Oleh : Mariyah Zawawi
 Member AMK

Bagian 1
Wuhan, Awal dari Sebuah Cerita

Akhir Desember 2019, di media sosial mulai bermunculan postingan tentang penyakit baru di Wuhan. Penyakit yang disebabkan oleh virus itu dibawa oleh kelelawar. Virus itu kemudian diberi nama Covid-19 (Corona Virus Disease 19). Diberi angka 19, karena virus itu muncul di tahun 2019.
Postingan-postingan itu menggambarkan keganasan virus corona. Virus yang menyebar melalui droplet itu menyerang banyak warga Wuhan. Virus itu menyebar dengan cepatnya. Penyebarannya yang begitu cepat membuat rumah sakit dan tenaga kesehatan di sana kewalahan. Akibatnya, banyak pasien yang tidak tertolong.

Foto-foto dan video yang memuat mayat-mayat bergelimpangan di jalanan pun memenuhi beranda media sosial. Di Facebook, WhatsApp, Instagram, dan Twitter, serta di media-media daring, mulai banyak yang membahas virus ini.

Ketika melihat postingan-postingan itu, saya hanya mengucap istighfar. Saat itu, saya berpikir bahwa penyakit itu hanya ada di Wuhan, jauh dari Indonesia. Saya tidak berpikir bahwa virus itu akan menyerang warga negara  +62.

Peristiwa itu membuat saya ingin tahu tentang Wuhan. Kota yang masih asing di telinga saya. Maka, saya pun mencarinya di media daring.

Wuhan adalah ibu kota provinsi Hubei, Tiongkok. Kota ini merupakan kota yang terpadat di pusat Tiongkok. Penduduknya berjumlah 9.100.000 jiwa (2006). Kota ini juga telah memiliki jalur metro yang menghubungkan beberapa tempat di wilayah kota Hankou.

Kota yang memilih plum mekar sebagai bunga resminya ini merupakan gabungan dari tiga kota di dekatnya. Yaitu, kota Wuchang, Hanyang, dan Hankou. Ketiga kota yang terletak di lembah Sungai Yangtze ini membentuk satu daerah sub-provinsi. Mungkin, kalau di Indonesia semacam karesidenan.

Nama "Wuhan" adalah sebuah portmanteau* dari dua kota besar yang ada di bagian utara dan selatan Sungai Yangtze yang membentuk metropolitan Wuhan. "Wu" merujuk pada nama kota Wuchang yang berada di tepi sungai bagian selatan, sedangkan "Han" diambil dari nama Kota Hankou , yang terletak di utara.
Wuhan pernah menjadi ibu kota pemerintah Kuomintang  pada tahun 1920-an, dan dipimpin oleh Wang Jingwei yang menjadi lawan dari Chiang Kai-shek.

Rantai penularan virus Covid-19 diyakini berawal di Wuhan. Di Wuhan terdapat Pasar Grosir Makanan Laut Huanan yang memiliki bagian penjualan hewan liar. Di tempat ini dijual berbagai binatang liar, di antaranya musang, anak serigala, ular, tikus bambu, dan landak. Membiakkan dan menjual hewan liar memang digalakkan di China.  Hal ini sebagai bagian penting dari pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan. Berdasarkan laporan  dari Akademi Teknik China (2017), industri peternakan satwa liar mencapai 520 miliar yuan (US$74 miliar).
Setelah terjadi wabah, pasar hewan itu ditutup sejak Januari lalu. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan telah menyerukan agar pasar basah yang menjual hewan atau satwa liar seperti di Wuhan dan daerah lain di Cina ditutup secara permanen. Negara-negara lain yang memiliki pasar sejenis pun diserukan melakukan hal serupa. PBB menyebut hal itu perlu dilakukan guna mencegah munculnya kembali pandemi pada masa mendatang.

Mungkin, hal ini akan sulit dilakukan, mengingat budaya yang telah mengakar di kalangan masyarakat di sana. Membiakkan dan memperdagangkan satwa liar telah menjadi  mata pencaharian mereka. Mereka juga telah menjadikan satwa liar ini sebagai salah satu bahan pangan serta obat. Jika penutupan permanen itu dilakukan, akan banyak orang yang kehilangan mata pencaharian. Hal ini dikhawatirkan akan memunculkan kemiskinan baru.

Namun, akar dari masalah sulitnya penutupan permanen pasar satwa liar itu ada pada cara berpikir mereka. Sebab, mereka telah menjadikan manfaat sebagai asas bagi setiap perbuatan mereka. Maka, segala yang bermanfaat dalam kacamata mereka, akan mereka ambil. Tidak ada pertimbangan halal dan haram. Bagi mereka, kebahagiaan hanyalah terpenuhinya kebutuhan fisik mereka.
Akan berbeda halnya, jika mereka menggunakan standar halal haram. Sebab, mereka akan menjalankan segala yang wajib dan meninggalkan segala yang haram. Maka, tidak akan ada jual beli satwa liar yang diharamkan. Apalagi, mengonsumsinya dan menjadikannya menu kuliner andalan. Mereka memahami bahwa semua yang haram hanya akan membawa kemudaratan bagi mereka. Maka, mereka akan dengan senang hati meninggalkannya. Mereka yakin, bahwa tuntunan dari Allah terkait halal haram itu akan membawa kemaslahatan bagi mereka. Hati mereka pun menjadi tenang. Sebab, aturan yang  mereka jalankan adalah aturan yang sesuai dengan fitrah manusia. Aturan yang berasal dari Sang Pencipta, Al-Khaliq Al-Mudabbir. Wallaahu a'lam.

*portmanteau : gabungan dari dua kata atau lebih yang membentuk kata baru

Sumber rujukan:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Wuhan
https://m.republika.co.id/berita/q8p9a9440/akhir-lockdown-di-wuhan-dan-asal-usul-virus-corona
https://www.matamatapolitik.com/membongkar-deretan-mitos-pasar-basah-wuhan-analisis/
 
Top