umat dan rakyat ini, karena atas izin Allah kamu bisa melaksanakannya.”

Wallahu a’lam bish shawab.
 
Top