Oleh : Siti Aisah, S.Pd
Guru dan Muslimah Subang


Siapa yang tidak mengenal Sosok al-faruq ini. Umar bin Khattab ra., Sahabat Rasulullah yang dikenal berkepribadian keras kepada kaum musyrikin, serta kepada para penentang Allah dan Rasulullah. Beliau sendiri didoakan khusus keislamannya oleh Rasulullah saw. Bergabungnya dengan Islam membawa dampak perubahan begitu besar di kalangan masyarakat Quraisy saat itu. Al-faruq sendiri berarti pembeda. Gelar ini disematkan Rasulullah kepada Umar disebabkan, beliau menjadi pembeda antara haq dan batil. Beliau pun jadi sosok tangan kanan Rasulullah setelah Abu Bakar.

Sosok al-Faruq kini banyak dinantikan, apalagi di saat kondisi wabah pandemi yang menyerang hampir seluruh masyarakat dunia. Krisis pun bagai sunatullah yang tidak bisa dihindari lagi kedatangannya. Indonesia pun tak ayal mendapat dampak ekonomi yang luar biasa atas kasus pandemik ini. berbagai negara pun mengalami hal yang sama. Namun, kebijakan dalam menangani wabah ini yang berbeda-beda.

Tersebutlah Cina, Italia, Arab Saudi yang membuat kebijakan Lockdown bagi warganya. Namun, kebijakan ini tidak berlaku di Indonesia walaupun telah didesak oleh rakyat. Berbagai pertimbangan pemerintah untuk menopang ekonomi rakyat di tengah wabah terus digencarkan. Salah satunya pemerintah berencana mengeluarkan beberapa kebijakan yaitu akan memberikan insentif senilai Rp3 juta kepada korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor formal di tengah penyebaran virus corona (Covid-19). Syaratnya, karyawan tersebut terdaftar sebagai peserta BP Jamsostek. (CNN Indonesia.com, 24/03/2020)

Tak hanya itu, dokter dan paramedis yang bertugas di rumah sakit khusus Corona atau Covid-19 diberi intensif sebagai apresiasi karena mereka menjadi orang terdepan melawan Corona. Pemkab Subang mulai dari RSUD Subang hingga Puskesmas bakal menerima insentif di luar gaji dan tunjangan. Menurut pemaparan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Subang, dr. Nunung Suhaeri, selama tiga bulan ke depan. insentif  untuk dokter dan paramedis diusulkan Rp8 Miliar. Dan untuk paramedis di seluruh Puskesmas sebesar Rp7 Miliaran.  (lampusatu.com, 01/04/2020)

Selain itu kebenaran merelaksasi kredit rakyat selama 1 tahun, lalu penambahan jumlah tunjangan PKH (Program Keluarga Harapan) dan Bansos (Bantuan Sosial) sembako sebesar 50 rb/bulan, pemberian tunjangan 800rb/bulan selama 3 bulan kepada para pedagang kaki lima atau pengemudi ojol, korban PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan penerima kartu Prakerja dan pengurangan PPH untuk pekerja bergaji besar adalah beberapa kebijakan rencana untuk mengatur ekonomi di tengah pandemi ini.

Insentif yang diberikan dan beberapa kebijakan ekonomi yang direncanakan ternyata tidak terlalu mendongkrak ekonomi rakyat apalagi mengatasi dampak wabah secara ekonomi. Karena, bukan hanya sebagian kecil rakyat yang menjadi sasaran program, namun juga seabrek prasyarat berbelit yang memungkinkan banyak rakyat tidak akan memanfaatkan. Apalagi belum ada dukungan penuh dari pihak lain (misalnya perbankan) supaya membuat program tambal sulam ini, lebih bernilai pencitraan dibanding memberi solusi. Rencana kebijakan ini seperti tambal sulam rezim kapitalis yang nyata gagal memberi solusi pemenuhan kebutuhan.

Kisah Mengharukan Khalifah Umar saat krisis ekonomi, beliau diberi hadiah roti dengan campuran mentega. Sebelum memakannya, al-Faruq mengajak seorang dari suku Badui untuk makan bersama. Seketika itu pula orang Badui melahap roti berlemak itu, dan berkata Khalifah Umar kepada dia, “Sepertinya kau membutuhkan roti berlemak itu." Selanjutnya Badui menjawab, “Benar. Saya tidak makan mentega dan minyak. Saya juga tidak pernah melihat orang memakannya sejak lama hingga hari ini.” Mendengar perkataan itu, al-Faruq lalu bersumpah untuk tidak merasakan daging dan mentega hingga orang-orang sejahtera.

Sungguh pernyataan ini sangat langka diucapkan oleh para stakeholder pemangku kebijakan saat ini. Apalagi yang diterapkan adalah kebijakan neoliberal yang berorientasi hanya pada pencitraan demi mempertahankan kursi serta adanya ketakutan akan bergulingnya kekuasaan. Lantas, tanggung jawab apa yang harus dipikul negara secara langsung maupun tidak langsung.

Kisah lainnya tentang al-Faruq ini adalah bahwa beliau telah membangun suatu rumah yang diberi nama , “daar al-daaqiq" (rumah tepung) antara Makkah dan Syam. Di dalam rumah itu tersedia berbagai macam jenis tepung, kurma, dan barang-barang kebutuhan lainnya. Tujuannya tiada lain hanya untuk menolong orang-orang yang singgah dalam perjalanan dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang perlu sampai kebutuhannya terpenuhi.

Jika negara ketika masa pandemik ini memang sudah tidak mempunyai kas lagi untuk rakyatnya yang kekurangan, maka kewajiban ini beralih ke seluruh umat Islam yang mempunyai kelebihan harta. Berkata Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya, Al-Muhalla (4/281) “Orang-orang kaya di tempatnya masing-masing mempunyai kewajiban menolong orang-orang fakir dan miskin, dan pemerintah pada saat itu berhak memaksa orang-orang kaya (untuk menolong fakir-miskin)."

Dengan sikap inilah Umar akan mengetahui  betul tentang bagaimana sengsaranya beban yang diderita oleh rakyatnya. Sehingga itu, ia bersungguh-sungguh memeras otak dan banting tulang mencari solusi yang tepat lagi cepat dalam mengatasi krisis ekonomi yang ada. Namun sayangnya, Adakah rezim-rezim saat ini, khususnya di Indonesia, bersikap seperti ini ketika ada krisis? WalLâhua’lam bi ash-shawâb.
 
Top