Oleh: Eulis Nurhayati
Ibu Rumah Tangga dan Penulis di Komunitas Muslimah Rindu Surga


Virus corona telah menjadi pandemi ke seluruh dunia, tak terkecuali ke Indonesia. Ekonom Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menilai wabah ini menjadi bencana ekonomi politik.
Lewat keterangannya, Ketua Dewan Pengurus LP3ES Didik J. Rachbini dan Peneliti LP3ES Fachru Nofrian mengatakan instrumen APBN sangat penting dalam menangani dampak virus ini. Pemerintah diminta jangan main-main dalam penggunaan APBN.

Didik dan Fachru menilai bahwa sejauh ini pemerintah terlihat ragu dan maju mundur dalam mengalokasikan dana APBN untuk menangani virus corona. Mereka menilai alokasi dana yang terus berubah mencerminkan kebijakan yang lemah dari pemerintah.

"Kebijakan anggaran yang ragu dan maju mundur mengalokasikan dana Rp 19 triliun rupiah pada awalnya, beberapa hari kemudian lalu naik Rp 27 triliun rupiah, dan kemudian naik lagi Rp 60 triliun adalah kebijakan yang lemah, mencla-mencle, pertanda pemerintahan tidak memiliki kepemimpinan yang kuat kalau berkaca pada luasnya masalah yang dihadapi rakyat Indonesia," kata kedua ekonom ini lewat keterangan tertulis, dikutip Minggu (29/3/2020).
(Detikfinance, 29/3/20)

Seperti kita tahu, bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan pandemi virus corona atau Covid-19 telah berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan global. Banyak negara yang menghentikan kegiatan ekonomi secara mendadak, sehingga menyebabkan perekonomian dunia akan berkontraksi pada 2020 ini. Untuk membantu krisis, IMF telah berkomitmen menggunakan lending capacity sebesar US$ 1 triliun. IMF juga akan membantu anggotanya melalui pemberian SDR allocation dan memperluas fasilitas IMF-swap line. Kemudian, Bank Dunia dan International Finance Corporation (IFC) menyetujui pendanaan sebesar US$ 14 miliar. Begitu juga dengan International Development Association (IBRD/IDA) yang akan menyediakan US$ 6 miliar untuk mendukung sistem kesehatan.

Lantas, perlukah Indonesia memanfaatkan tawaran pinjaman tersebut? Tentu kita berharap pemerintah tidak menerima tawaran bantuan IMF atau Bank Dunia untuk penanggulangan Covid-19. Sebab dikhawatirkan tawaran bantuan tersebut justru akan menjadi masalah utang di kemudian hari. Dalam kondisi yang sulit seperti saat ini, sebenarnya bisa menjadi kesempatan baik bagi Indonesia untuk mengetahui seberapa kuat sumber daya yang dimiliki untuk bisa memperbaiki kondisi ekonomi secara mandiri.

Meski IMF dan World Bank mau memberikan pinjaman untuk negara terdampak Covid-19, lebih baik kita memanfaatkan sumber dana yang ada. Ditambah lagi sebetulnya kita memiliki beberapa sumber-sumber dana yang bisa digunakan tanpa harus berhutang kepada IMF atau World Bank. Sebab seringkali pinjaman dari dua lembaga tersebut malah menjadi buah simalakama apabila kebijakan-kebijakannya tidak ditaati yang kemungkinan akan mengikat pada kebijakan dan policy ekonomi dan politik Indonesia di masa depan.

Beberapa sumber dana yang bisa dimanfaatkan untuk menangani Covid-19 tanpa harus berhutang ke IMF dan World Bank, misalnya menggunakan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang merupakan akumulasi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA). Selain itu ada dana dari pungutan bea ekspor sawit (levy) di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), dana lingkungan hidup di Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Dana Riset Perguruan Tinggi, Kemudian Pemerintah juga bisa menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) untuk dibeli Bank Indonesia (BI). Dan sebetulnya ada banyak sumber dana yang bisa digali lagi. Beberapa diantaranya anggaran bendahara umum negara. Karena untuk penggunaan dana ini, Presiden RI punya kewenangan penuh dalam mengalokasikannya karena kondisi darurat. Realokasi dan refocusing anggaran pusat dan daerah juga sangat penting di tengah situasi ini. Maka itu, program yang lain seperti anggaran pembangunan infrastruktur dan pembangunan Ibu Kota baru bisa digunakan sementara sebagai sumber pembiayaan. Artinya bisa ditunda dulu dan dialokasikan untuk mengatasi Covid-19. Dan itu merupakan salah satu sumber terbesar anggaran yang bisa diambil dalam berperan melawan Corona.
 Jadi memang butuh komitmen bersama-sama antara pusat dan daerah untuk memperbaiki kondisi ini. Namun dari optimasi penggalangan dana yang dimungkinkan memang masih belum mengcover kebutuhan besar penanganan wabah.

Tatkala menanggulangi krisis, bisa jadi pemerintahan pusat tidak mampu menopang seluruh pembiayaan dan kebutuhan yang ada. Ini adalah hal yang lumrah saja. Bisa jadi karena kondisi kas keuangan dan faktor lain yang tidak mencukupi. Ini pun pernah dialami pada masa Khalifah Umar. Sebagaimana yang diceritakan di dalam buku The Great Leader of Umar bin Khattab, karya Dr. Muhammad ash-Shalabi, Khalifah Umar langsung bertindak cepat ketika melihat kondisi keuangan Baitul Mal tidak mencukupi penanggulangan krisis. Khalifah Umar segera mengirim surat kepada para Gubernurnya di berbagai daerah kaya untuk meminta bantuan.

Di masa Khalifah Umar bin Khattab juga dalam mengatasi masa paceklik di Madinah. Diketahui, Khalifah Umar ra., ketika krisis ekonomi, beliau segera mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis ekonomi secara cepat, tepat dan komprehensif. Untuk mengoptimalisasi keputusannya, Khalifah segera mengerahkan seluruh struktur, perangkat negara dan semua potensi yang ada untuk segera membantu masyarakat yang terdampak. Diriwayatkan dari Aslam :
Pada tahun kelabu (masa krisis), bangsa Arab dari berbagai penjuru datang ke Madinah. Khalifah Umar ra. menugaskan beberapa orang (jajarannya) untuk menangani mereka. Suatu malam, saya mendengar beliau berkata, “Hitung lah jumlah orang yang makan malam bersama kita.”
Orang-orang yang ditugaskan pun menghitung orang-orang yang datang. (Ternyata) berjumlah tujuh puluh ribu orang. Jumlah orang-orang sakit dan yang memerlukan bantuan sebanyak empat ribu orang. Selang beberapa hari, jumlah orang yang datang dan yang memerlukan bantuan mencapai enam puluh ribu orang. Tidak berapa lama kemudian, Allah mengirim awan. Saat hujan turun, saya melihat Khalifah Umar ra. menugaskan orang-orang untuk mengantarkan mereka ke perkampungan dan memberi mereka makanan dan pakaian ke perkampungan. Banyak terjadi kematian di tengah-tengah mereka. Saya melihat sepertiga mereka mati. Tungku-tungku Umar sudah dinyalakan para pekerja sejak sebelum subuh. Mereka menumbuk dan membuat bubur.

Dari sini kita bisa membayangkan betapa berat kondisi waktu itu. Dengan situasi dan kondisi saat peralatan dan sarana-prasarana tidak semodern seperti sekarang, Khalifah Umar ra. harus mengurus, mengelola dan mencukupi rakyatnya yang terkena dampak krisis ini. Sungguh angka yang sangat fantastis pada saat itu. Kerja berat dilakukan dan dilalui oleh Khalifah Umar ra. sebagai bentuk tanggung jawabnya melayani urusan rakyatnya.

Dengan situasi di atas, kita pun bisa tahu, bagaimana Al-Faruq membagi tugas kepada para perangkat negara di bawah beliau hingga level pekerja, bahu-membahu dan sigap menyelesaikan persoalan yang ada. Khalifah Umar ra. tidak berpangku tangan atau sekadar perintah sana, perintah sini saja. Beliau langsung turun tangan mengomando dan menangani krisis tersebut. Beliau langsung memerintahkan mendirikan posko untuk para pengungsi, memastikan setiap petugas memahami pekerjaan yang dilimpahkan dengan benar tanpa kekurangan secara langsung dan tidak mengerjakan pekerjaan petugas lain yang diberikan pada yang lain.

Khalifah Umar ra. langsung menugaskan beberapa orang di berbagai penjuru Madinah untuk memantau kondisi rakyat yang berkumpul mencari rezeki di sekitar mereka karena kemarau dan kelaparan yang menimpa mereka. Mereka bertugas membagikan makanan dan lauk-pauk. Sore hari, orang-orang yang ditugaskan berkumpul bersama Umar melaporkan peristiwa yang terjadi. Beliau lalu memberikan pengarahan kepada mereka.

Khalifah Umar ra. memberi makanan kepada orang-orang badui dari Dar ad-Daqiq, sebuah lembaga perekonomian yang berada pada masa pemerintahan Umar. Lembaga ini bertugas membagi tepung, mentega, kurma dan anggur yang berada di gudang kepada orang-orang yang datang ke Madinah sebelum bantuan dari Mesir, Syam dan Irak datang. Dar ad-Daqiq kian diperbesar agar bisa membagi makanan kepada puluhan ribu orang yang datang ke Madinah selama sembilan bulan, sebelum hujan tiba dan memberi penghidupan.

Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar ra. di atas menunjukkan kecerdasan beliau dalam membuat keputusan, mengatur dan mengelola seluruh struktur pemerintahan di bawahnya sehingga bisa cepat, sigap dan tuntas dalam melayani krisis ekonomi.

Lembaga-lembaga pemerintahan yang langsung berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan rakyat, baik yang bergerak dalam bidang finansial atau yang lainnya, langsung diminta bergerak cepat. Khalifah sendiri yang bekerja dalam posko-posko tersebut, memastikan semua berjalan optimal. Begitulah perhatian dan pengorbanan seorang pemimpin (Khalifah) dalam islam, tergambar dan terekam jelas dalam catatan emas sejarah.

Wallahu'alam..
 
Top