Oleh : Imayanti Wijaya
Ibu Rumah Tangga


Tersebut kisah seekor tikus lapar yang terjebak di lumbung padi milik tuannya. Tak sedikit pun celah ia temukan untuk bisa keluar dari tempat itu. Padahal tempatnya bak surga yang bisa membuatnya kenyang dan tidak kelaparan lagi. Tapi apalah daya, sang tuan yang begitu kikir menjaga padinya dengan begitu ketatnya, daripada membaginya dengan sang tikus, ia lebih memilih menjualnya pada tengkulak. Akhirnya tikus lapar pun tetap  mati walau berada di lumbung padi.

Seperti itu kiranya gambaran rakyat saat ini, yang tengah berada dalam kondisi serba salah. Keluar takut wabah, tak keluar mereka butuh nafkah. Padahal negeri yang mereka tempati gemah Ripah loh jinawi, kekayaan alam melimpah ruah tak tertandingi. Semestinya mampu menjadi solusi atas segala permasalahan yang terjadi.

Namun faktanya, orang-orang yang merasa memiliki negeri ini lebih memilih menjualnya pada cukong-cukong asing daripada menggunakan untuk kepentingan rakyatnya. Kondisi wabah yang ada saat ini menuntut rakyat untuk di rumah saja demi memutus rantai penyebaran virus. Namun faktanya hal itu tidak bisa dilakukan  karena tuntutan kebutuhan hidup, sehingga masyarakat harus terpaksa keluar mencari nafkah. Baru-baru ini penguasa dan jajarannya mulai menerapkan Pembatasan. sosial Berskala Besar (PSBB), namun hal ini dinilai begitu terlambat karena nyatanya virus telah menyebar dengan begitu cepat.

Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) dr Pandu Riono mengatakan  bahwa jika PSBB tersebut diterapkan sejak satu bulan lalu saat virus Corona muncul di Indonesia, pada bulan Mei 2020 pandemi virus tersebut akan mereda. Penyebaran ini semakin diperparah dengan diterapkannya kebijakan bekerja di rumah (work at home), sementara fakta menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa bekerja di rumah. Pandu mengkritik kebijakan yang ditetapkan tersebut yang menganggap seolah seluruh warga Indonesia adalah pekerja kantoran, demikian. Ungkapnya saat on air di Radio PRFM 107,5 News Channel, Jumat (10/4/2020)

Lebih lanjut dr Pandu menyatakan bahwa cara terbaik saat kondisi vaksin dan rumah sakit terbatas adalah dengan membatasi pergerakan  orang yang berpotensi menularkan virus Corona. Walau terlambat, PSBB  penting dilakukan dan bisa diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia.

Nampaknya banyak pertimbangan yang membuat penguasa negeri ini seolah begitu galau dan gagap menyikapi kasus wabah Corona. Penyebab utama yang jelas terlihat adalah diakibatkan oleh buruknya kualitas kepemimpinan, patahnya kondisi keuangan negara dan ketergantungan terhadap asing. Namun lagi-lagi alasan kepentingan rakyat banyak diungkap sebagai alasan tidak dilakukannya lockdown, sang penguasa negeri menganggap  bahwa resikonya terlalu besar jika dilakukan lockdown. Perekonomian akan terhenti  dan menyebabkan penderitaan rakyat. Minimnya edukasi dan informasi membuat sikap yang diambil oleh rakyat pun beragam. Sosialisasi protokol kesehatan yang dinilai lamban semakin menghambat langkah pencegahan. Masyarakat masih harus keluar semi mencukupi kebutuhan hidupnya, bahkan tidak sedikit yang masih berkeliaran diluar rumah karena kebodohan. Berbagai aktivitas yang dirumahkan baik sekolah maupun pekerjaan justru digunakan untuk jalan-jalan dan liburan ke luar negeri, sementara mall, bioskop dan warnet masih ramai dikunjungi tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Inilah ironi negeri penganut kapitalis, pengayoman penguasa terhadap rakyatnya tak lebih seperti penjual dengan pembeli. Sekalipun kekayaan alam negeri melimpah ruah tapi rakyat harus puas dan mencukupkan diri dalam segala keterbatasan. Jika ingin dapat sesuatu yang lebih, maka ia harus merogoh kantong lebih dalam untuk memenuhinya. Penguasa lebih cenderung menjual aset rakyat kepada asing daripada digunakan untuk memenuhi kesejahteraan rakyatnya.

Fakta kepemimpinan di negeri kapitalis ini sangat jelas berbeda dengan kondisi negeri saat Islam diterapkan. Syariat Islam telah menetapkan kepemimpinan sebagai amanah  berat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Penguasa adalah pengayom dan penjaga umat, yang harus memperhatikan kebutuhannya dan menjamin kesejahteraannya. Kondisi seperti ini nampak jelas pada saat sistem Islam berjaya selama belasan abad lamanya. Sistem Islam menempatkan amanah kepemimpinan selaras dengan misi penciptaan manusia dan alam semesta, yang tercermin dengan diterapkannya aturan Allah di seluruh aspek kehidupan. Penguasa akan memenuhi kebutuhan  rakyatnya tanpa harus bergantung pada bantuan asing.

Terlebih dalam kondisi saat negara dilanda wabah seperti saat ini, dalam sistem Islam penguasa akan segera mengatasinya dengan menetapkan kebijakan tepat dan komprehensif. Lockdown akan segera diberlakukan tanpa khawatir akan terjadi penolakan karena rakyat merasa tenang atas pengurusan penguasa terhadap mereka. Rakyat tidak harus memikirkan pemenuhan kebutuhan hidup karena semua telah dijamin oleh negara.

Sistem kepemimpinan itulah sistem Khilafah, otoritasnya terbukti kredibel dan kapabel untuk menyelesaikan seluruh permasalahan kehidupan. Dalam sejarah kekayaannya khilafah selalu menjadi tumpuan bagi warga negaranya juga negara-negara lain. Keberadaanya mampu menjadi teladan kepemimpinan dalam menebar kebaikan. Seperti ketika khilafah memberi bantuan pada Irlandia di masa kejayaannya, saat itu Irlandia tengah mengalami bencana. Bantuan yang diberikan oleh khilafah begitu memberi kesan abadi pada rakyat Irlandia hingga simbol khilafah mereka sertakan dalam benderanya. Hal ini sangat jauh berbeda dengan fakta negara penganut sekuler seperti saat ini.

Hal inilah yang membuat kepemimpinan Islam begitu dirindukan, pengayoman penguasa yang takut akan Rabbnya, menyadari sepenuhnya bahwa kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban  kelak di kemudian hari. Dari Ibnu Umar ra. bahwa Nabi saw.  bersabda:
"Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya...." (HR. Bukhari)
Wallahu a'lam bishawwab.
 
Top