Oleh : Rati Suharjo
Pegiat Dakwah dan Member Akademi Menulis Kreatif

Saat ini kehidupan semakin berat dirasakan. Pandemi wabah Corona terus mengancam kesehatan dan mengancam ekonomi. Sejumlah  perusahaan dan sektor riil seperti restoran dan hotel berhenti beroperasi. Hingga membuat karyawannya dirumahkan bahkan terkena PHK.


Tentu hal ini akan menambah angka pengangguran semakin tinggi. Bahkan dapat diprediksi jumlah pengangguran mencapai 4 juta. Dan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi berada pada angka 2.5. (inews.id, 26/4/2020)


Kenyataan ini akan berdampak negatif di masyarakat. Kemiskinan dan pengangguran  akan menjadi penyebab  kerusakan sosial. Pasalnya mereka tetap harus memenuhi kebutuhan pokoknya. Kondisi seperti ini jika tidak dibarengi dengan iman yang kuat akan mendorong seseorang pada tindak kriminal bahkan bunuh diri. Sebab, mereka mengalami depresi.


Tawuran, begal, pencurian dan penjarahan minimarket merajalela. Sebagaimana yang sudah terjadi saat ini di DKI Jakarta. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Yusri Yunus, bahwa tingkat kejahatan saat PSBB Jakarta mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 2019. (Tempo.com, 24/4/2020)


Di sisi lain pandemi Covid-19 juga mengancam para pedagang kaki lima. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ali seorang pedagang kaki lima di Senayan. Ali terpaksa harus keluar rumah, dari pada diam di rumah tidak mendapatkan pemasukan untuk bertahan hidup. Bahkan ketika ditemui pewarta dari Gonews, Alim mengatakan dirinya tetap keluar rumah bukan karena tidak mengikuti anjuran dan imbauan pemerintah. Bahkan dia bilang,  "Lebih takut mati kelaparan jika tidak bekerja dan berdiam diri di rumah.” "Kita ini  bukan pegawai atau PNS yang tiap bulan dapat gaji mas."  Hal ini pun dilakukan oleh pedagang buah dan pedagang kopi gerobak maupun keliling di sekelilingnya. (Gonews.Co, 23/4/2020)


Lantas apakah kebijakan PSBB dapat memutus mata rantai Covid-19? Justru tidak, buktinya korban sampai tanggal 30/4/2020 update Corona mencapai 10.118 positif dan meninggal sebanyak 792 orang. Itu artinya setiap hari masih tinggi kenaikan jumlah orang yang terjangkit di beberapa daerah. Apabila PSBB ditambah jumlah waktunya, ini akan mengakibatkan penambahan angka kerusakan sosial dan kriminalitas di masyarakat. Pasalnya akan mengancam rakyat.


Untuk itu jelas, PSBB yang disampaikan pemerintah ternyata membuat penjara bagi para pedagang dan pekerja harian. Mereka tidak mempunyai pemasukan untuk biaya hidup setiap hari. Dilansir oleh CNN Indonesia, 24/4/2020, Menurut anggota Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Daulay menyebut kebijakan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB tidak efektif menekan kurva kasus Virus Corona menjadi lebih landai. Sebab kebijakan PSBB serba terbatas. Terbatas pada askes dan terbatas dalam memberi bansos (bantuan sosial). Dimana penerima bantuan harus membawa dokumen. Dokumen-dokumen tersebut untuk menyaring mana yang layak menerima bansos


Kebijakan seperti inilah yang memicu rusaknya aspek sosial dan kesenjangan sosial di masyarakat. Masalahnya, di dalam penanganan tidak merata bahkan dinilai setengah-setengah.


Dengan adanya fakta tersebut otomatis akan menambah angka kemiskinan di negeri ini. Padahal sebelum wabah Covid-19 sampai ke Indonesia, data BPS menyebutkan bahwa Anka kemiskinan di Indonesia pada angka 9,22% atau 24,79 juta. (Media Indonesia, 15/1/2020)


Untuk itu dengan adanya penanganan Covid -19, seperti PSBB saat ini, otomatis jumlah kemiskinan akan bertambah. Pasalnya banyak rakyat di negeri ini yang kehilangan pekerjaan sehingga pemasukan rutin pun tiada.


Inilah akibat jika negara menerapkan demokrasi sekuler. Yang sejak dari awal selalu menghitung untung rugi terhadap solusi Covid-19 ini. Mereka mempertahankan ekonomi demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi daripada memutuskan untuk lockdown. Sebab, dengan lockdown biayanya sangat tinggi daripada PSBB. Di dalam kebijakan lockdown pemerintah harus menanggung segala kebutuhan primer rakyat dan hewan piaraannya. Sedangkan di dalam kebijakan PSBB, pemerintah lepas tangan dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya.


Oleh karena itu, maka wajar jika rakyat tidak sanggup mengikuti imbauan dari pemerintah demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal inilah yang membuat rakyat frustasi sehingga menyebabkan angka kerusakan sosial tinggi, bahkan mendorong untuk berbuat kriminal hingga nekat melakukan bunuh diri.


Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa PSBB dalam mengatasi Covid-19 dapat dikatakan gagal. Hal ini, terbukti di Depok Kabupaten Bogor, menurut Roy Pangharapan Ketua Dewan Kesehatan Rakyat ( DKR) meski akan memasuki PSBB tahap ke dua jumlah kasus Covid-19 justru meningkat. Hal ini disebabkan pemerintah setempat tidak bisa menekan penyebaran dan penularan virus tersebut. Saat ini ada 55 dari 63 kelurahan yang telah menjadi Zona merah. Padahal sebelum pemberlakuan PSBB 11 April, hanya ada 2 kasus positif sedangkan saat ini mencapai 102 kasus positif. (Koran Jakarta, 6/5/2020)


Dengan adanya fakta-fakta tersebut telah membuktikan bahwa kebijakan PSBB hasil dari akal manusia yaitu demokrasi sekuler tidak dapat menyelesaikan masalah justru menimbulkan masalah baru yaitu mengancam kesehatan dan mengancam pertumbuhan ekonomi.


Hal ini berbeda dengan Islam ketika mengatasi wabah penyakit. Dalam menghadapi situasi krisis di tengah wabah seperti saat ini, syariat Islam mampu memberikan solusi. Seperti dicontohkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab dalam menghadapi wabah Thaun. Yaitu wabah penyakit menular dan mematikan.


Dalam buku The Great leader of Umar bin Khaththab, diceritakan bahwa ketika terjadi krisis Khalifah Umar ra. melakukan beberapa hal. Yaitu, Khalifah Umar mencontohkan untuk hemat dan bergaya hidup sederhana, bahkan lebih kekurangan dari rakyatnya, dan Khalifah Umar langsung membuat posko-posko bantuan.

Sebagaimana diriwayatkan dari Aslam yaitu,

Pada tahun masa krisis, bangsa Arab dari berbagai penjuru datang ke Madinah. Khalifah Umar ra. menugaskan beberapa orang jajarannya untuk menangani mereka. Suatu malam, saya mendengar beliau berkata, “Hitunglah jumlah orang yang makan malam bersama kita.”

Orang-orang yang ditugaskan pun menghitung orang-orang yang datang. Ternyata berjumlah tujuh puluh ribu orang. Jumlah orang-orang sakit dan yang memerlukan bantuan sebanyak empat ribu orang.


Selang beberapa hari, jumlah orang yang datang dan yang memerlukan bantuan mencapai enam puluh ribu orang. Tidak berapa lama kemudian, Allah mengirim awan. Saat hujan turun, saya melihat Khalifah Umar ra. menugaskan orang-orang untuk mengantarkan mereka ke perkampungan dan memberi mereka makanan dan pakaian ke perkampungan.


Banyak terjadi kematian di tengah-tengah mereka. Saya melihat sepertiga mereka mati. Tungku-tungku Umar sudah dinyalakan oleh para pekerja sejak sebelum Subuh. Mereka menumbuk dan membuat bubur.


Khalifah Umar ra. memberi makanan kepada orang-orang Badui dari Dar ad-Daqiq, sebuah lembaga perekonomian yang ada pada masa pemerintahan Umar. Lembaga ini bertugas membagi tepung, mentega, kurma, dan anggur yang berada di gudang kepada orang-orang yang datang ke Madinah sebelum bantuan dari Mesir, Syam, dan Irak datang.


Dar ad-Daqiq kian diperbesar agar bisa membagi makanan kepada puluhan ribu orang yang datang ke Madinah selama sembilan bulan, sebelum hujan tiba dan memberi penghidupan. Musibah yang melanda, juga membuat Khalifah semakin mendekatkan diri kepada Allah, meminta pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala Pemilik alam seisinya


Untuk itu, sudah selayaknya penguasa mencontoh Khalifah Umar Bin Khattab, bukan hanya namanya  saja, akan tetapi dalam realitasnya agar hidup ini baik penguasa maupun rakyatnya mendapat keberkahan. Sehingga kerusakan sosial dan kriminalitas dapat dihindari.

Wallahu 'alam bishshawab.
 
Top