Oleh : Adisa NF
Member AMK

Setiap saat selalu aku didoakan
Pagi siang sore dan malam
Agar menjadi anak shalih nan sopan
Hingga bertemu bulan kesembilan

Pagi yang sangat cerah
Burung kecil berkicau indah
Matahari tersenyum lembut
Menyingkap awan yang berkabut

Ibu... Dialah penerang bagi setiap anak yang terlahir di dunia. Selain ayah, ibu adalah orang pertama yang banyak berjuang dan berkorban untuk anak-anaknya. Waktu, pikiran, tenaga yang mengalir begitu saja tanpa dihitung berapa banyak yang telah beliau keluarkan. Mulai mengandung hingga anak dewasa, cinta dan kasih sayang yang tulus tetap ada, tak kan pernah binasa.

Saat ini, peran ibu kurang dirindu, apalagi adanya serangan kaum feminis yang menentang berbagai konsep peran ibu dan terus menggiring agar ibu tak lagi membersamai anak-anaknya selalu. Peran ibu banyak tergantikan dengan kehadiran pembantu yang sengaja diupah untuk merawat dan menjaga buah hatinya.

Jika para ibu memahami arti hidup dalam menjalankan amanah dari Rabbnya, pastilah dia akan mengutamakan bagaimana anak yang ia lahirkan berkembang dalam kebaikan. Tak tergoyah dengan berbagai tawaran yang menggiurkan. Mulai dari jabatan, karir hingga kedudukan tinggi yang didamkan. Ibu pasti akan memilih yang terbaik untuk anak-anaknya meski harus menguras fisik dan pikiran. Karena takut apa yang Allah Swt. kabarkan dalam berbagai firman-Nya,

"Dan hendaklah takut kepada Allah Swt., orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (an-Nisaa':9)

Demikian juga dalam hadis berikut,

"Setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang telah dipercayakan kepadanya. Dan seorang ayah bertanggungjawab atas kehidupan keluarganya. Dan seorang ibu bertanggungjawab atas harta dan anak suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya." (HR. Bukhari Muslim)

Betapa besarnya perhatian Islam terhadap ibu agar melakukan pendidikan bertahap terhadap anak termasuk dalam pendidikan. Mulai dalam kandungan, saat lahir hingga tumbuh dewasa. Bagaimana Islam memerintahkan untuk memperdengarkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri merupakan pendidikan awal agar yang didengar anak pertama kali adalah kalimat tauhid. Rasulullah saw. bersabda:

"Barang siapa diberi anak yang baru lahir, kemudian ia menyuarakan azan pada telinga kanannya dan qamat pada telinga kirinya, maka anak yang baru lahir itu tidak akan terkena bahaya." (HR. al-Baihaqi)

Selain itu, Islam memerintahkan agar orang tuanya memberikan nama yang baik kepada anaknya, karena nama akan mempengaruhi harga diri seseorang. Secara psikologis nama akan berpengaruh pada konsep diri anak yang selanjutnya berpengaruh pula pada perasaan anak tentang dirinya.

Ketika anak usia 0-7 tahun atau disebut usia dini adalah periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh  proses pendidikan. Karena itu, anak sangat membutuhkan pemeliharaan dan kasih sayang seorang ibu. Ketika anak mulai belajar berbicara, peranan ibu menjadi sangat vital. Sebab bahasa yang  dikenal oleh anak adalah bahasa ibu.

Pada anak usia enam tahun, Islam memberi tuntutan agar anak diajarkan adab sopan santun untuk membentuk akhlakul karimah sang anak. Rasulullah bersabda,

"Apabila anak telah mencapai enam tahun, maka hendaklah diajarkan adab sopan santun." (HR.Ibnu Hiban)

Saat usia anak tujuh sampai sepuluh  tahun, Islam mengajarkan agar anak diberikan nasihat yang islami dan dikenalkan kewajiban-kewajibannya sebagai muslim. Jika dibutuhkan, kenalkan pula sanksi dalam Islam. Sabda Rasulullah saw.:

"Suruhlah anakmu mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah pada usia sepuluh tahun bila mereka tidak shalat, pisahkanlah tempat tidur mereka." (HR. Al Hakim dan Abu Daud)

Demikian agung dan mulianya aturan Islam, memberikan posisi terbaik kepada perempuan. Berbeda jauh sekali dengan kaum feminis yang sengaja menyeret kaum perempuan pada jurang kehancuran. Mereka menuntut agar perempuan sejajar dengan laki-laki. Lebih dikenal dengan sebutan perempuan yang menuntut kesetaraan gender. Memiliki posisi tidak boleh berbeda antara perempuan dan laki-laki dari segi manapun. Serta sengaja mencetak perempuan agar menjadi pekerja. Menggiring perempuan berbondong-bondong ke luar rumah.

Belum lagi kebijakan pemerintah yang mendorong terjadinya pengabaian peran ibu. Angka partisipasi ibu kerja di luar rumah, kebijakan jam kerja yang sama dengan laki-laki, cuti pasca melahirkan yang pendek, dan masih banyak lagi yang membuat perempuan "dipaksa" meninggalkan perannya. Bukan lagi menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga (ummu wa rabbatul bayt), yang merupakan tugas mulia dan utama bagi seorang ibu.

Itulah, mengapa perempuan dalam sistem aturan Islam diberikan porsi besar nan mulia. Karena besar dan pentingnya peran ibu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu sebagai pendidik pertama dan utama harus dikembalikan. Ibu yang berkualitas sangat dibutuhkan dalam mendidik anak-anaknya seperti memiliki akidah yang kuat, kesadaran bahwa anak adalah aset umat, memahami konsep pendidikan anak, dan lain-lain.

Saatnya para ibu rindu berperan kembali sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sehingga tercapai tujuan sempurna yakni mampu melahirkan dan mencetak generasi kuat, sehat dan berpendidikan cemerlang. Inilah generasi dambaan umat, aset umat dan penerus estafet perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabat dan para khalifah setelahnya, yang senantiasa menjaga dan melindungi kaum perempuan dengan menerapkan  hukum Islam secara kafah dalam bingkai Daulah Khilafah Rasyidah yang kedua. Dialah pemimpin, perisai dan pelindung bagi umat. Insya Allah sebentar lagi akan tegak. Aamiin Allahumma Aamiin. Wallahu a'lam bishawab. [anf]
 
Top