Oleh : Sri Ariyati
Pemerhati Umat

Banyak sudah catatan pelaksanaan tugas polisi di negeri ini. Setelah kasus Suyono di Jawa yang menggegerkan rakyat beberapa tahun lalu. Kini terjadi kasus Qidam al-Fariski di Poso.

Seorang Pemuda berusia 22 tahun diberitakan wafat dengan kondisi mengenaskan. Ada luka tusuk, luka sayatan di kaki kiri sampai kemaluan dan luka tembak dengan leher patah. Mirisnya, anak ini diduga teroris. (Kiblat.net 12/04/2020)

Padahal dalam penerapan hukum, polisi perlu melakukan pembuktian dan dilarang main hakim sendiri. Sebagaimana kasus yang menimpa Saiful penjual jus di Tanjung Balai. Sumut. Saiful ditembak mati tanpa bukti. Tuduhan polisi ia adalah anggota teroris. (Heta.News)

Menurut pernyataan dari pihak keluarga. Keluarga Qidam pun menolak semua tuduhan polisi terhadap Qidam al-Fariski sebagai kelompok Ali Kalora (Kelompok Mujahidin Indonesia Timur) dan menuntut keadilan seadil-adilnya. Anehnya ide teroris selalu dijadikan topik menuding Islam dan bersikap barbar kepada umat Islam. Tercium aroma Islamophobia yang kembali digencarkan rezim. Agar kaum muslimin anti dengan keislamannya.

Wahai aparat kepolisian serta densus 88 negeri ini. Lebih bijaklah dalam memilih sikap untuk mengamankan kondisi negeri. Terlebih menyangkut tuduhan tanpa bukti yang terulang kembali. Karena membunuh nyawa seseorang tanpa jalan yang benar adalah termasuk dosa besar dan sebuah kezaliman yang tidak dibenarkan.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam (QS. an-Nisa: 93)

"Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah jahannam. Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya." Wallahu'alam bi ash-shawwab
 
Top