Oleh : Rati Suharjo 
Pegiat Dakwah dan Member Akademi Menulis Kreatif

Bagaikan banjir bandang secara tiba-tiba. Sulit untuk menahan kecuali minggir di tepi untuk menyelamatkan. Perumpamaan ini menggambarkan kondisi negeri yang dikelinglingi virus Corona atau covid-19 saat ini. Hampir di seluruh kota bahkan pelosok rakyat terjangkit virus Corona.Tidak mengenal usia baik muda maupun tua.

Korban setiap hari terus meningkat. Rakyat menjerit, tenaga medis terseok-seok baik pikiran maupun tenaga. Seluruh masyarakat Indonesia dipenuhi dengan rasa ketakutan.

Rasa takut tersebut membuat rakyat, tenaga medis ,MUI bahkan sampai kepala daerah menyuarakan lockdown kepada presiden Jokowi. Namun permintaan tersebut ditolak dengan alasan bahwa
Covid-19 seperti musibah bencana alam yang akan menganggu ketertiban dan keamanan wilayah yang sulit  diatasi atau seperti pemberontak yang menyerang wilayah.

Dilansir oleh Radar Bogor, 6/4/2020 bahwa peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2020 tentang pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), disahkan dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus ( Covid-19).

Kebijakan PSBB tersebut menunjukkan bahwa pemerintah hanya memerintahkan agar rakyat berdiam diri di rumah. Jalan perbatasan tidak dijaga dengan ketat. Rakyat pun masih dibebaskan asalkan tidak melakukan kegiatan perkumpulan seperti hajatan, karnaval, pawai maupun aksi. Namun kebutuhan dasar mereka, pemerintah lepas. Yang terjadi justru pemerintah mengumumkan kepada rakyat "Bagi siapa yang mau donasi kepada pemerintah dipersilakan".

Berbeda ketika pemerintah melakukan kebijakan lockdown. Secara otomatis semua aktivitas tutup. Perbatasan wilayah dijaga dengan ketat dan pemerintah memenuhi kebutuhan dasar. Baik rakyatnya maupun hewan piaraannya.

Inilah yang membuat pemerintah bertele-tele mengeluarkan kebijakan untuk menangani virus tersebut. Akhirnya dalam dua pekan korban virus Corona berjatuhan.

Namun anehnya pemerintah justru mengejar pembangunan ibukota baru di Kalimantan Timur. Hal ini disampaikan oleh Joso Marsudi juru bicara Luhut Binsar Pandjaitan , bahwa Luhut telah pergi ke Kalimantan Timur untuk mempersiapkan pembangunan ibukota. (Tempo.com, 25/3/2020)

Adapun dana yang dianggarkannya mencapai 466 Triliun. Dana 466 Triliun tersebut 19% dari APBN dan sisanya dari para investor baik domestik maupun aseng. (Detik news,16/9/2020)

Padahal Jika pemerintah lebih peduli kepada rakyat, dana tersebut dapat dialokasikan ke lockdown.
Namun hal ini sulit dilakukan, justru pemerintah lepas tangan dari tanggung jawabnya melindungi rakyatnya dari kesehatan.

Sistem demokrasi tidak memihak kepada rakyat.Namun justru melindungi dan memihak kepada kapitalis yang nyata telah membuat negeri ini dalam biang masalah baik kemiskinan, kesehatan, dan kesejahteraan. Bahkan negeri ini ada 70 UU yang memihak kepada kapitalis.
Rakyat hanya dibutuhkan jika ada dua masalah yaitu pemilu dan pajak.

Ketika pemilu mereka dermawan terhadap rakyat sebab tujuanya untuk meraih kursi kekuasaan. Segala cara dikorbankan agar suara rakyat bisa diperoleh. Segala janji diobral demi meyakinkan bahwa rakyat akan disejahterakan. Namun setelah mendapat kursi kekuasaan mereka lupa segalanya. Persaingan antar partai jelas kelihatan di depan rakyat.

Selain pemilu adalah pajak. Sebab pajak menjadi modal dasar negara kapitalis. Tanpa pajak negara demokrasi tidak bisa berdiri tegak untuk menjalankan ekonomi negara. Akhirnya bukannya rakyat disejahterakan, yang terjadi justru memberi beban kepada rakyat.

Untuk itu masalah virus Corona ini menjadi pelajaran bagi umat manusia. Butuh sosok pemimpin yang melayani rakyat dalam segala macam persoalan. Baik perlindungan keamanan, dan kesejahteraan yang lain.

Dalam Islam pemimpin atau khilafah tujuan dalam berpolitik adalah melayani urusan umat. Kebijakan lockdown pun  telah diajarkan oleh Rasulullah sejak ribuan tahun silam. Dalam  hadis Rasulullah saw. menjelaskan,

"Jangan kamu melihat terus menerus orang yang mengidap penyakit kusta."
(HR.Bukhari)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa ketika suatu wilayah terserang penyakit menular dan mematikan. Maka Rasulullah memerintahkan kepada umatnya agar jangan mendekati wilayah tersebut. Bagi yang terserang penyakit tidak boleh keluar dari wilayah tersebut. Sehingga daerah yang lain bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Akhirnya tidak menganggu ekonomi negara.

Sahabat yang sedang dilockdown segala kebutuhan akan dilayani oleh negara. sehingga mereka akan konsentrasi dengan penyakit dan beribadah dengan tenang.

Setelah Rasulullah meninggal diteruskan oleh para khalifah. Salah satunya khalifah Umar bin Khatab. Dalam shirahnya diceritakan bahwa Khalifah Umar bin al-Khatab sangat perhatian terhadap urusan kebutuhan dasar rakyat dan hewan.

Pada waktu itu  Umar bin Khatab mengumumkan "Jika ada seekor  unta yang mati di pinggir sungai Eufrat. Saya takut hal itu Allah akan meminta pertanggung jawaban di akhirat kelak."

Hal ini menunjukan betapa perhatiannya sistem Islam dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Jangankan rakyat yang kelaparan, seekor hewan mati pun di perhatikan.

Dalam melayani kebutuhan dasar. Seperti pangan, Umar bin al-Khatab jalan di tengah malam bersama Aslam pergi ke gurun ditengah. Pada saat itu Umar dan Aslam mendengar anak menangis di Gubuk yang tua.

Kemudian Umar bin al-Khatab dan Aslam masuk ke dalam rumah. Dengan meminta ijin kepada Ibu anak-anak tersebut. Namun ibu itu hanya mempersilahkan masuk dan perhatiannya kepada tungku yang dimasak.

Umar pun bertanya kepada ibu tersebut. "Ibu kenapa anak-anak menangis?" Ibu itu menjawab, "Anak-anak saya lapar. Maka aku menghiburnya dengan memasak, berharap anak-anak akan kecapekan menangis dan tertidur." Namun setelah ditunggu lama oleh Umar dan Aslam masakannya tidak selesai juga. Akhirnya Umar mendekat dan melihat apa yang dimasak oleh Ibu tersebut. Ternyata yang dilihat adalah batu. Umar bertanya kepada ibu. "Kenapa batu yang di masak?" "Iya tidak ada yang aku masak." Jawab ibu tersebut.

Mendengar perkataan  perempuan itu Umar pun menangis. Ditambah perempuan itu marah dengan mengatakan 'ini adalah zalimnya Khalifah Umar'.

Untuk itu Umar pun pergi ke Madinah dan mengambil sekarung gandum untuk diberikan kepada perempuan tersebut. Aslam ingin membantu memikul karung tersebut. Namun Umar justru marah dan Umar merasa berdosa karena telah melalaikan janda tersebut.

Beginilah sikap khalifah terhadap umatnya. Landasan yang diterapkan adalah iman dan takwa. Bukan materi seperti sistem demokrasi. Dengan dorongan akidah khalifah berharap sebelum aku kenyang maka biarkan rakyat yang kenyang duluan, namun sebaliknya sebelum rakyatnya kelaparan biarlah aku yang lapar duluan.

Untuk itu, rasa ketakutan terhadap kelaparan dan kesehatan bisa dilewati. Ketika ada wabah penyakit rakyat diarahkan untuk bersabar sebab semua itu adalah ujian dari Allah Swt. Waallu a'lam bishawab.
 
Top