Oleh Yuli Mariyam.

Ramadhan adalah bulan yang dinantikan kaum muslimin. Dimana dijanjikan oleh Allah akan terbukanya pintu-pintu surga dan tertutupnya pintu-pintu neraka, setan-setan akan dibelenggu dan amal sholih akan dilipat gandakan pahala di sisi-Nya. Kaum muslimin akan berlomba-lomba meningkatkan ketakwaan dan semakin mendekatkan diri kepada Rabbnya, berharap ampunan atas segala salah dan khilaf selama setahun berlalu.

Ramadhan berhiaskan lantunan ayat-ayat suci Alquran yang akan di baca di tiap-tiap masjid dan mushollah di malam dan paginya, sore hari akan ada banyak orang menyebar takjil gratis dijalanan sebagai tanda syukur atas kelebihan rejeki yang mereka punya, mereka yakin dengan sabda nabi tentang keutamaan orang-orang yang memberi makanan walau sesuap atau minuman walau seteguk kepada orang yang berpuasa akan mendapatkan keberkahan pahala seperti yang menjalankan puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa.

Namun, Ramadhan kali ini dipastikan tak seindah ramadhan sebelumnya, kita ketahui saat ini wabah covid 19 atau penyebaran virus corona yang memakan banyak korban semakin meluas, dari penduduk sipil para pejabat bahkan para pahlawan garda terdepan yakni paramedis juga tak luput dari ancaman inveksi. Berbagai macam tindakan pencegahan dilakukan di berbagai lapisan masyarakat sampai skala dunia, dari himbauan sering-sering cuci tangan, social distancing, work at home, karantina wilayah sampai pembatasan sosial berskala besar atau PSBB, Hal ini tentu berdampak pada penyambutan bulan Ramadhan, selain tak ada lagi arak-arakan targhib Ramadhan, Ramadhan kali inipun diwarnai dengan perbedaan penentuan 1 Ramadhan 1441 H, dimana sebagian negeri muslim dunia menyatakan 1 Ramaghan jatuh pada Kamis 23 April 2020 berdasarkan rukyatul hilal dan yang lainnya menentukan Jumat 24 April 2020, Serasa lengkap sudah kegelisahan kaum muslimin tanpa adanya Kholifah, pemimpin institusi islam yang menyatukan seluruh kaum muslimin seluruh dunia.

Namun begitu, perbedaan tidak akan mengurangi kesempatan untuk berlomba-lomba meraih ketaatan disisi Allah, ramadhan dirumah saja membuat ladang pahala tak berkurang sedikitpun, kajian online tetap bisa di lakukan, menghadapi wabah dengan berpuasa akan terasa lebih mudah karena puasa sebagiannya adalah sabar, sedang ditengah wabah kita harus banyak-banyak bersabar, mengingat kondisi ekonomi dunia semakin merosot dan dunia kesehatan yang semakin menakutkan, mengingatkan kita akan dekatnya kematian hendaklah menjadi penyemangat untuk senantiasa teguh dalam menjalankan kewajiban seorang hamba, perbanyak beribadah dan semoga kita mendapat kemuliaan ramadhan dengan berlalunya wabah. Aamiiin yaa robbal 'alamiiin.
Wallahu a'lam bishowab
 
Top