Oleh : Sumiati 
Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif 

Dilansir oleh Lenterainspiratif.com 06/04/2020, Jember. Di tengah wabah virus corona Covid-19 ada cerita sedikit berbeda dari seorang ojol di Jember, ia terpaksa mengajak putrinya untuk mengais rezeki. Ojol yang bernama Wawan, warga Jalan Mahoni, Lingkungan Sadengan, Kebonsari, Kecamatan Sumbersari ini, sehari-hari narik ojol ditemani putrinya yang berusia 3 tahun. Dilansir oleh detik.com 06/04/2020, alasan Wawan tetap narik ojek di tengah wabah corona, karena terpaksa untuk memenuhi kebutuham sehari-hari. Alasan putrinya selalu ikut menemani, karena sang istri pergi dengan pria lain dan pergi meninggalkan dirinya. “Saya sudah lama cerai, istri saya sudah nikah lagi,” kata Wawan saat dikonfirmasi, Senin (6/4/2020).

Yang dilakukan Wawan, tentunya bukan karena tidak takut dengan virus corona. Ibaratnya, orang dewasa saja, sangat dianjurkan untuk mematuhi aturan dengan tetap di rumah, kecuali ada hal mendesak, boleh keluar rumah dengan perlengkapan pakaian, dari mulai masker, jaket, dan tetap menjaga jarak, juga hindari kerumunan. Tentu bagi Wawan ini kondisi sangat berat, bekerja di luar rumah sambil membawa putrinya. Sangat rentan terpapar virus, apalagi ketika anak ini lelah. Namun, situasi dan kondisi Wawan yang sempit ekonomi, mendorong dirinya untuk berbuat nekat. 

Apa yang dirasakan Wawan tentu banyak dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Karena mereka sadar, jika tidak memaksakan bekerja, siapa yang akan memberi makan mereka. Tidak ada perhatian dari penguasa terkait nasib mereka. Karena masyarakat diperintahkan untuk mengurus dan membiayai sendiri. Walaupun ada sebagian orang kaya di negeri ini yang berbagi rezeki, tetapi tidak mungkin mampu menyisir setiap warga yang tidak mampu. Inilah lagi-lagi abainya penguasa terhadap rakyatnya. Terlebih dengan menerapkan sistem yang bukan dari Islam, maka kasus-kasus yang demikian akan terus terulang.

Dalam kepemimpinan Islam, beginilah cara meriayah umat di tengah pandemi. 

Di samping lockdown, yang diberlakukan. Maka, khalifah pun akan segera memerintahkan pembuatan posko untuk menyalurkan bantuan terutama makanan, minuman, obat-obatan dan perlengkapan di tengah wabah semisal masker dan pakaian pelindung diri. Lockdown itu tidak membutuhkan waktu lama, cukup 14 hari tetapi serentak, dan rakyat tidak perlu memikirkan bagaimana mencari nafkah untuk keluarganya. Karena penguasa telah menyiapkan segalanya, mengambil dari sumber daya alam atau para aghnia yang mendermakan hartanya dikumpulkan di baitul mal, kemudian dikelola negara untuk rakyatnya. Hingga masyarakat akan disiplin dengan aturan lockdown, tidak akan ada kasus-kasus sejenis yang dialami wawan. Tidak akan ada air mata kepedihan, terhimpit situasi dan kondisi, hingga nyawa taruhannya.

Kemudian dari sisi penanganan wabahnya, Rasulullah saw. telah mencontohkan, ketika itu, Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda :

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

" Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta." (HR. Al-Bukhari)

Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda :

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

"Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Al-Bukhari)

Pada zaman Rasulullah saw. jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit tha’un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan :

أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ. فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ‏ ‏إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه‏.

Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari sahabat Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Al-Bukhari)

Riwayat ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah. Menurut Imam al-Waqidi saat terjadi wabah tha’un yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25.000 jiwa lebih. Bahkan di antara para sahabat ada yang terkena wabah ini. Mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.

Allah telah memerintahkan kepada setiap manusia agar hidup sehat. Contoh, diawali dengan makanan. Allah Swt. telah berfirman :

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا

" Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian." (QS. an-Nahl : 114).

Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang sesungguhnya tidak layak dimakan, seperti kelelawar, tarantula, bahkan kecoa. Allah Swt.  berfirman :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan". (QS. al-A’raf : 31)

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. Untuk itulah Rasulullah saw. pun senang berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan lingkungannya.

Namun demikian, penguasa pun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Para penguasa muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., sebagaimana riwayat di atas, telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ

"Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat)." (HR. Abu Dawud)

Dengan demikian, baik wabah dan mengkondisikan masyarakat di tengah lockdown pun bisa tuntas. Masyarakat teriayah dengan baik.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top