Oleh : Sumiati 
Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif


Hampir tiga minggu lockdown atau sosial distancing yang terjadi di negeri Indonesia bahkan dunia. Telah berdampak nyata bagi kejiwaan bangsa. Khawatir, takut, panik dan segala macam rasa bercampur-aduk dalam hati masyarakat. Dan yang paling tampak adalah stres yang dirasakan masyarakat. Bahkan banyak di antara masyarakat berbelanja yang berlebihan karena takut jika lockdown total, akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan bahan makanan atau keperluan lainnya. Bagi yang memiliki dananya, tentu saja bisa dilakukan, tetapi untuk yang tidak mampu, masyarakat hanya bisa meratapi nasib dengan terus mengiba kepada Yang Maha Kuasa.

Yang lebih memprihatinkan adalah nakalnya para pengusaha yang menimbun barang dagangan, baik kebutuhan pokok atau pun kebutuhan di tengah wabah seperti masker, ️hand sanitizer dan lain-lain. Hal ini akibat dari abainya penguasa terhadap rakyatnya. Rakyat berjibaku dengan virus dan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga masyarakat memilih untuk mengurusi diri sendiri, walaupun harus merugikan orang lain. Tidak peduli orang lain kelimpungan mencari masker atau sembako, yang penting dia  membeli barang murah, kemudian dijual dengan harga selangit. Seharusnya barang-barang tersebut dikuasai oleh penguasa untuk dibagikan kepada rakyat yang sedang kesulitan. Bukan dikuasai individu yang jahat.

Islam menjelaskan hal yang demikian dengan rinci. Motivasi mencari untung besar terkadang dapat membutakan seseorang untuk melakukan cara-cara yang kurang elok atau dilarang agama dan hukum demi keuntungan. Salah satunya menimbun barang sehingga terjadi kelangkaan dan akhirnya menjualnya saat harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan besar. Rasulullah saw. telah melarang praktik ikhtikar, yaitu secara sengaja menahan atau menimbun (hoarding) barang, khususnya pada saat terjadi kelangkaan barang, dengan tujuan untuk menaikkan harga di kemudian hari. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah orang melakukan ikhtikar itu melainkan berdosa” (HR Muslim Nomor 1605). Hadis lain yaitu “Orang yang mendatangkan barang akan diberi rezeki, dan yang menimbun barang akan dilaknat,” (HR Ibnu majah)....
[30/3 05:33]

Secara umum, kita ️klasifikasikan hukum ikhtikar sebagai berikut :

1. Haram
Keharaman ikhtikar yang disepakati berdasarkan nash, adalah: Barang yang ditimbun terdiri dari bahan makanan pokok negara atau tempat penimbun. Barang dibeli dari pasaran dengan niat menghilangkan dari pasaran sehingga dapat menambah tingginya harga. Penimbunan terjadi melebihi kebutuhan keluarganya.

2. Makruh
Kemakruhan ikhtikar adalah terjadi bilamana: Menimbun tanpa tujuan untuk maksud menghilangkan komoditas dari pasaran. Barang yang ditimbun terdiri atas bahan pokok makanan. Menimbun pada waktu barang itu ada dalam jumlah banyak. Menimbun untuk keperluannya dan keluarganya. 

3. Jaiz
Jaiz atau boleh melakukan ihtik├ór, apabila:  Barang yang ditimbun terdiri atas bahan pokok makanan negara. Menimbun pada waktu lapang. Niat menimbun adalah bukan untuk ️memengaruhi harga di pasaran. Seseorang menyimpan untuk kebutuhannya dan keluarganya. Menimbun di negara yang penduduknya musyrik.

4. Sunnah
Kesunnahan melakukan ️ikhtikar, adalah apabila: Objek yang ditimbun adalah bahan pokok makanan.  Penimbunan dilakukan saat harga barang itu sedang surplus dan murah. Dalam kondisi surplus, barang tidak sedang sangat dibutuhkan masyarakat. Barang akan dikeluarkan kembali sampai ia dibutuhkan. Menimbun dengan niat menjaga kemaslahatan masyarakat.

Sistem/negara wajib menjamin distribusi barang, sehingga barang terus tersedia. Menutup celah bagi para spekulan yang berniat mencari keuntungan sendiri. Ini solusi dalam Islam di dalam Kitab Iqtishady (Syeihk Taqiyyuddin An- Nabhani ).

Kesimpulan singkatnya. Para pengusaha yang memang berniat menimbun barang dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan besar, baik karena memanfaatkan situasi atau tidak, jelas haram. Orang-orang yang rakus dan hidup di zaman kapitalis seperti saat ini yang dipikirkan untung besar ️untuk dirinya, tidak peduli dengan  orang lain yang  menderita. Karena mereka sangat paham dengan teori supply. Kelangkaan barang, sedangkan permintaan tinggi, pasti akan membuat harga melambung, dan karena barangnya memang dibutuhkan. Biasanya berapapun akan dibeli dan para kapital tidak bisa dengan seenaknya mempermainkan harga. 

Dalam Islam, ketika terjadi kelangkaan pangan yang diakibatkan oleh adanya wabah hingga diberlakukan lockdown. Negara hadir untuk menyediakan dan memasoknya dengan mekanisme tertentu, dan memastikan semua warga Daulah tidak kesulitan mendapatkan bahan kebutuhan tersebut. Apalagi bahan kebutuhan pokok akan dijamin ketersediaannya dan distribusinya.

Wallahu a'lam bishshawab
 
Top