Oleh : Eviyanti
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif


Di tengah desakan publik agar pemerintah lebih tegas dalam mengendalikan sebaran virus Covid-19 dengan kebijakan karantina wilayah. Maka, adanya pernyataan Luhut bahwa virus Covid-19 akan mereda ketika masuk musim kemarau/panas mendapat kecaman publik. Seperti yang di lansir oleh Republika.co.id, Kamis (3/4), Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan bahwa, posisi Indonesia lebih menguntungkan karena memiliki cuaca panas. Kondisi tersebut membuat virus Covid-19 semakin lemah, namun harus didukung dengan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan mudik. "Tapi kalau jaga jarak tidak dilakukan, itu (kondisi cuaca Indonesia yang menguntungkan) juga tidak berarti. Sekarang ini tinggal tergantung kita. Kita yang mau bagaimana", jelas Luhut.

Pernyataan ini dibenarkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengatakan, dari kajian sejumlah ahli menyebut terdapat pengaruh cuaca dan iklim terhadap tumbuh kembang virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19. (Republika, 4/4/2020)

Sebelumnya ada wacana pemberlakuan PSBB, untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 oleh pemerintah pusat. PSBB adalah singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar, Peraturan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 agar bisa segera dilaksanakan di berbagai daerah.

Bila ditelaah lebih jauh, adanya pernyataan ini dan dengan diputuskannya kebijakan PSBB, membuktikan bahwa tujuan utama penyelesaian pandemi ini adalah herd immunity, yakni terbentuknya kekebalan kelompok setelah sejumlah orang terinfeksi oleh virus itu. Artinya, virus tersebut akan dibiarkan menjangkiti masyarakat, dan dengan sendirinya akan terbentuk kekebalan tubuh. Dengan begitu virus tak akan mampu menyerang manusia kembali.

Herd immunity akan bisa menghasilkan antibody secara alami. Tak butuh banyak biaya bila dibandingkan dengan kebijakan karantina wilayah. Sebagaimana prinsip ekonomi kapitalis, dengan pertimbangan untung dan rugi, perekonomian jalan atau tidak, mereka rela mengorbankan nyawa jutaan rakyat.

Kebijakan pemerintah dengan tidak mengambil tindakan lockdown, merupakan bukti lepas tangan pemerintah dalam mengurusi urusan rakyatnya. Pemerintah kapitalis gagal menjadi pelindung keselamatan jiwa rakyat. Ketika penguasa dan kekuasaan tidak bisa menjalankan tanggung jawabnya, yang menjadi korban bukan hanya rakyat biasa, tetapi mereka penguasa juga akan menjadi korban dari kebijakkannya.

Di sinilah, Islam mengajarkan pentingnya kepemimpinan harus mempunyai level yang dibutuhkan. Maka, Islam menggariskan minimal harus cerdas, tidak boleh kurang. Lebih hebat lagi, kalau inspiratif (mulhim), bahkan kreatif dan inovatif (mub di')

Islam menjadikan negara sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi rakyatnya dan berupaya meminimalisasi korban yang berjatuhan akibat wabah seperti saat ini. Ketika telah diketahui ada wabah yang menyerang, negara akan langsung menyatakan daerah itu diisolasi, sehingga wabah tersebut tidak akan keluar daerah.

Rasulullah saw bersabda: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu".

Inilah Islam dengan negaranya khilafah yang mampu melaksanakan tugasnya sebagai pelindung dan pengayom atau pelayan rakyat dengan mengambil kebijakan yang tegas dan tepat.
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top