Oleh : Dra. Rivanti Muslimawaty, M.Ag
Dosen di Bandung

Dalam kondisi wabah Covid-19 saat ini, para nakes maupun korban virus corona memerlukan obat-obatan maupun alat kesehatan, seperti ventilator maupun APD (Alat Pelindung Diri), dalam jumlah yang banyak. Semua ini diperlukan agar para korban corona bisa sembuh dan para nakes yang merawatnya tidak terpapar virus. Untuk memenuhi kebutuhan ini maka negara harus bersegera menyediakannya. Hanya saja, ternyata negara menghadapi kesulitan untuk mewujudkannya. 

Staf khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, menjelaskan secara gamblang bagaimana ada oknum-oknum perusahaan sektor kesehatan yang mencari keuntungan di tengah kesempitan situasi.(Tribunnews.com, 19/4/20).

Dikutip dari YouTube Kompastv, Sabtu (18/4/2020), Arya bercerita bagaimana sejak awal, Menteri BUMN Erick Thohir, telah memiliki rencana untuk memastikan Indonesia mampu swadaya sektor kesehatan, karena 90 persen bahan di sektor tersebut seluruhnya adalah barang impor.

Paparan yang disampaikan di atas menjadi salah satu bukti (lagi) bahwa dominasi kapitalisme membuat korporasi global menekan pemerintah  negeri ini dalam kebijakan ekonominya. Pemerintah tidak berdaya untuk merancang sendiri apa dan bagaimana yang harus direncanakan dan dijalankan, khusunya dalam sektor kesehatan. Hal ini menunjukkan keberhasilan kafir penjajah mengangkat 'penguasa boneka' dari kalangan umat Islam yang tunduk patuh pada keinginan mereka. Para penguasa ini selalu bersedia menaati apapun perintah mereka dan sanggup menjaga stabilitas kepentingan mereka di negeri ini.

Padahal Indonesia memiliki SDM yang mumpuni, yang dapat membuat alat-alat kesehatan seperti ventilator yang saat ini sangat dibutuhkan, seperti yang dibuktikan oleh UI dan ITB. Selain itu, Indonesia pun memiliki pakar-pakar kesehatan yang saat ini masih terus berupaya keras membuat obat penyembuh Covid-19.

Negeri ini membutuhkan pemerintahan yang mandiri, yang lepas dari tekanan asing maupun aseng. Pemerintahan yang seperti ini hanya dapat terbentuk bila berdasarkan Islam, yaitu dalam bentuk khilafah Islam, yang akan menjalankan syari’at Islam secara kaffah, utuh dan menyeluruh. Dalam sejarah panjangnya selama 13 abad, terbukti bahwa negara khilafah adalah negara mandiri, yang justru malah menjadi mercu suar dan tumpuan negara-negara lain di luar khilafah. Khilafah menjadi tempat negara lain mencari bantuan, baik materil maupun non materil.

Dalam sejarah kaum muslim, tercatat bahwa Khilafah pernah menggelontorkan bantuan pada rakyat Kristen Irlandia saat terjadi The Great Famine (Wabah Kelaparan Besar) atau Irish Potato Famine (Kelaparan Kentang di Irlandia), antara tahun 1845-1852, dengan menawarkan bantuan sebesar 10.000 pound. Diplomat Inggris yang ada di Istambul, Welesley, menyarankan khalifah menyumbang setengahnya saja karena Ratu Inggris, Ratu Victoria, hanya menyumbang 2000 pound. Sultan Abdul Majid, yang baru berusia 23 tahun, akhirnya diam-diam mengirimkan lima kapal penuh makanan ke kota Drogheda pada Mei 1847. (republika.co.id, 17/2/2020)
 
Saat ini dunia membutuhkan kepemimpinan yang adil dan steril dari kerakusan kaum kapitalis, karena telah terbukti kapitalisme menimbulkan berbagai penderitaan dan bencana di mana-mana, bahkan juga di Amerika, negara dedengkot kapitalisme. Kezaliman kapitalisme menimpa semua golongan, laki-laki dan perempuan, anak-anak maupun orang tua, bahkan orang miskin serta orang kaya, tidak ada yang luput dari penderitaan yang muncul akibat dari penerapan kapitalisme ini. Sudah saatnya mencampakkan kapitalisme dan kembali pada aturan Islam saja, yang telah terbukti menyelamatkan dan menyejahterakan umat Islam maupun non muslim.

Tidak hanya umat Islam di Indonesia yang butuh khilafah, dunia pun sangat membutuhkan khilafah. Maka mari kembali pada pangkuan Islam, dengan menerapkan syari’at Islam tanpa memilah dan memilih, dalam bingkai  khilafah yang diridhai-Nya, khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah. Mari kita sambut janji Allaah Swt. yang menyatakan,

"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS an-Nuur [24]: 55).

Wallaahu a'lam.
 
Top