Oleh : Eviyanti
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif


Adanya penyebaran covid-19 ini, berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Apa daya, kita tidak pernah menghendaki wabah penyakit ini. Berdasarkan data Kemdikbud, lebih dari 160 pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi mengeluarkan surat edaran KBM di kelas. Siswa dan guru diminta melakukan aktivitas belajar mengajar dari rumah. Belajar jarak jauh pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Untuk ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyediakan aplikasi dan laman Rumah Belajar sebagai sarana pendukung belajar di rumah.

Namun faktanya, proses belajar di rumah penuh dinamika. Mulai dari guru yang memberikan tugas kepada siswa tanpa bimbingan. Biaya yang dikeluarkan untuk internet, karena tidak semua orang tua mampu. Untuk sekedar bisa bertahan di tengah wabah dengan ekonomi sulit seperti sekarang ini pun sudah sangat bersyukur. Dan permasalahan lain adalah masih banyaknya daerah yang belum atau tidak terakses internet, untuk bisa mengikuti pembelajaran secara daring atau online ini.

Seperti yang dilansir oleh Pikiranrakyat.com (06/04/2020), Para siswa SDN Legok Pego, Desa Drawati, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, tidak bisa melakukan pembelajaran daring/online di tengah pandemi seperti saat ini. "Selain kondisi ekonomi masyarakat dari kalangan bawah, sehingga sedikit warga yang memiliki telepon seluler," kata Kepala SDN Legok Pego, Engkos, saat dihubungi, Senin, 6 April 2020. Bukan hanya itu, sinyal telepon di Kp. Legok Pego juga sangat susah. "Di sekolah saja kalau mau dapat sinyal harus lari ke belakang gedung. Kalau kita berada di ruang kelas atau kantor tak ada sinyal sama sekali," katanya.

Fenomena di atas, akhirnya membuat kita bertanya, apakah pembelajaran secara daring/online itu merupakan solusi?

Kondisi masih banyaknya daerah di Indonesia yang belum terakses jaringan telepon juga diakui Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Fiqih. Ia menuturkan, dari 514 Kota/Kabupaten di Indonesia, berdasarkan data yang diperoleh dari penyedia edukasi berbasis online pada RDPU dengan Komisi X beberapa hari lalu, terdapat 176 Kota/Kabupaten yang sudah terakses layanan edutech ini. "Hanya 34,5 % yang terakses, berarti ada 65 % lebih daerah yang belum menjangkau materi-materi pembelajaran yang mereka sediakan," tambah Fikri. Dengan persentase tersebut, dari 43,5 juta pelajar se-Indonesia hanya sekitar 10 juta siswa yang mengakses materi pembelajaran dari platform online. "Ada 33,5 juta siswa yang tidak mendapatkan materi pembelajaran. Pemerintah perlu melakukan terobosan dalam waktu singkat dan cepat supaya mereka terselamatkan," desak Legislator yang pernah menjadi Kepala Sekolah ini.

Ini yang terjadi ketika sistem kapitalis yang berkuasa, membuat suatu kebijakan tidak dicermati dan dipikir baik dan buruknya secara keseluruhan. Dengan menerapkan pembelajaran secara daring/online seperti sekarang ini, nyatanya masih banyak siswa yang tidak terakses.

Namun, sistem Islam mempunyai solusi atas permasalahan ini. Dimana dalam Daulah Islam yakni negara khilafah menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang handal. Maka, keterbatasan guru, siswa, dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisasi. Berbeda dengan kondisi saat ini, masih banyak guru, siswa, dan orang tua yang gagap teknologi komunikasi. Padahal, pembelajaran jarak jauh telah cukup banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Hanya saja, kapitalisme telah membelenggu banyak kalangan dari mengenal dan menggunakan teknologi ini. Baik karena keterbatasan ekonomi untuk memiliki alat (media) dan akses internet, maupun keterbatasan ilmu.

Dalam sejarah, negara khilafah dikenal sebagai negara maju yang menguasai jagad teknologi. Berbagai penemuan teknologi dilakukan oleh kaum muslim. Hal ini, karena Islam mendorong setiap muslim untuk terus belajar dan mengembangkan ilmunya. Negara pun mendukung sepenuhnya.

Belajar di rumah dalam khilafah ditopang oleh perekonomian yang stabil bahkan maju. Dengan kondisi tersebut, negara mampu menopang kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat lockdown. Tak hanya dalam pemenuhan kebutuhan pokok, negara khilafah juga mampu memberikan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran. Negara menyediakan platform pendidikan gratis dan sarana pendukungnya, seperti internet gratis dan media (alat komunikasinya).

Mahasiswa dan para orang tua tak perlu teriak meminta keringanan biaya pendidikan, karena dalam kondisi tidak wabah pun dibiayai oleh negara. Walhasil, semua kebutuhan belajar di rumah tidak ada kendala, karena negara men-support penuh semua kebutuhan tersebut. Yakni, negara yang menerapkan syariat Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top