Tak terasa bulan sya'ban sudah sampai penghujung. Artinya sebentar lagi bulan ramadhan yang selalu dinanti-nanti akan segera datang. Setiap muslim yang beriman pasti akan menyambut dengan hati yang riang. Pertanda menyambut datangnya Ramadhan biasa nya umat muslim akan saling bermaafan dan saling mengunjungi sanak saudara. Namun, kali ini berbeda umat muslim dilarang untuk saling mengunjungi. Mereka harus tetap diam dirumah.

"Mi, udah H-1 datangnya bulan Ramadhan, tapi suasananya masih sama dengan hari-hari sebelum nya ya mi. Masjid-masjid masih sunyi, kita dilarang saling mengunjungi, bahkan jika kita nekat mudik ke kampung kita akan di adili. Hufft, sedihnya." Adira mengungkapkan isi hatinya kepada uminya.

Hehe... Kita harus tetap bersyukur nak, masih untung kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan ramadhan kali ini. Walaupun kita sedang dilanda wabah Corona yang sudah banyak merenggut nyawa manusia. Masih untung kita masih hidup nak. "Jawab Umi Adira.

Bukan gak bersyukur mi, tapi Dira merasa aneh aja liat masjid-masjid sunyi saat Ramadhan. Apa lagi kita gak mudik untuk lebaran kali ini. Kan sedih mi!

Nak, ini yang namanya ujian dari Allah. Kita harus sabar dan juga mau patuh dengan aturan yang berlaku. Kalau kita sebagai umat muslim masih saja ngotot shalat tarawih jama'ah saat wabah Corona, kalau kita tertular virus Corona berarti kita menambah beban bagi semua orang."

Adira masih duduk di bangku kelas 5 SD. Namun berkat didikan orangtua nya yang mendidik dengan landasan Islam, Adira tumbuh menjadi anak yang Solehah, pintar dan taat menjalankan perintah agama.

Keesokan harinya, pada puasa pertama tiba-tiba Adira menangis dikamarnya. Mengetahui hal itu, umi nya menyusul kekamarnya.

"Nak, kamu kenapa nangis? Kamu cerita sama umi ya!

Dira sedih mi, hari-hari ramadhan Adira bakalan terisi dengan kesunyian dan kesepian dan gak optimal beribadah kepada Allah mi. Biasanya Adira ikut pesantren ramadhan disekolah. Ngaji dan sholat duha bareng dengan teman-teman. Malamnya diisi dengan tarawehan di masjid sambil dengar ceramah-ceramah ustadz.

"Masya Allah anak umi l pintar sekali. Ternyata Dira menangis karena merasa gak optimal ibadah di bulan ramadhan ya nak?
Iya mi." Adira melanjutkan tangisnya.

Nak, meskipun Adira gak bisa ngaji bareng teman-teman disekolah, Adira juga bisa ngaji bareng sama umi dan Abi dirumah. Juga bisa sholat jama'ah sama Abi dan umi seperti biasa. Adira juga bisa nonton-nonton ceramah di YouTube dirumah dan baca-baca buku islami. Selain Adira mau bantu umi dirumah, itu juga ladang pahala untuk Adira. Jadi meskipun dirumah aja, kita masih tetap bisa melakukan amalan Sholeh dengan optimal nak. Kita jadikan aktivitas dirumah sebagai ladang pahala juga ya nak."

Iya mi, terimakasih ya mi, udah beri nasehat sama Dira.

Iya sayang, Dira jangan lupa berdo'a sama Allah ya. Do'akan wabah Corona cepat diangkat oleh Allah. Karena Allah adalah sebaik-baik penolong. Dan do'a adalah senjatanya kaum muslim."

Adira menghentikan tangisnya dan bersegera menjalankan sholat duha bersama uminya. Dan menjalankan amalan-amalan Soleh dengan bersemangat walaupun dirumah aja.

Tangisan Adira adalah tangisan yang membuat hati umi yang memilikinya menjadi bangga. Karena sejatinya setiap orang tua pasti menginginkan dan mendo'akan anaknya menjadi Soleh dan Solehah. Keinginan memiliki anak yang Solehah tentu harus mendidik anak dengan ajaran yang berlandaskan Islam.
 
Top