Oleh: Aufa Jaida Aziza
Siswi SMA IT Ar-Rahman Banjarbaru

Lagi-lagi tentang Corona, sanggupkah kau membuka  matamu dan melihat apa yang sesungguhnya terjadi?

Mari kita melihat kebelakang, asal muasal munculnya makhluk kecil nan membuat takut penduduk negeri ini. Pada hari Senin, 3 Maret 2020 pertama kali dinyatakan dua orang positif Corona di Depok Jawa Barat, lalu 19 hari kemudian korban positif corona bertambah menjadi 369 orang dan yang meninggal 32 orang. Mari kita bandingkan dengan Italia yang katanya tingkat penyebaran Coronanya paling tinggi, pada 19 hari pertama jumlah korban yang Positif Corona 20 orang dan jumlah yang meninggal hanya 1 orang, lalu 49 hari kemudian jumlah korban positif Corona menjadi 37.860 dan yang meninggal dunia 4.032. Lalu bagaimana dengan Indonesia setelah 49 hari atau 100 hari kemudian? Akankah terus bertambah?

Jika kita lihat bagaimana upaya pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini. Di beberapa negara upaya lockdown sudah diterapkan sejak dinyatakannya ada yang positif Corona. Pemerintah menghimbau kepada para warga untuk tetap stay di rumah agar dapat memutus rantai penyebaran virus Covid-19, bahkan di sejumlah negara pemerintah memasang drone atau kamera cctv untuk memantau warganya agar tidak keluar dari rumah. Juga yang terjadi di negara Filipina pemerintah membagikan sembako di depan rumah warga, untuk bekal warganya dalam upaya lockdown  ini.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia yang anehnya pemerintah tidak ingin menerapkan upaya lockdown malah ingin melakukan darurat sipil yang mana peraturan tersebut banyak menuai kritikan dikarenakan darurat sipil tidak menjamin kesejahteraan rakyat. Sehingga pemerintah mengubah darurat sipil menjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang hanya membatasi aktivitas masyarakat yang sama di setiap wilayah. Lagi-lagi hal ini pun menuai banyak kontroversi. Apa akibatnya? Masih sering kita jumpai para gojek yang tetap bertebaran di jalanan,  juga banyak warung yang masih buka, bukan berarti mereka tidak takut jika terkena virus ini, justru mereka lebih takut jika istri, anak dan keluarga mereka tidak makan dikarenakan tidak adanya jaminan dari pemerintah.

Miris sekali melihatnya, hal ini terjadi tidak lain adalah karena sistem yang digunakan oleh negeri ini yaitu sistem kapitalis-sekuler yang merupakan buatan manusia, sehingga solusi yang diberikan tidak memberikan solusi yang tuntas atau bahkan tidak menyelesaikan masalah.

Andaikan, penduduk negeri ini mau kembali kepada sistem dan aturan Islam, maka Islam melalui hadis Rasulullah saw. telah menyampaikan terkait penyelesaian wabah di suatu wilayah atau di suatu negeri. Berikut sabda beliau :
"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya, tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu" (HR. Bukhori dan Muslim)

Pada masa Umar bin Khattab pun pernah mencontohkan bagaimana beliau dalam menangani wabah di bawah wilayah kepemimpinan beliau waktu itu. Beliau menerapkan apa yang disabdakan oleh Rasulullah tersebut, sehingga wabah tidak meluas ke berbagai wilayah yang lain.
                                                                                                            Andai sistem Islam yang kita gunakan saat ini, mungkin kita tidak akan melihat mesjid ditutup, salat Jum'at tanpa jama'ah, tarawih di rumah, tak ada tadarus bersama di mesjid, buka puasa bersama di mesjid dan juga pertarungan bapak keluarga dalam mengadu nasib antara terkena wabah ataukah memenuhi nafkah untuk keluarga.

Maka, setiap kejadian ini selalu ada hikmah bagi manusia andaikan manusia mau memikirkan dan merenunginya. Dan semua ini terjadi tidak lain adalah teguran bagi manusia.

Ayo kawan, kita bangkit, mari pikirkan nasib bangsa setelah ini, pikirkan mengapa kerusakan terjadi di mana-mana, bukankah sudah saatnya kita kembali pada kebenaran, kembali pada Aturan-Nya yang mulia, kembali kepada sistem yang menyejahterakan, kembali untuk memba'iat satu pemimpin yang mana dulu pernah terjadi dan memimpin 2/3 dunia, membuat seluruh negara di dunia ini hanya di bawah satu pimpinan. Di bawah satu sistem yang menggunakan hukum Allah. Bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunah.

Terlepas dari bagaimana virus ini bisa terjadi ataupun bagaimana virus ini muncul,  tapi karena hal ini sudah terjadi maka "Pikirkan Apa Yang Ingin Kau Lakukan dan  Lakukanlah Apa Yang Kau Pikirkan!"

"Siapa saja yang mati sedangkan di lehernya tidak ada bai'at (kepada imam/khalifah) maka ia mati jahiliyah" (HR. Bukhari)


Wallahua'lam bisshawab.
 
Top