Oleh : Desi Wulan Sari
(Revowriter Bogor)

Berbagai dampak akibat wabah Corona terus bermunculan. Termasuk Indonesia mengalami dampak langsung wabah ini. Rakyat sedang mengalami situasi serius dalam menghadapi masalah kesehatan, ekonomi, sandang, pangan dan papan. Semua sisi tersebut terkena hantaman hebat akibat efek wabah Corona.

Ribuan pekerja yang di PHK, penutupan akses usaha selama pandemi, kebijakan PSBB membuat masyarakat tidak punya pilihan untuk bertahan hidup secara normal. Mengakibatkan matinya pendapatan perekonomian keluarga yang membuat mereka semakin terpuruk dengan kondisi ini.

Ramai-ramai masyarakat saling berempati satu sama lain berusaha untuk bisa menolong keluar dari kesulitan ekonomi. Ada yang memfasilitasi galang dana mandiri secara langsung. Ada juga yang melakukan jual-beli dengan niat hanya menolong. Bahkan ada juga yang mencoba untuk memberikan pekerjaan secara individu hanya sekadar untuk berbagi. Jika melihat antusias masyarakat dalam menolong sesama patut diangkat jempol dengan usahanya. Namun cukupkah sampai di situ? Apakah solusi mengandalkan hati nurani rakyat mampu mengatasi krisis ini?

Faktanya masih banyak masyarakat yang kelaparan. Tidak hanya satu atau dua keluarga, tetapi ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang masih menahan perutnya karena tidak punya makanan cukup untuk  dimakan. Korban-korban semakin banyak yang berjatuhan. Seperti peristiwa tragis dialami satu keluarga yang berasal dari Tolitoli, Sulawesi Tengah. Pasalnya, saat ditemukan warga di tengah kebun di Kelurahan Amassangan, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kondisi mereka sudah lemas karena kelaparan. Satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang tersebut tiga di antaranya masih balita dan seorang ibu diketahui sedang hamil besar. (kompas.com, 1/5/2020)

Hal serupa juga dialami belasan mahasiswa asal seram, bagian Timur, Maluku, nekat mudik karena sudah tidak punya uang untuk bertahan di kontrakan. Seorang mahasiswa mengatakan, mereka nekat mudik ke kampung halaman lantaran kehabisan uang belanja dan sempat menahan lapar, bahan makanan mulai menipis di kontrakan. (cnn Indonesia, 4/5/2020)

Melihat kondisi masyarakat yang semakin miris membuat rakyat semakin gerah, kapankah pemerintah mengirimkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan? Bukan hanya beberapa orang saja, tetapi seluruh rakyat yang mengalami dampak langsung akibat pandemi ini. 

Bantuan sosial penerintah pada akhirnya keluar. Dengan catatan birokrasi panjang yang harus dilewati demi sebuah bantuan. Bahkan, viralnya media-media sosial memberitakan bantuan yang turun banyak yang tidak tepat sasaran, jumlahnya sangat dibatasi, bahkan tetek bengek birokrasi semakin mempersulit bantuan penyaluran kepada rakyat. 

Bahkan yang lucunya lagi, bantuan sosial bisa tertunda hanya karena menunggu tas bertuliskan bantuan presiden yang belum datang. Dikatakan dalam media, hal ini bisa dikatakan sebagai politisasi bantuan sosial, sebagai tanda ketidakpekaan pemerintah. (cnn Indonesia, 29/4/2020) 

Sebab, jika kita berpikir secara logika dalam mengirim bantuan, akankah langsung dikirim pada yang hak dengan bungkus apa pun atau menunggu rakyat kelaparan karena kantong bantuan belum lengkap? 

Itulah, bukti bantuan dengan pamrih justru nembuat rakyat menjadi korban. Bagaimana birokrasi sebagai bagian dari sistem demokrasi, yang berakibat rakyat semakin sengsara dan menderita hidupnya. Semua serba dipolitisasi demi nama baik partai, rezim dan kelompoknya sendiri. Tetapi, bukan berdasarkan tanggung jawab negara dalam mengatasi wabah secara serius dan tuntas.

Islam Hadir Untuk Umat

Pernah satu masa, Islam hadir dengan seorang khalifah yang masyhur, siapa lagi kalau bukan Khalifah Umar bin Khattab. Beliau berkuasa pada tahun 634 sampai 644. Dia juga digolongkan sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin. Umar termasuk salah satu pemimpin yang hebat dan suri teladan dalam masalah keislaman dan beberapa hadits menyebutkan dirinya sebagai sahabat Nabi paling utama setelah Abu Bakar. Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Sebagaimana seorang pemimpin amanah, Umar berusaha untuk selalu bisa memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dia sangat takut akan murka Allah jika ada rakyat yang dipimpinnya ada yang kelaparan karena tidak punya apa-apa. Hingga suatu ketika Umar beserta asistennya mengadakan patroli untuk mengontrol kondisi rakyatnya.  Khalifah Umar bin Khattab tak sengaja bertemu dengan keluarga miskin yang memasak batu karena tak punya bahan makanan. Dengan segera beliau langsung bergegas menuju baitul mal untuk nengambil sekarung gandum yang diangkatnya langsung dengan pundaknya untuk diberikan kepada ibu tersebut. Sungguh satu akhlak mulia dan ketakutan yang luar biasa kepada Allah jika dirinya dilaknat ketika ada  kejadian buruk yang menimpa rakyatnya. 

Bayangkan, Islam telah menunjukkan bagaimana sebuah negara mengurus langsung kebutuhan rakyatnya melalui pemimpin amanah yang senantiasa takut pada azab Allah, dan selalu berpegang teguh pada syariat. Faktanya, kejadian ribuan tahun yang lalu terjadi di era sekarang. Saat ini kita sedang mengalami krisis dampak dari wabah Corona yang panjang. Akibatnya dibutuhkan bantuan langsung dari penguasa untuk menolong mereka dari ancaman kelaparan yang mengakibatkan kematian. 

Sejatinya, prinsip dalam Islam bukan pemberian bansos yang sesekali diberikan, tapi jaminan kebutuhan hidup warga negara seumur hidup di segala kondisi selalu diperhatikan. Tak hanya saat wabah saja. Seperti halnya bantuan sosial yang diberikan saat ini jelas mengandung banyak pamrih di dalamnya sehingga rakyat menjadi korban akibat politisasi, seperti bansos yang tidak jelas ujungnya ini.

Maka, saatnya kembali kepada aturan Islam. Bagaimana negara dengan pemimpinnya mampu memegang amanah dalam meriayah rakyat. Daulah Khilafahnya mampu menghadirkan pemerintah yang melayani dan pemerintah yang jauh dari kepentingan pencitraan semata. Wallahu 'alam bishshawab.[]
 
Top