Oleh : Luluk Kiftiyah 
Member AMK

Di tengah hiruk pikuk penanganan pandemi Covid-19, tenaga medis seperti dokter, perawat, ataupun petugas kebersihan adalah garda depan yang merawat para pasien terjangkit.  Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi rasa kemanusiaan. Meskipun ada rasa takut dalam benaknya, hal ini manusiawi.

Seperti yang dialami dokter dan perawat di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Paramedis tersebut justru mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan karena tiba-tiba diusir dari kosan lantaran takut tertular. (liputan6.com, 25/3/2020)

Keadaan ini tentu sangat disayangkan. Andai tim medis boleh memilih untuk menolak amanah ini, mungkin mereka akan menolak. Belum lagi keadaan mereka yang dikucilkan oleh masyarakat, anak-anak mereka yang dilarang bermain dengan anak tetangga, tentu sangat menyesakkan hati.

Yang lebih memprihatinkan, beredar kabar penolakan pemakaman jenazah yang dilakukan oleh sekelompok warga di daerah Sewakul, Ungaran, Kabupaten Semarang pada Kamis. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mengaku terkejut dengan peristiwa tersebut, terlebih saat mengetahui bahwa jenazah yang ditolak pemakamannya adalah seorang perawat positif Covid-19, yang bertugas di RSUP Kariadi Semarang. (kompas.com, 9/4/2020)

Warga mengira bahwa jenazah positif Covid-19, yang sudah dikebumikan akan menularkan virus ke warga lainnya. Menurut Kepala UPT Laboratorium Kesehatan (Labkes) Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Tati Sutarti Sp.PK virus corona atau Covid-19 akan ikut mati seiring jenazah yang terjangkit telah dikuburkan.

Covid-19 membutuhkan media untuk menempel dan butuh oksigen agar bisa bertahan. Sementara di tubuh jenazah yang sudah meninggal dan terkubur dalam tanah yang kedalamannya minimal 1,5 meter sudah tidak ada oksigen.

Selain itu, orang yang meninggal akibat Covid-19 ini juga mendapat perlakukan khusus. Mulai dari mengurus tubuh hingga pemakaman harus melalui proses yang ketat dan sesuai aturan SOP yang ada. Sehingga tidak memungkinkan lagi virus masih tetap hidup. (radarbandung.id, 6/4/2020)

Belum lagi akibat dari pandemi Covid-19 ini, para pedagang kaki lima harus rela menutup warung di jam yang biasanya ramai pengunjung. Pendapatan berkurang, nyaris tak ada pemasukan. Sedangkan masalah pandemi ini, rakyat juga tetap butuh memenuhi hajat hidupnya, seperti kebutuhan pangannya.

Solusi kartu pra kerja yang ditawarkan pemerintah pun tak mampu menyasak masyarakat yang benar-benar membutuhkan sampai hilir.

Berbeda dengan apa yang dicontohkan oleh khalifah Umar. Malik bin Aus (berasal dari Bani Nashr) menceritakan bagaimana sepak terjang Khalifah Umar ra. dalam menangani krisis saat itu. Ia berkata : "Saat terjadi tahun kelabu, Umar memberi makan orang yang mendatangi dirinya. Yang tidak datang dikirimi tepung, kurma dan lauk-pauk ke rumahnya. la mengirim bahan makanan berbulan-bulan. Umar biasa menjenguk orang sakit dan mengkafani orang mati."

Abdullah bin Umar ra. meriwayatkan, ia berkata : Pada suatu malam di waktu sahur saya mendengar ia berdoa, “Ya Allah, janganlah Kau binasakan umat Muhammad saat saya menjadi pemimpin mereka.”

Ia pun berdoa, “Ya Allah, janganlah Kau binasakan kami dengan kemarau dan lenyapkanlah musibah dari kami.”

Ia mengulang-ulang kata-kata tersebut. Begitulah gambaran seorang pemimpin yang takut pada Rabb-Nya. Ia khawatir, amanah itu akan menjadi beban di akhirat kelak. Seorang khalifah di tengah malam rela memanggul dua karung di atas punggungnya, dan sewadah minyak di tangannya demi rakyatnya.

Alangkah tenteramnya hidup dalam naungan Islam. Sebab, hanya dari rahimnya akan lahir para pemimpin yang benar-benar menempatkan kedudukannya sebagai raa'in sekaligus junnah. Serta menerapkan syariat Islam secara kafah dalam kehidupan. Wallaahu a'lam bishshawaab
 
Top