Oleh : Luluk Kiftiyah 
Member AMK

Di tengah gempa gempita pandemi covid-19 pemerintah masih terus melanjutkan pembangunan pemindahan ibu kota di Kalimantan Timur.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan persiapan pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan Timur terus berjalan di tengah sentimen pandemi virus corona. Hal itu diungkapkan oleh juru bicara Luhut, Jodi Mahardi. "Saat ini pemindahan Ibu kota masih on track. Kami dan Kementerian BUMN serta Kementerian Keuangan terus berkomunikasi dengan investor dan mitra join venture untuk pemindahan Ibu Kota," ujar Jodi dalam rekaman video yang diterima wartawan, Rabu, 25 Maret 2020. (Tempo.co)

Saat ini pemerintah sudah mengantongi empat calon Kepala Badan Otorita ibu kota Baru yaitu, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dan Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Tumiyono.

 Menurut Jokowi, Kepala Badan Otorita ibu kota itu akan mengurus segala kebutuhan pemindahan ibu kota, mulai perizinan hingga investasi.

Hal yang sangat disayangkan adalah pemerintah begitu cekatan dalam masalah pemindahan ibu kota, bahkan begitu lincah untuk mencari investor. Namun begitu gagap ketika mengahadapi pandemi Corona .

Ditengah wabah yang semakin mengganas ini, pemerintah seolah lepas tangan terhadap rakyatnya. Rakyat dibiarkan mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, namun masalah pemindahan ibu kota, penguasa rela menjual aset negara.

Bukti Abainya Penguasa Saat ini

Ditengah pandemi corona, pasien terus berdatangan, dan tragisnya stok APD (alat pelindung diri) tim medis sangat terbatas, bahkan bisa dikatakan kekurangan.

Padahal tim medis adalah garda terdepan dalam menangani pasien Covid-19, tetapi  keselamatan mereka diabaikan. Sikap abainya pemerintah dalam hal ini, mengakibatkan banyaknya tim medis yang gugur, beberapa di antaranya adalah dr. Handoko Gunawan ahli paru, dan dr. Djoko Judodjoko, spesialis bedah umum.

Berdasarkan pengakuan dr. Tirta Mandira Hudhi di acara ILC kemarin, sudah banyak tim medis yang positif Covid19 . Mereka harus bergantian untuk masuk di ruang isolasi karena faktor kelelahan dan minimnya APD yang tersedia.

Kurangnya tenaga medis dan APD membuat mereka harus berjuang dengan alat seadanya. Padahal dalam hal ini, tim medis adalah orang yang paling rentan terinveksi virus Covid-19.

Namun apalah daya, demi sumpah dokter mereka tidak bisa mundur, dan atas nama kemanusiaan mereka harus tetap maju menjadi garda terdepan dan terakhir dalam menangani pasien covid-19.

Di sisi lain, juga minimnya ruang isolasi dan ruang IGD menjadi hambatan tim medis dalam menjalankan pekerjaannya. Apalagi setiap hari jumlah pasien covid-19 semakin bertambah, sehingga antara jumlah pasien dan jumlah ruangan tidak sebanding. Tentu ini akan menimbulkan masalah baru lagi, padahal sampai detik ini pasien Covid-19 diperkirakan belum pada puncaknya.

Mengingat Jakarta zona merah, hampir perekonomian di Jakarta lumpuh. Rumah makan, pedagang, hotel, semuanya sepi bahkan saham anjlok dan rupiah terpuruk. Hal ini mengakibatkan banyak rumah makan dan toko-toko akan tutup sampai pada waktu yang belum bisa ditentukan.  Akibatnya akan terjadi urbanisasi, karena sebagian besar adalah pendatang. Oleh karena itu, di perkirakan bulan April akan terjadi gelombang kedua covid-19 di tengah-tengah pulangnya pemudik.

Pandemi Covid19 -19 menjadi momok ditengah masyarakat, masukan dari rakyat untuk segera lockdown tidak digubris. Presiden Jokowi masih bersikeras dengan keputusannya untuk tidak melakukan lockdown, dan hanya akan melakukan sosial distance seperti yang dilakukan negara Korea.

Dampaknya, nyaris di setiap kota dinyatakan zona merah, tetapi hal ini tak menggerakkan hati para penguasa. Seharusnya di tengah bahayanya Covid-19 ini, penguasa melakukan lockdown sesuai pasal 93 UU Kekarantinaan Kesehatan yang isinya pemerintah wajib memberi makan tiga kali sehari kepada warganya. Makanan itu dikirim oleh anggota TNI/Polri ke masing-masing rumah sesuai dengan jumlah warganya, faktanya hal tersebut tidak dilakukan.

Inilah wajah asli sistem bobrok demokrasi Kapitalisme, rakyat dibiarkan berjuang sendiri dalam mengahadapi pandemi Covid 19 Sedangkan penguasa sibuk dengan pemindahan ibu kota baru dan investasinya.

Berbeda dengan pada masa kekhilafahan dimana saat itu  pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah saw  memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

 "Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta." (HR Bukhari)

Nabi Muhammad Saw juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Begitupun sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

Seperti diriwayatkan dalam hadis berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)

Keselamatan rakyat diutamakan, negara menjamin kebutuhan pokok rakyatnya, seperti makanan, kesehatan dan pendidikannya.
Khalifah mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus jauh dari pemukiman penduduk. Sampai pasien sehat bisa melanjutkan aktivitas seperti biasanya .

Pandemi Covid -19 yang menimpa saat ini hampir sama dengan penyakit Tha'un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan.

Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadis disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.

‏ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

 "Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhari)

Indahnya Islam ketika diterapkan, Islam menjunjung tinggi keadilan, amanah adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Standar perbuatannya halal haram bukan untung rugi.
Wallahu a'lam bishawwab
 
Top