Oleh : Ati Solihati, S.TP
Komunitas Revowriter


  Ramadan adalah bulan penuh berkah dan kemuliaan. Bulan yang senantiasa ditunggu oleh seluruh kaum muslimin sedunia. Bahkan kita dianjurkan, dalam 11 bulan sebelumnya, melakukan berbagai persiapan terbaiknya, untuk menyambut kedatangan bulan suci ini. Untuk memantaskan diri agar dapat beroleh segenap kemuliaan yang Allah janjikan bagi setiap orang yang memuliakan bulan berkah ini. 

    Baginda Rasulullah saw., sejak bulan Sya’ban telah mengingatkan para sahabat tentang kemuliaan bulan ini.  Agar para sahabat dapat mempersembahkan persiapan terbaik untuk menyambutnya.  

Sabda Rasulullah saw. :

“Wahai manusia, sungguh telah dekat kepada kalian. Bulan yang agung lagi penuh berkah. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah telah menjadikan puasa di dalamnya sebagai kewajiban dan bangun malam sebagai sunah.  Barang siapa yang mendekatkan diri di dalamnya dengan melakukan amalan sunah, maka seperti orang yang melakukan amalan wajib pada bulan lainnya. Dan barangsiapa yang melakukan amalan wajib di dalamnya, maka seperti orang yang melakukan tujuh puluh amalan wajib pada bulan lainnya.  Ia merupakan bulan kesabaran, sedangkan pahala sabar adalah surga. Dan bulan saat rezeki orang mukmin akan ditambahkan.  Barang siapa pada bulan tersebut memberi (makanan/minuman) untuk  berbuka kepada orang yang berpuasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya dan pembebasan bagi dirinya dari api neraka, serta baginya pahala yang sama dengan pahala orang yang diberi (makanan/minuman) tersebut dengan tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Baihaqi)

Namun Ramadan tahun ini, sungguh terasa “istimewa”.  Pasti hal ini dirasakan sama oleh seluruh kaum muslimin sedunia. Hampir seluruh penghuni bumi saat ini sedang bergelut menghadapi wabah yang sama, Covid-19.  Tidak terkecuali seluruh kaum muslimin. Kita katakan “istimewa”, karena wabah yang dipandang buruk oleh seisi bumi saat ini, bisa jadi mengandung kebaikan dalam pandangan Allah.  Sekalipun kita melalui bulan suci Ramadan saat ini dengan rasa yang berbeda dibandingkan Ramadan sebelumnya, namun semoga kita tidak lupa untuk tetap memberikan persembahan yang terbaik. Seraya berharap Allah berkenan menerimanya sebagai amalan yang sangat istimewa, lebih istimewa dari persembahan kita pada Ramadan-Ramadan sebelumnya. Karena kita memberikan persembahan terbaik di tengah rasa khawatir terkena wabah. Di tengah rasa khawatir karena semakin sulitnya pemenuhan kebutuhan hidup. Di tengah ketidaknyamanan karena berkurangnya ruang gerak dan interaksi kita.  

Allah Swt. berfirman :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al Baqarah : 155)

Jadi sejatinya, wabah yang sedang dihadapi oleh seluruh umat manusia saat ini, dan segala akibat turunannya adalah merupakan ujian dari Allah Swt. Dan tidak ada sikap yang paling tepat dalam pandangan Allah dalam menghadapinya, kecuali sabar. Jika kita bersabar, maka Allah akan memberikan suatu kabar gembira kepada kita. Tentu saja kabar gembira yang dapat kita rasakan di dunia, insyaallah salah satunya adalah berakhirnya wabah ini. Dan kabar gembira yang dapat dinikmati di akhirat kelak, yaitu surga dengan segala kenikmatannya.  Aamiin.

  Sabar, secara makna bahasa adalah menahan. Sedangkan secara makna istilah adalah menahan diri dari segala macam kesulitan, kesedihan, dan dari segala sesuatu yang tidak disukai. Dan tingkat sabar yang paling tinggi adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Allah berfirman : 

“Tuhan yang menguasai langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Maryam : 65)

  Dengan demikian, sekalipun Ramadan saat ini harus kita lalui di tengah wabah, maka kita harus berupaya keras agar tidak mengurangi keberkahan yang dapat kita raih di dalamnya. Kita bersabar di dalam menghadapi wabah, dengan menyempurnakan ikhtiar kita agar kita terhindar dari wabah.  Kita bersabar dengan segala kesulitan yang muncul yang diakibatkan terjadinya wabah ini.  Dengan tetap menyempurnakan ikhtiar kita. Kita tetap bersabar dalam beribadah dan beramal saleh, dan selalu mengupayakan kesempurnaan amalan. Terlebih lagi di bulan dilipatgandakannya pahala amalan.

Satu hal yang tidak boleh lupa, bertaubat.  Kita bermuhasabah.  Bisa jadi wabah ini Allah izinkan hadir ke dunia ini dikarenakan kezaliman kita kepada-Nya. Syariat Allah tidak diterapkan. Sistem kehidupan Islam tidak ditegakkan. Bahkan banyak pihak yang terus membuat makar untuk memadamkan cahaya agama Allah.  Mengkriminalkan ajaran Islam dan para pengembannya. 

    Maka bagi kita, kaum muslimin,  di bulan yang mulia ini. Mari kita jadikan momen untuk bertaubat kepada Allah. Memohon ampun akan segala dosa-dosa kita. Memohon ampun akan segala kezaliman kita. Memohon ampun akan sikap lemah kita dalam menghadapi musuh-musuh Allah.  Dan berazam untuk meningkatkan daya juang kita dalam perjuangan meninggikan kalimat Allah di muka bumi ini. Dalam perjuangan menegakkan Sistem kehidupan Islam, yang akan menerapkan syariat Islam secara kafah di muka bumi ini. Sehingga tujuan keberlangsungan kehidupan Islam pun dapat terwujud.

     Semoga dengan taubat nasuha kita semua, serta semakin kokohnya azam perjuangan kita dalam menolong agama Allah, dapat mengetuk belas kasihan Sang Maha Pengasih, untuk mencabut wabah ini. Dan seluruh kaum muslimin khususnya, dapat kembali menjalani kehidupannya seperti sedia kala, akan tetapi dengan tingkat keimanan dan ketaatan yang lebih tinggi dan lebih baik.  Aamiin. Allaahumma aamiin.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top