Oleh : Irianti Aminatun
Pengamat Kebijakan Publik


Wabah corona telah membuat dunia menderita. Dikutip pada laman tribunnews.com Palu per 11 April 2020, ada 210 negara terinfeksi dengan 1,6 juta kasus. Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah pasien terbanyak saat ini yaitu 495.802 positif corona, 18.430 pasien dinyatakan meninggal. Di urutan kedua Spanyol, ada 157.053 dengan kematian 15.970. Italia 147.577 kasus, kematian 18.849. Perancis 124.869, kematian 13.197. Jerman 121.045 kematian 2728, China 81.907 kasus, kematian 3336. Itulah 6 negara penyumbang pengidap positif covid-19 terbesar di dunia.

Sistem kesehatan negara-negara tersebut benar-benar rapuh melawan wabah. Dinyatakan dalam laman washingtonpost.com, “Wabah virus corona yang sedang merebak di Amerika Serikat sedang menelanjangi kesenjangan yang serius pada kemampuan sistem kesehatan untuk merespon epidemi.”

Sementara itu Italia, sistem kesehatan berbasis asuransi kesehatan wajib (Universal Health Coverage) yang dinilai terbaik, kondisinya juga sama buruknya. Dinyatakan dalam laman nytimes.com, “Seorang wali kota di Italia mengeluhkan bahwa para dokter memutuskan tidak merawat pasien yang sangat tua, dan membiarkan mereka mati.”

Di Indonesia tidak jauh berbeda. Bahkan dalam banyak hal kondisinya jauh lebih buruk, tampak dari tingkat kematian penderita positif covid-19 yang melebihi rata-rata dunia. Di berbagai daerah banyak rumah sakit yang kekurangan APD, kekurangan ruang isolasi dan kekurangan peralatan medis, dan lain-lain.

Covid-19 telah membukakan mata betapa lemahnya manusia di hadapan Allah Swt. Virus super mungil ini terbukti telah membuat 7,75 milyar manusia di seluruh dunia panik tidak berdaya. Padahal saat ini manusia telah mencapai titik puncak teknologi mutakhir 4.0.

Tak hanya itu, wabah ini juga menegaskan bahwa peradaban yang dibangun di atas fondasi sekularisme, yang menyingkirkan eksistensi Allah Swt. justru berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan nyawa umat manusia.

Jika ditelaah lebih mendalam kondisi buruk ini lahir dari penerapan ideologi Kapitalisme sebagai unsur utama pembentuk sistem kesehatannya. Kondisi buruk itu terjadi mulai dari aspek fungsi negara yang hanya sebagai regulator bagi kepentingan korporasi, pengadaan sumber daya manusia kesehatan dengan sistem pendidikan sekuler, model pembiayaan berbasis asuransi, politik riset dan industri kapitalisme, serta pengadaan infrastruktur kesehatan .

Keburukan sistem itu telah melahirkan bencana, kekacauan politik dan kekacauan ekonomi. Kantor berita al-Jazeera (4/4/2020) mengutip pernyataan  serigala politik Amerika dan Mantan Menteri Luar Negeri, Henry Kissinger, dalam sebuah artikel di Wall Street Journal, bahwa pandemi corona akan mengubah sistem global selamanya. Kissinger menjelaskan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh pandemi virus corona baru mungkin bersifat sementara. Akan tetapi kekacauan politik dan ekonomi yang disebabkannya dapat berlanjut selama beberapa generasi.

Melihat keburukan sistem sekuler terpampang di depan mata, sudah seharusnya musibah covid-19 ini dijadikan bahan renungan oleh para penguasa dunia, untuk mengevaluasi sistem kenegaraan yang selama ini diterapkan, dan mencari sistem terbaik untuk menyelesaikan seluruh persoalan hidup demi kesejahteraan rakyat.

Tak ada yang lebih berharga di dunia ini, kecuali petunjuk yang datang dari Dzat Pemilik bumi seisinya, yaitu petunjuk Islam. Allah Swt. perancang petunjuk itu, telah mengutus manusia yang paling mulia yaitu Rasulullah Muhammad saw. untuk memberikan tauladan kepada manusia bagaimana mengaplikasikan petunjuk tersebut.

Sistem kesehatan Islam sebagaimana sistem kehidupan Islam secara keseluruhan dipersiapkan oleh Allah Swt. sebagai penyelamat kehidupan umat manusia dalam kondisi apa pun, saat terjadi wabah maupun tidak.

Sistem kesehatan Islam dibangun di atas konsep dan paradigma sahih, di samping didukung oleh keseluruhan sistem kehidupan berupa pelaksanaan syariat Islam secara kafah dalam bingkai khilafah. Hal ini menjadi kunci rahasia kekokohannya sebagai pelindung kesehatan dan nyawa manusia dalam kondisi apa pun.

Sistem politik Islam dan sistem ekonomi Islam merupakan unsur utama pembentuk sistem kesehatan Islam. Konsep tersebut mewujud dalam fungsi negara sebagai raa’in – pemelihara urusan umat – dan junnah (pelindung dari segala kerusakan). Juga dari aspek pengadaan sumber daya manusia di bidang kesehatan dengan konsep pendidikan Islam serta aspek model pembiayaan kesehatan yang bersifat mutlak dengan berbasis baitul mal, politik riset, industri, serta pengadaan infrastruktur kesehatan.

Semua konsep Islam ini benar-benar mendukung paradigma sahihnya pelayanan kesehatan dan keselamatan jiwa manusia.

Sejarah telah mencatat bagaimana kemampuan Islam menghadapi aneka wabah. Ada pemimpin yang terpercaya, karena seiringnya antara kata dan perbuatan, dan kehidupan pribadinya sederhana. Maka, ketika pemimpin itu memerintahkan rakyatnya untuk mentaati syariat semisal lockdown, rakyat mematuhinya.

Negara menjamin logistik warga yang dikarantina. Negara juga memotivasi warga untuk saling berlomba dalam kebaikan ke tetangganya juga dipatuhi. Karena warga melihat pemerintahnya tidak berpangku tangan saja, apalagi meremehkan bencana atau sibuk urusan lain yang bukan prioritas warga.

Pemimpin ini tak henti pada ikhtiar dunia. Namun, juga senantiasa menasihati rakyatnya untuk muhasabah. Boleh jadi banyak dosa-dosa selama ini, sehingga Allah menurunkan wabah untuk menguji siapa yang akan membersihkan dirinya. Wabah juga diatasi dengan ikhtiar langit, dengan sabar, tawakal dan doa.

Saat itu, para ilmuwan juga tak mau ketinggalan. Mereka menggunakan berbagai ilmu yang dimilki untuk mengatasi bencana. Mereka berlomba dengan konglomerat yang menyulap istananya menjadi rumah sakit, atau pedagang besar yang menyedekahkan seluruh barang dagangannya untuk meringankan beban warga.

Ada dokter yang mengembangkan vaksin. Ada insinyur yang memperbaiki sumber air dan sanitasi. Dan ada juga ahli geografi yang menyumbangkan kontribusi berupa peta.

Itulah sekelumit fakta sejarah peradaban Islam. Sejarah itu  akan berulang insyaallah dalam waktu dekat dengan izin Allah, untuk menggantikan Peradaban sekuler yang rusak dan merusak. 

“JIka sekiranyapenduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. al-A’raf [7]:96)

Wallahu a’lam bishshwab.
 
Top