Oleh : Sri Astuti Am.Keb
Pegiat Literasi

Begitu banyak kulihat...
Raga tanpa nyawa...
Kau ambil meraka tua dan muda...
Bencana kian meraja...
Datang tak menyapa...
Manusia sembunyi dalam atapnya...
Tak sedikit airmata...
Tak sebab Allah yang tega...
Kita yang salah dalam menata dunia...

Sebuah lirik lagu dari grup Sabyan menggambarkan kepiluan kondisi di tengah wabah Covid-19.

Sebuah takdir Allah yang disebabkan oleh ulah tangan manusia, menjadi sebuah peringatan untuk seluruh dunia bahwa alam semesta, kehidupan dan manusia ada yang menciptakan.

Menyadarkan manusia sebagai makhluk yang terbatas dan lemah, tidak ada yang pantas disombongkan di dunia.
Miris, setiap harinya korban Covid-19 terus bertambah bukan lagi puluhan jumlahnya tetapi sudah ratusan. Bahkan tenaga kesehatan merasakan kelelahan yang teramat sangat. Sudah puluhan dokter yang turut menjadi korban keganasan virus Corona.

Dilansir oleh CNN Indonesia (7/4/2020) bahwa update pasien virus Corona bertambah sebanyak 218 orang, total pasien Covid-19 sejumlah 2.956 orang. Korban meninggal bertambah menjadi 240 orang dan 220 orang dinyatakan sembuh.

Dalam upaya menangani pandemi mencegah penyebaran virus Corona, pemerintah pusat mengambil satu langkah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Aturan pelaksanaan PSBB diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar. Selain itu aturan mengenai PSBB juga diatur dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat.
Bersamaan dengan itu pemerintah telah mempersiapkan enam jaring pengaman sosial, guna menekan dampak Covid-19 pada lapisan masyarakat ekonomi rendah.

Di antaranya pertama, Program Keluarga Harapan (PKH) dinaikkan sebesar 25% yang awalnya jumlah penerima 9,2 juta menjadi 10 juta.

Kedua, kartu sembako naik 33% dengan jumlah awal penerima hanya 15,2 juta menjadi 20 juta.

Ketiga, kartu pra-kerja dianggarkan dari 10 triliun menjadi 20 triliun.

Keempat, tarif listrik sejumlah 24 juta pelanggan listri 450 VA dibebaskan dari tagihan listrik dan 7 juta pelanggan listrik 900 VA bersubsidi mendapatkan potongan tarif sebesar 50%, berlaku untuk tagihan bulan April hingga Juni.

Kelima, dana kebutuhan pokok dengan mencadangkan dana stabilisasi harga pangan ditambah 25 triliun.

Keenam, keringanan pembayaran kredit bagi para pekerja informal, misalnya ojek online, sopir taksi, nelayan, dan para pelaku UMKM berpenghasilan harian dengan kredit di bawah Rp 10 miliar, mulai April 2020.

Jaring pengamanan sosial telah disusun dengan rapih. Sayangnya,  pihak tertentu yang meragukan kebijakan tersebut efektif atau tidak. Bahkan, ada yang menilai bahwa kebijakan tersebut merupakan tindakan berlepas tangan pemerintah terhadap pengurusan rakyat.

Penyaluran jaring pengamanan sosial pun sampai saat ini belum bisa dipastikan oleh pemerintah, karena terkendala pekerja informal yang terkena dampak pandemi Covid-19.

Berbagai janji yang diberikan oleh pemerintah tampaknya jangan terlalu diharapkan, berdasarkan pernyataan menteri justru pertumbuhan ekonomi akan ambruk diterjang virus Corona.
Mirisnya, negara tidak ada dana untuk bisa dalam menanggulangi virus Corona. Itu terbukti, dibukanya rekening donasi oleh pemerintah untuk pencegahan dan membantu penanganan Covid-19.

Dalam hal ini membuktikan jika negara berlepas tangan dari kewajibannya dalam melayani rakyat, anggaran yang seharusnya dipergunakan untuk penanganan Covid-19 namun tidak jelas di mana keberadaannya.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan negara yang senantiasa menjadikan pengurusan rakyat menjadi prioritas utama. Pemimpin negara hadir menjadi pelindung dan pelayan rakyat.
Terlebih dalam situasi wabah saat ini, kebijakan yang diambil jangan sampai berdampak buruk bagi kelangsungan hidup rakyat apalagi nyawa taruhannya. Islam adalah agama yang paripurna, di dalamnya terdapat aturan yang jelas dan tegas bagi kehidupan manusia.

Sebagaimana ketika menghadapi wabah, pemerintah dengan cepat dan tanggap dalam menanganinya. Jelas bagaimana kebijakan lockdown syar'i menjadi solusi dalam Islam dan itu terbukti sangat efektif demi kebaikan hidup rakyat.

Dalam Islam menghilangkan nyawa manusia tanpa dasar yang jelas adalah perbuatasn keji, nyawa dalam Islam sangat berharga. Bahkan lebih berharga dari dunia, baik nyawa seorang muslim maupun kafir.

Sebagaimana hadis Rasulullah Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih
ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani)

Hanya dengan sistem khilafah maka syariat Islam bisa diterapkan secara kafah dalam kehidupan manusia.
 
Top